<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BUDAYA &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<atom:link href="https://lingkarpena.id/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<description>Portal Berita Terpercaya Sumber Literasi Anak Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Jul 2026 12:33:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-ICON-32x32.png</url>
	<title>BUDAYA &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Milad ke-8 Paguyuban Padjadjaran Anyar &#8220;Ngaruwat Lembur&#8221; Perkuat Pelestarian Adat dan Budaya Sunda</title>
		<link>https://lingkarpena.id/milad-ke-8-paguyuban-padjadjaran-anyar-ngaruwat-lembur-perkuat-pelestarian-adat-dan-budaya-sunda/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/milad-ke-8-paguyuban-padjadjaran-anyar-ngaruwat-lembur-perkuat-pelestarian-adat-dan-budaya-sunda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 12:30:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Milad Ke-8]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaruwat Lembur]]></category>
		<category><![CDATA[Paguyuban Padjadjaran Anyar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=68355</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/milad-ke-8-paguyuban-padjadjaran-anyar-ngaruwat-lembur-perkuat-pelestarian-adat-dan-budaya-sunda/" title="Milad ke-8 Paguyuban Padjadjaran Anyar &#8220;Ngaruwat Lembur&#8221; Perkuat Pelestarian Adat dan Budaya Sunda" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Paguyuban Padjadjaran Anyar akan menggelar peringatan Milad ke-8 pada Senin, 27 Juli 2026, bertempat di halaman Sekretariat Paguyuban Padjadjaran Anyar, Jalan Siliwangi No. 157 RT 01/RW 18, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kegiatan yang dijadwalkan dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai tersebut mengusung tema &#8220;Ngaruwat Lembur&#8221; dengan semangat &#8220;Nyucruk Galur, Mapay Laratan, Ngaguar Titinggalan Karuhun Dina Ngamumule Adat, Tradisi, Jeung Budaya.&#8221; Tema ini menjadi wujud komitmen paguyuban dalam menjaga serta melestarikan nilai-nilai adat, tradisi, dan budaya warisan leluhur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam undangan yang diterbitkan DPP Paguyuban Padjadjaran Anyar, panitia mengajak seluruh anggota, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum untuk hadir dan bersama-sama mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya Sunda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain menjadi momentum perayaan hari jadi organisasi, rangkaian acara juga akan dimeriahkan dengan kegiatan Ngobras (Ngobrol Santai Budaya) serta pertunjukan Seni Budaya Tradisi Sunda yang diharapkan mampu menjadi ruang edukasi sekaligus hiburan bagi masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Panitia menyampaikan bahwa kehadiran para tamu undangan akan menjadi kehormatan sekaligus penyemangat bagi Paguyuban Padjadjaran Anyar dalam menjalankan perannya sebagai wadah pelestarian budaya dan nilai-nilai kearifan lokal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melalui peringatan Milad ke-8 ini, Paguyuban Padjadjaran Anyar berharap semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap adat, tradisi, serta budaya Nusantara, khususnya budaya Sunda, terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi penerus.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/milad-ke-8-paguyuban-padjadjaran-anyar-ngaruwat-lembur-perkuat-pelestarian-adat-dan-budaya-sunda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paguyuban Pencak Silat Soroti Ketidakhadiran Pemkot Sukabumi di HUT Dadali Pati</title>
		<link>https://lingkarpena.id/paguyuban-pencak-silat-soroti-ketidakhadiran-pemkot-sukabumi-di-hut-dadali-pati/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/paguyuban-pencak-silat-soroti-ketidakhadiran-pemkot-sukabumi-di-hut-dadali-pati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 11:52:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Juang 45]]></category>
		<category><![CDATA[HUT Ke 9 Dadali Pati]]></category>
		<category><![CDATA[Paguyuban Pencak Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Soroti Ketidakhadiran Walikota]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=68121</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/paguyuban-pencak-silat-soroti-ketidakhadiran-pemkot-sukabumi-di-hut-dadali-pati/" title="Paguyuban Pencak Silat Soroti Ketidakhadiran Pemkot Sukabumi di HUT Dadali Pati" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 Paguyuban Dadali Pati yang dirangkai dengan pagelaran seni tradisi dan budaya di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi, Minggu (19/7/2026), diwarnai kekecewaan dari kalangan pelaku seni budaya. Pasalnya, hingga acara berakhir, tidak terlihat satu pun perwakilan resmi Pemerintah Kota Sukabumi maupun unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang hadir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kegiatan bertajuk &#8220;Minangkala Dadali Pati Ke-9 Bersama Bersaudara Harmoni dalam Keragaman Budaya&#8221; dengan tema &#8220;Ngajaga, Ngaraksa, Ngamumule Seni Tradisi Tur Budaya&#8221; tersebut sejatinya menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus mempererat silaturahmi antarperguruan pencak silat dan komunitas seni.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Koordinator Paguyuban Pencak Silat Kota Sukabumi, Iman Nurjaman, mengaku menyayangkan absennya jajaran pemerintah. Menurutnya, panitia telah melayangkan undangan kepada berbagai unsur pemerintahan, mulai dari Wali Kota, Wakil Wali Kota, DPRD hingga perangkat daerah terkait.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Kami sangat menyayangkan tidak adanya satu pun perwakilan pemerintah yang hadir. Padahal, kehadiran mereka menjadi bentuk penghargaan bagi para pelaku seni budaya yang selama ini konsisten menjaga warisan budaya bangsa,&#8221; ujar Iman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia menilai kehadiran pemerintah dalam kegiatan budaya memiliki makna lebih dari sekadar memenuhi undangan seremonial. Dukungan tersebut dinilai menjadi bukti nyata komitmen pemerintah terhadap pelestarian budaya daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Iman menegaskan, pencak silat bukan hanya cabang olahraga, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, menurutnya, keberlangsungan seni tradisi membutuhkan perhatian dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Pelestarian budaya tidak cukup hanya disampaikan dalam pidato atau slogan. Yang dibutuhkan adalah dukungan nyata melalui perhatian dan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat pelaku budaya,&#8221; katanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain berharap adanya perhatian yang lebih besar, Paguyuban Pencak Silat Kota Sukabumi juga meminta pemerintah membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi komunitas pencak silat dalam pembinaan generasi muda dan pengembangan budaya lokal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai tindak lanjut, pihaknya akan meminta klarifikasi kepada Pemerintah Kota Sukabumi, khususnya Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispora), mengenai alasan ketidakhadiran unsur pemerintah pada kegiatan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Kami ingin mendapatkan penjelasan secara resmi. Harapan kami sederhana, ke depan pemerintah bisa lebih hadir dan memberikan dukungan nyata terhadap kegiatan seni tradisi dan budaya di Kota Sukabumi,&#8221; tegas Iman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia menambahkan, apabila penjelasan yang diterima tidak memuaskan, paguyuban tidak menutup kemungkinan menempuh langkah hukum berupa somasi sebagai bentuk keberatan atas sikap pemerintah yang dinilai kurang memberikan perhatian terhadap agenda pelestarian budaya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/paguyuban-pencak-silat-soroti-ketidakhadiran-pemkot-sukabumi-di-hut-dadali-pati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ruwatan Tetap Dilestarikan di Kampung Budaya Pasir Astana, Sesepuh: Ikhtiar Memohon Keselamatan kepada Allah</title>
		<link>https://lingkarpena.id/ruwatan-tetap-dilestarikan-di-kampung-budaya-pasir-astana-sesepuh-ikhtiar-memohon-keselamatan-kepada-allah/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/ruwatan-tetap-dilestarikan-di-kampung-budaya-pasir-astana-sesepuh-ikhtiar-memohon-keselamatan-kepada-allah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2026 13:14:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Pasir Astana]]></category>
		<category><![CDATA[Pelestarian Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ruwatan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sirnaresmi Gunungguruh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=68088</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/ruwatan-tetap-dilestarikan-di-kampung-budaya-pasir-astana-sesepuh-ikhtiar-memohon-keselamatan-kepada-allah/" title="Ruwatan Tetap Dilestarikan di Kampung Budaya Pasir Astana, Sesepuh: Ikhtiar Memohon Keselamatan kepada Allah" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Tradisi ruwatan atau rajah masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap kegiatan yang digelar di Kampung Budaya Pasir Astana, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Bagi masyarakat adat setempat, ritual tersebut merupakan warisan leluhur yang dimaknai sebagai ikhtiar memanjatkan doa kepada Allah SWT agar seluruh rangkaian kegiatan diberikan keselamatan, kelancaran, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesepuh Kampung Budaya Pasir Astana, Uloh Saepuloh, mengatakan setiap agenda di kampung budaya selalu diawali dengan prosesi ruwatan. Menurutnya, pelaksanaan tradisi itu bukan untuk mengubah takdir, melainkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar kegiatan berjalan dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Kami mengawali setiap kegiatan dengan ruwatan sebagai bentuk doa dan ikhtiar. Harapannya, atas izin Allah SWT, semua proses diberikan kelancaran, keselamatan, dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Keyakinan kami tetap hanya kepada Allah SWT,&#8221; ujar Uloh usai menghadiri pelantikan Pengurus SMSI Sukabumi Raya, Sabtu (18/7/2026).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia menjelaskan, tradisi serupa sebenarnya tidak hanya dikenal di Kampung Budaya Pasir Astana. Di sejumlah daerah, masyarakat juga memiliki ritual doa bersama, seperti pada momentum Rebo Wekasan, yang bertujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai bencana dan musibah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meski demikian, Uloh menegaskan bahwa ruwatan tidak boleh dimaknai sebagai jaminan seseorang akan terbebas dari cobaan. Baginya, keselamatan sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, sedangkan ruwatan hanyalah bagian dari ikhtiar sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Ruwatan bukan penentu nasib seseorang. Semua yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Tradisi ini kami jalankan sebagai ikhtiar dan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur,&#8221; katanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Uloh, tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur yang berasal dari kawasan Gunung Gede. Amanah itu terus dipertahankan sebagai identitas budaya masyarakat Kampung Budaya Pasir Astana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Warisan ini sudah ada sejak zaman leluhur kami. Tugas kami sekarang adalah menjaga dan meneruskannya agar tidak hilang ditelan zaman,&#8221; ucapnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Uloh juga menegaskan bahwa pelaksanaan ruwatan tidak pernah disertai unsur paksaan. Siapa pun yang ingin mengikuti dipersilakan, sementara yang memilih tidak ikut tetap dihormati. Ia menilai yang paling utama adalah menjaga akidah dengan tetap meyakini bahwa segala pertolongan dan perlindungan hanya berasal dari Allah SWT.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Silakan ikut bagi yang ingin melestarikan budaya. Tidak ada paksaan. Yang terpenting, keimanan tetap kepada Allah SWT, sementara ruwatan kami pahami sebagai tradisi budaya yang patut dijaga,&#8221; pungkasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/ruwatan-tetap-dilestarikan-di-kampung-budaya-pasir-astana-sesepuh-ikhtiar-memohon-keselamatan-kepada-allah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dewi Asmara: Syukuran Nelayan Ciwaru Jadi Wujud Syukur dan Potensi Besar Wisata Budaya Geopark Ciletuh</title>
		<link>https://lingkarpena.id/dewi-asmara-syukuran-nelayan-ciwaru-jadi-wujud-syukur-dan-potensi-besar-wisata-budaya-geopark-ciletuh/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/dewi-asmara-syukuran-nelayan-ciwaru-jadi-wujud-syukur-dan-potensi-besar-wisata-budaya-geopark-ciletuh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2026 10:22:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Dewi Asmara]]></category>
		<category><![CDATA[Gropark Ciletuh]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Nelayan Ciwaru ke 69]]></category>
		<category><![CDATA[Potensi Besar Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Syukuran Nelayan Ciwaru]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=68046</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/dewi-asmara-syukuran-nelayan-ciwaru-jadi-wujud-syukur-dan-potensi-besar-wisata-budaya-geopark-ciletuh/" title="Dewi Asmara: Syukuran Nelayan Ciwaru Jadi Wujud Syukur dan Potensi Besar Wisata Budaya Geopark Ciletuh" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Hj. Dewi Asmara, S.H., M.H., menghadiri rangkaian Syukuran Nelayan Desa Ciwaru ke-69 yang digelar di kawasan Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jumat (17/7/2026).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam kegiatan tersebut, Dewi Asmara bersama Wakil Bupati Sukabumi, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, serta ratusan nelayan mengikuti prosesi budaya hingga pelepasan benih ikan hias dan tukik (anak penyu) di perairan Pulau Kunti sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem laut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Dewi Asmara, tradisi Syukuran Nelayan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir atas limpahan rezeki dari laut sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Kita semua hadir menyaksikan Syukuran Nelayan ke-69 di Desa Ciwaru. Ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada para nelayan untuk mencari nafkah di laut. Laut bukan hanya hamparan air, tetapi merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia mengapresiasi pelaksanaan pelepasan benih ikan dan tukik yang menjadi bagian dari rangkaian acara. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya laut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Hari ini kita tidak hanya menabur benih ikan, tetapi juga melepas tukik. Ini menunjukkan bahwa syukuran nelayan juga menjadi momentum untuk merawat alam dan menjaga laut agar tetap lestari untuk generasi mendatang,&#8221; katanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dewi menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Generasi muda boleh menyerap teknologi yang semakin maju, tetapi jangan meninggalkan budaya lokal. Tanpa budaya, identitas kita akan hilang. Tradisi seperti ini harus terus dijaga karena menjadi perekat kebersamaan masyarakat,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat yang mengikuti arak-arakan puluhan kapal hias menuju lokasi pelarungan benih di tengah laut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Meski hiasan perahu dibuat sederhana dengan bahan seadanya, semangat kebersamaan masyarakat sangat luar biasa. Sekitar 40 kapal hias ikut berlayar bersama. Itulah yang menghadirkan rasa gotong royong, kegembiraan, dan kekompakan warga nelayan,&#8221; tuturnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain menjadi tradisi budaya, Dewi menilai Syukuran Nelayan Ciwaru memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurutnya, sektor pariwisata saat ini tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang dimiliki suatu daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Budaya juga merupakan bagian dari pariwisata. Syukuran nelayan, Seren Taun, hingga berbagai kesenian tradisional merupakan kekayaan budaya Sukabumi yang bisa menjadi daya tarik wisata. Gunung, rimba, laut, dan pantai yang dimiliki Sukabumi adalah kekuatan yang harus terus dipromosikan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia juga menyoroti potensi wisata bahari di kawasan Pulau Kunti yang dinilai memiliki panorama bawah laut yang menjanjikan untuk aktivitas menyelam (diving).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Pulau Kunti memiliki pasir putih dan potensi bawah laut yang sangat bagus. Wisata diving bisa dikembangkan sehingga menarik penyelam dari berbagai negara. Jika dipromosikan secara masif melalui media sosial dan didukung pembangunan sarana prasarana, kawasan ini bisa menjadi destinasi wisata unggulan seperti Labuan Bajo maupun Bali,&#8221; katanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak hanya itu, Dewi juga mendorong pengembangan sport tourism di kawasan Geopark Ciletuh melalui berbagai kegiatan seperti lomba perahu layar maupun olahraga wisata bahari lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurutnya, promosi pariwisata harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, media, dan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Pariwisata harus menjadi usaha yang berkelanjutan. Jangan hanya semangat di awal, tetapi harus terus dipromosikan. Saya berharap pemerintah daerah, Dinas Pariwisata, media, dan masyarakat bersama-sama memperkenalkan potensi Geopark Ciletuh agar semakin dikenal luas,&#8221; pungkasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/dewi-asmara-syukuran-nelayan-ciwaru-jadi-wujud-syukur-dan-potensi-besar-wisata-budaya-geopark-ciletuh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dandim 0622 Sukabumi Hadiri Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69, Harapkan Kesejahteraan Nelayan Meningkat</title>
		<link>https://lingkarpena.id/dandim-0622-sukabumi-hadiri-syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-harapkan-kesejahteraan-nelayan-meningkat/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/dandim-0622-sukabumi-hadiri-syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-harapkan-kesejahteraan-nelayan-meningkat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2026 08:38:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Dandim 0622 Kab Sukabumi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesejahteraan Nelayan Meningkat]]></category>
		<category><![CDATA[Suyukuran Nelayan Ciwaru ke 69]]></category>
		<category><![CDATA[Syukuran Nelayan Ciwaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=68040</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/dandim-0622-sukabumi-hadiri-syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-harapkan-kesejahteraan-nelayan-meningkat/" title="Dandim 0622 Sukabumi Hadiri Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69, Harapkan Kesejahteraan Nelayan Meningkat" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Komandan Kodim (Dandim) 0622/Kabupaten Sukabumi, Letkol Inf Agung Ariwibowo, S.Hub.Int., menghadiri pembukaan Syukuran Nelayan Desa Ciwaru ke-69 Tahun 2026 yang digelar di kawasan Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Jumat (17/7/2026).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kegiatan tahunan yang menjadi tradisi masyarakat pesisir tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas. Acara juga dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Sukabumi, perwakilan anggota DPR RI, anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI), Forkopimcam Ciemas, para kepala desa se-Kecamatan Ciemas, serta tamu undangan lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari sejumlah pejabat, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pelepasan tukik (anak penyu) di Pantai Palangpang sebagai simbol kepedulian terhadap pelestarian lingkungan pesisir dan ekosistem laut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi, Letkol Inf Agung Ariwibowo, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Menurutnya, peringatan Syukuran Nelayan bukan hanya menjadi tradisi budaya masyarakat pesisir, tetapi juga momentum untuk memperkuat sinergi seluruh pihak dalam mendukung kesejahteraan para nelayan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah hari ini kita baru saja menyelesaikan rangkaian kegiatan Syukuran Nelayan Desa Ciwaru. Acara diisi dengan sambutan dari pemerintah daerah, perwakilan DPR RI, dan unsur lainnya. Puncaknya kami bersama-sama melaksanakan pelepasan benih tukik di Pantai Palangpang sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir. Alhamdulillah seluruh kegiatan berjalan aman, lancar, dan tertib,&#8221; ujar Agung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia berharap momentum Syukuran Nelayan ke-69 mampu menjadi penyemangat bagi masyarakat pesisir untuk terus menjaga kebersamaan sekaligus meningkatkan produktivitas sektor perikanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Kami selaku Forkopimda Kabupaten Sukabumi berharap Hari Nelayan ini membawa berkah bagi seluruh masyarakat, khususnya para nelayan di Desa Ciwaru. Semoga kesejahteraan mereka semakin meningkat, hasil tangkapan semakin baik, dan semangat menjaga kelestarian laut tetap terpelihara agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang,&#8221; tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syukuran Nelayan Desa Ciwaru merupakan agenda tahunan yang rutin diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang diperoleh masyarakat nelayan, sekaligus menjadi ajang mempererat kebersamaan antara pemerintah, aparat, dan masyarakat pesisir.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/dandim-0622-sukabumi-hadiri-syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-harapkan-kesejahteraan-nelayan-meningkat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wabup Andreas Buka Syukuran Nelayan ke-69 Ciwaru, Ajak Jaga Laut dan Lestarikan Budaya</title>
		<link>https://lingkarpena.id/wabup-andreas-buka-syukuran-nelayan-ke-69-ciwaru-ajak-jaga-laut-dan-lestarikan-budaya/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/wabup-andreas-buka-syukuran-nelayan-ke-69-ciwaru-ajak-jaga-laut-dan-lestarikan-budaya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2026 06:00:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=68034</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/wabup-andreas-buka-syukuran-nelayan-ke-69-ciwaru-ajak-jaga-laut-dan-lestarikan-budaya/" title="Wabup Andreas Buka Syukuran Nelayan ke-69 Ciwaru, Ajak Jaga Laut dan Lestarikan Budaya" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas secara resmi membuka rangkaian Syukuran Nelayan ke-69 Desa Ciwaru yang dipadukan dengan Festival Seni Budaya 2026 di kawasan Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Jumat (17/7/2026). Kegiatan tahun ini mengusung tema &#8220;Ngagungkeun Nu Kawasa, Ngajaga Budaya, Ngamulyakeun Nelayan.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Acara berlangsung meriah dan dihadiri Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Hj. Dewi Asmara, Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi Letkol Inf. Agung Ariwibowo, S.Hub.Int., Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi H. Ujang Abdurrochim Rochmi dan Andri Hindayana, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Ali Iskandar, Ketua HNSI Kabupaten Sukabumi, unsur Forkopimcam, serta para kepala desa se-Kecamatan Ciemas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam sambutannya, H. Andreas menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang terus menjaga tradisi syukuran nelayan sebagai warisan budaya yang telah berlangsung selama hampir tujuh dekade.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah bekerja keras menyelenggarakan Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69 dan Festival Seni Budaya Tahun 2026. Tradisi yang telah berlangsung selama 69 tahun ini merupakan warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,&#8221; ujar Andreas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurutnya, Syukuran Nelayan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dari laut sekaligus momentum untuk memperkuat nilai-nilai budaya dan kepedulian terhadap lingkungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Syukuran Nelayan adalah bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan rezeki yang diberikan melalui laut. Di saat yang sama, kegiatan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga tradisi, melestarikan budaya, dan merawat lingkungan pesisir agar tetap lestari bagi generasi mendatang,&#8221; katanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Andreas menilai penyelenggaraan syukuran yang dipadukan dengan Festival Seni Budaya di kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembangan sektor pariwisata Kabupaten Sukabumi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Kolaborasi antara tradisi nelayan, seni budaya, dan potensi wisata di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu merupakan kekuatan besar yang harus terus dikembangkan. Ini bukan hanya menjaga identitas budaya masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian daerah melalui sektor pariwisata,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemerintah Kabupaten Sukabumi, lanjut Andreas, berkomitmen mendukung kemajuan sektor kelautan dan perikanan melalui pembangunan infrastruktur, bantuan sarana penangkapan ikan, hingga pengembangan wisata bahari yang terintegrasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Pemerintah Kabupaten Sukabumi akan terus hadir mendukung sektor kelautan dan perikanan, baik melalui peningkatan infrastruktur, bantuan alat tangkap yang mendukung produktivitas nelayan, maupun pengembangan pariwisata bahari. Namun keberhasilan itu hanya bisa terwujud apabila didukung oleh partisipasi aktif dan sinergi seluruh elemen masyarakat,&#8221; tegasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di akhir sambutannya, Andreas mengajak seluruh masyarakat menjaga kelestarian laut, mempererat persatuan, dan mengoptimalkan potensi Desa Ciwaru sebagai kawasan perikanan sekaligus destinasi wisata unggulan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Mari kita jaga kelestarian laut dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan menjaga kebersihan perairan dari sampah. Perkuat persatuan dan gotong royong antar nelayan. Bersama-sama kita kembangkan Desa Ciwaru bukan hanya sebagai sentra perikanan, tetapi juga sebagai destinasi wisata unggulan yang nyaman, ramah, dan membanggakan Kabupaten Sukabumi,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syukuran Nelayan ke-69 Ciwaru menjadi salah satu agenda budaya tahunan masyarakat pesisir selatan Sukabumi yang sarat nilai religius, budaya, dan kebersamaan. Selain menjadi bentuk rasa syukur atas hasil laut, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor perikanan dan pariwisata.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/wabup-andreas-buka-syukuran-nelayan-ke-69-ciwaru-ajak-jaga-laut-dan-lestarikan-budaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69 Siap Digelar, Hadirkan Tradisi Larung Laut hingga Konser Band Ternama</title>
		<link>https://lingkarpena.id/syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-siap-digelar-hadirkan-tradisi-larung-laut-hingga-konser-band-ternama/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-siap-digelar-hadirkan-tradisi-larung-laut-hingga-konser-band-ternama/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 15:00:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Nelayan Ciwaru ke 69]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Larung Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan Ciwaru]]></category>
		<category><![CDATA[Syukuran Hari Nelayan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=67928</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-siap-digelar-hadirkan-tradisi-larung-laut-hingga-konser-band-ternama/" title="Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69 Siap Digelar, Hadirkan Tradisi Larung Laut hingga Konser Band Ternama" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, kembali akan menggelar Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69 Tahun 2026 yang dipusatkan di kawasan Pantai Palangpang, Geopark Ciletuh, pada 15–19 Juli 2026. Agenda tahunan yang menjadi tradisi masyarakat pesisir ini akan diramaikan dengan berbagai kegiatan budaya, religi, hiburan, olahraga, hingga pemberdayaan UMKM.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rangkaian kegiatan diawali pada 15 Juli 2026 dengan Bazar UMKM dan Pasar Malam yang berlangsung hingga 19 Juli mulai pukul 10.00 WIB. Pada malam harinya digelar Tabligh Akbar di kawasan TPI Palangpang sebagai pembuka rangkaian syukuran nelayan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memasuki 16 Juli 2026, berbagai perlombaan dan pertunjukan seni akan digelar, di antaranya lomba melukis untuk anak PAUD dan TK, lomba seni Jaipong tingkat SD, SMP, dan SMA, pentas seni budaya, serta penampilan marawis se-Kecamatan Ciemas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puncak acara berlangsung pada Jumat, 17 Juli 2026, diawali dengan pembukaan resmi, dilanjutkan upacara adat Syukuran Nelayan, tari jipeng yang melibatkan sekitar 1.000 peserta, serta pentas seni budaya. Setelah itu, peserta akan mengikuti Pawai Akbar menuju TPI Palangpang untuk prosesi tabur benih ke laut sebagai simbol rasa syukur atas hasil laut sekaligus harapan agar para nelayan senantiasa diberikan keselamatan dan rezeki yang melimpah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada hari yang sama juga akan digelar penilaian lomba hias perahu, penampilan band pembuka, hingga hiburan utama berupa penampilan spesial Band Kotak di panggung utama pada malam hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keseruan berlanjut pada Sabtu, 18 Juli 2026, dengan kegiatan jalan santai berhadiah (doorprize), mayoraan bersama, pembagian undian doorprize, hiburan dangdut Chaila, serta pertandingan final bola voli putra dan putri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rangkaian kegiatan akan ditutup pada Minggu, 19 Juli 2026, melalui berbagai pertunjukan seni tradisional seperti kuda lumping, perlombaan tradisional masyarakat, dan pementasan Wayang Golek oleh H. Dadan Sunandar Surya PGH3.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain menjadi bentuk rasa syukur masyarakat nelayan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat pelestarian budaya pesisir, meningkatkan kunjungan wisata ke kawasan Geopark Ciletuh, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat melalui bazar UMKM dan pasar malam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mengusung tema &#8220;Melestarikan Tradisi, Menjaga Laut, Merawat Ciletuh&#8221;, Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69 diharapkan menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi wisata pesisir Sukabumi kepada wisatawan dari berbagai daerah.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/syukuran-nelayan-ciwaru-ke-69-siap-digelar-hadirkan-tradisi-larung-laut-hingga-konser-band-ternama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seren Taun ke-447 Kasepuhan Ciptamulya Teguhkan Tradisi Leluhur di Tengah Perkembangan Zaman</title>
		<link>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-ciptamulya-teguhkan-tradisi-leluhur-di-tengah-perkembangan-zaman/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-ciptamulya-teguhkan-tradisi-leluhur-di-tengah-perkembangan-zaman/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2026 12:31:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Kadepuhan Ciptamulya]]></category>
		<category><![CDATA[Seren Taun]]></category>
		<category><![CDATA[Seren Taun ke 447]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Leluhur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=67856</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-ciptamulya-teguhkan-tradisi-leluhur-di-tengah-perkembangan-zaman/" title="Seren Taun ke-447 Kasepuhan Ciptamulya Teguhkan Tradisi Leluhur di Tengah Perkembangan Zaman" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Suasana penuh khidmat dan kebersamaan menyelimuti Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, saat masyarakat adat menggelar Seren Taun ke-447, Minggu (12/7/2026). Tradisi tahunan tersebut kembali menjadi momentum penting untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen sekaligus memperkuat komitmen menjaga warisan budaya leluhur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prosesi adat diawali dengan Ampih Pare ka Leuit sebagai simbol penyimpanan hasil panen ke lumbung adat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan saresehan, arak-arakan rengkong, serta berbagai pertunjukan seni tradisional, di antaranya Dog-dog Lojor, Wayang Golek, Jaipongan, Debus, Kidung Buhun, Seni Laes, Tunggulan Lisung, hingga permainan Angklung. Seluruh rangkaian acara menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang hadir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, mengatakan Seren Taun merupakan kekayaan budaya yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi pedoman hidup masyarakat adat dalam menjaga kebersamaan dan hubungan harmonis dengan alam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Seren Taun bukan sekadar perayaan panen, tetapi merupakan identitas budaya yang mengandung nilai gotong royong, rasa syukur, dan penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini layak terus dilestarikan sekaligus dikembangkan sebagai potensi wisata budaya Kabupaten Sukabumi,&#8221; ujar Okih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Pemerintah Kecamatan Cisolok akan terus hadir mendukung pelestarian budaya adat sebagai bagian dari pembangunan yang berpijak pada kearifan lokal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sisi lain, Sesepuh Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, menyampaikan rasa syukur karena hasil panen masyarakat pada tahun ini cukup baik sehingga Seren Taun dapat kembali dilaksanakan dengan penuh suka cita. Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah, termasuk bantuan pembangunan leuit bagi tiga kasepuhan di Desa Sirnaresmi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Tradisi Seren Taun mengajarkan kami untuk selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan penghormatan terhadap alam harus terus dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,&#8221; kata Abah Hendrik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melalui Seren Taun ke-447, Kasepuhan Ciptamulya kembali menegaskan eksistensinya sebagai penjaga tradisi dan budaya Sunda. Lebih dari sekadar agenda tahunan, perayaan ini menjadi pengingat bahwa warisan leluhur memiliki nilai yang tetap relevan sebagai fondasi kehidupan masyarakat hingga masa mendatang.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-ciptamulya-teguhkan-tradisi-leluhur-di-tengah-perkembangan-zaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seren Taun ke-199 Kasepuhan Girijaya Jadi Simbol Syukur dan Pelestarian Budaya, Wabup Sukabumi Hadir Berikan Dukungan</title>
		<link>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-199-kasepuhan-girijaya-jadi-simbol-syukur-dan-pelestarian-budaya-wabup-sukabumi-hadir-berikan-dukungan/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-199-kasepuhan-girijaya-jadi-simbol-syukur-dan-pelestarian-budaya-wabup-sukabumi-hadir-berikan-dukungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2026 10:38:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Kasepuhan Girijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Seren Taun]]></category>
		<category><![CDATA[Seren Taun ka 199]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=67681</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-199-kasepuhan-girijaya-jadi-simbol-syukur-dan-pelestarian-budaya-wabup-sukabumi-hadir-berikan-dukungan/" title="Seren Taun ke-199 Kasepuhan Girijaya Jadi Simbol Syukur dan Pelestarian Budaya, Wabup Sukabumi Hadir Berikan Dukungan" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas menghadiri puncak perayaan Seren Taun ke-199 Kasepuhan Girijaya yang digelar di Kampung Adat Kasepuhan Girijaya, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Minggu (5/7/2026). Tradisi bertajuk Sedekah Bumi Seren Taun, Nampa Taun Mapag Taun Muharram 1448 Hijriah tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seren Taun yang bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi wujud rasa syukur masyarakat adat atas hasil bumi yang telah diterima selama setahun, sekaligus doa untuk menyambut tahun baru dengan harapan keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemerintah Kabupaten Sukabumi memberikan apresiasi atas konsistensi masyarakat adat Kasepuhan Girijaya dalam menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman. Dukungan terhadap pelestarian budaya adat juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Tradisi Seren Taun merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur. Selain memperkuat identitas budaya, kegiatan ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,&#8221; ujar Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurutnya, keberadaan kampung adat harus terus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, agar nilai-nilai budaya, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam tetap lestari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rangkaian Seren Taun diisi dengan prosesi sedekah bumi, doa bersama, gotong royong, serta berbagai ritual adat yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Kasepuhan Girijaya dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Camat Cidahu Tamtam Alamsyah menjelaskan, Seren Taun tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-199. Kegiatan tersebut telah menjadi agenda tahunan yang selalu mendapat antusiasme masyarakat, termasuk pengunjung dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Purwakarta, Bogor, dan sejumlah daerah lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Desa Girijaya telah ditetapkan sebagai desa wisata melalui Surat Keputusan Bupati. Kami memiliki empat objek wisata, dan Kampung Adat Girijaya menjadi salah satu destinasi unggulan yang terus dikembangkan,&#8221; kata Tamtam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hadir dalam kegiatan tersebut Sesepuh Adat Kasepuhan Girijaya, jajaran Baris Olot, para tokoh adat, Forkopimcam Cidahu, Kepala Desa Girijaya, serta tamu undangan lainnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-199-kasepuhan-girijaya-jadi-simbol-syukur-dan-pelestarian-budaya-wabup-sukabumi-hadir-berikan-dukungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinaresmi, Syukur Panen yang Menjaga Warisan Leluhur</title>
		<link>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-sinaresmi-syukur-panen-yang-menjaga-warisan-leluhur/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-sinaresmi-syukur-panen-yang-menjaga-warisan-leluhur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2026 10:21:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Kasepuhan Sirnaresmi]]></category>
		<category><![CDATA[Seren Taun]]></category>
		<category><![CDATA[Seren Taun ke 447]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=67677</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-sinaresmi-syukur-panen-yang-menjaga-warisan-leluhur/" title="Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinaresmi, Syukur Panen yang Menjaga Warisan Leluhur" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Kampung Adat Kasepuhan Sinaresmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, kembali menjadi pusat perhatian ribuan warga yang datang untuk menyaksikan puncak perayaan Seren Taun ke-447, Minggu (5/7/2026).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tradisi adat yang telah diwariskan selama ratusan tahun itu bukan sekadar pesta budaya, melainkan ungkapan syukur masyarakat adat atas hasil panen sekaligus harapan akan keberkahan musim tanam berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejak pagi, suasana kampung adat dipenuhi beragam prosesi sakral dan pertunjukan budaya. Mulai dari tumbuk padi, saresehan bersama baris olot kasepuhan, arak-arakan dongdang, tabuhan dogdog lojor, penampilan debus, rengkong, gondang buhun, tari tani, hingga pameran hasil karya incu putu Kasepuhan yang menggambarkan kekayaan tradisi yang masih terpelihara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puncak acara berlangsung saat prosesi Ngampih Pare ka Leuit, yakni memasukkan ikatan padi hasil panen ke Leuit Si Jimat yang dipimpin Sesepuh Adat Kasepuhan Sinaresmi, Abah Asep Nugraha. Prosesi berlangsung khidmat diiringi kidung Pohaci, alunan suling, dan petikan kecapi yang menghadirkan nuansa spiritual serta penghormatan terhadap alam dan Sang Pencipta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, yang turut hadir menilai Seren Taun merupakan warisan budaya yang memiliki makna jauh lebih besar daripada sebuah perayaan tahunan. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi cerminan rasa syukur, semangat kebersamaan, sekaligus bentuk nyata pelestarian budaya dan ketahanan pangan masyarakat adat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Seren Taun mengajarkan nilai-nilai luhur tentang rasa syukur, gotong royong, pelestarian alam, dan kemandirian pangan. Tradisi seperti ini harus terus dijaga sebagai kekuatan budaya masyarakat Sukabumi,&#8221; ujar Asep Japar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi akan terus memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya adat, termasuk pengembangan kawasan kasepuhan dan pembangunan infrastruktur yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa menghilangkan jati diri budaya setempat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bupati juga mengajak generasi muda atau incu putu untuk mengambil peran dalam menjaga dan meneruskan warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, Sesepuh Adat Kasepuhan Sinaresmi, Abah Asep Nugraha, mengatakan Seren Taun merupakan momentum sakral yang menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Seren Taun adalah ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT sekaligus doa agar kehidupan masyarakat selalu diberi keberkahan. Tradisi ini adalah identitas yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya,&#8221; tutur Abah Asep.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi masyarakat adat Kasepuhan Sinaresmi, Seren Taun bukan hanya agenda budaya tahunan, melainkan bagian dari filosofi hidup yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Nilai-nilai tersebut terus dipertahankan sebagai pedoman kehidupan sekaligus warisan yang menjadi kebanggaan Kabupaten Sukabumi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/seren-taun-ke-447-kasepuhan-sinaresmi-syukur-panen-yang-menjaga-warisan-leluhur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
