Ustadz Encep didampingi Kapolres Sukabumi, saat memberikan keterangan pers nya di Aula Commad Presisi Centre Polres Sukabumi, Senin (04/10/2021). [Foto: Ist]

Polemik Isu Waliyullah, Ini Pernyataan Ustadz Encep Alasan Tidak Memakai Baju

KABUPATEN SUKABUMI
Spread the love

Lingkarpena.id, SUKABUMI – Isu polemik Ustadz Encep, soal tidak memakai baju memberikan jawaban atas pertanyaan para netizen. Hal demikian dari beberapa netizen ingin mengetahui alasan dari sang Ustadz Jenal Mutaqin tersebut.

Pernyataan dilontarkan oleh beberapa netizen melalui pertanyaan di akun media sosial medsos facebook. Pertanyaan itu disampaikan kepada lingkarpena.id agar memberikan keterangan sang ustadz yang diisukan menjadi Wali Allah dan menjadi viral.

Hal yang menjadi pertanyaan warga netizen diberikan jawaban oleh Ustadz Encep yang memiliki nama lengkap Ustadz Jenal Mutaqin itu melalui keterangannya. Jawaban diberikan saat siaran live di salah satu Televisi Nasional pada Minggu 03 Oktober 2021 tayang pukul 07:00 WIB hingga pukul 08:00 Wib.

“Saya tidak memakai baju ke atasan, ini sebuah perintah guru saya. Dan selama saya menjalankan sebuah ritual tidak diperkenankan untuk memakai kain khusus bagian anggota badan atau telanjang dada,” ucap Ustadz Encep dalam penjelasannya.

Baca juga:
Penyebar Voice Note Isukan Wali Allah di Sukabumi, Terancam 6 Tahun Kurungan

Dikatakannya, perlu diketahui juga hal itu ia lakukan demi suatu tujuan yang sedang dijalaninya. Sebab, menurutnya itu merupakan perintah seorang guru yang juga mempunyai Pondok Pesantren di daerah Malang Jawa Timur.

Dalam menjalankan sebuah ritual atau aurat syarat yang diberikan merupakan tidak mengenakan pakaian atas. Ustadz Encep juga menjelaskan, bahwa aurat laki-laki merupakan dari bagian pusar hingga lutut, beda dengan aurat seorang perempuan yang merupakan seluruh anggota badannya adalah aurat.

“Ya, perlu diketahui bahwa aurat laki-laki merupakan dari bagian lutut hingga pusar sesuai dalam kajian ilmu Fiqih. Jika masyarakat menganggap saya tidak hormat atas sikap saya dalam berpakaian itu merupakan bagian dari konsekuensi saya dalam menjalani tujuan ini. Saya sangat memaklumi hal itu,” terangnya.

Sementara itu, Ketua DPC GP Ansor Kecamatan Surade menambahkan, Ustadz memberikan dua jawaban terkait hal tersebut. Pertama jawaban itu diberikan saat live di salah satu Televisi Nasional dan yang kedua saat konferensi pers di Polres Sukabumi.

Baca juga:
Soal Beredar Isu Waliyullah di Surade, Ini Penjelasan Kapolres Sukabumi

“Ya, dalam kitab fiqih Sapinah secara seplisit tidak membahas soal pakaian. Namun, ada juga pembahasan soal sitrul aurat atau aurat manusia dalam hal ini aurat laki-laki. Dalam kitab Sapinah (ilmu fiqih) dijelaskan bahwa aurat laki-laki memiliki bagian yang beda dengan perempuan. Nah, jika ada beda pemandangan dalam hal ini, karena Ustadz Encep sedang memiliki sebuah tujuan atau dalam proses tirakat,” terang Hamdin Al-Murdani, kepada lingkarpena.id, Selasa (05/10/2021).

Dijelaskan Hamdin, perbedaan pandangan dalam soal itu sudah merupakan hal biasa dalam sebuah perjalanan tirakat atau spiritual keilmuan. Ustadz Encep sendiri sudah memberikan ikrar atau pesan kepada keluarga juga para santri di Ponpes Nurul Ikhlas yang ia Pimpin sebelum dirinya menjalani tirakat itu.

“Ya, menurut saya ustadz Encep sudah memenuhi syarat jika mengacu kepada ilmu fiqih. Karena soal fashion itu merupakan budaya berpakaian bukan soal aurat atau lainnya. Hanya saja yang menjadikan ini sebuah polemik voice note yang viral karena penyebutan adanya Wali Allah yang sudah dilantik Nabi Khidir dan Nyi Roro Kidul,” jelasnya.

 

 

Redaksi: lingkarpena.id
Redaktur: Akoy Khoerudin

Tinggalkan Balasan