Menelisik Keajaiban Al-Qur’an

Gambar Istimewa/net

LINGKARPENA.ID | Keajaiban di sini maksudnya adalah kebenaran yang ada sebagai kenyataan dalam hidup yang dapat dijadikan contoh dari apa yang disampaikan dalam al-Qur’an dan tidak terdapat dalam kitab atau keterangan-keterangan lain.

Sebagai bukti kebenaran, tidak mengungkungnya dalam paradigma saintis atau bahkan ilmiah secara positivistik namun lebih umum dan dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari sampai saat ini.

Ketetapan ungkapan-ungkapan al-Qur’an, contoh peristiwa berbagai pembunuhan, seperti perilaku orang musyrik yang membunuh anak mereka (atas nama pengorbanan) tercantum dalam al-Qur’an Surat al-An’aam 137 (penulis cantumkan terjemahannya pada akhir artikel sekaligus sebagai penutup), serta Allah mencintai dan membersamai orang-orang bertawa.

Contohnya; Allah menahan gangguan orang-orang terhadap nabi kecuali sedikit saja (remeh-temeh seperti ejekan) tercantum dalam al-Qur’an Surat Aali Imran Ayat 111, berikut artinya:

Baca juga:  Jembatan Kuning Bagbagan Riwayatmu Dulu

“Mereka tidak akan membahayakanmu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja. Jika mereka memerangi kamu, niscaya mereka berbalik ke belakang (kalah), kemudian mereka tidak mendapat pertolongan” dan masih banyak ayat lain yang berdekatan makna.

Mari kita uji ungkapan perihal kesesuaian al-Qur’an dengan fakta dalam kehidupan. Semisal ketetapan terhadap contoh-contoh di atas, banyak alasan bisa dijadikan pembenaran namun bukan kebenaran sesungguhnya, sebab hal tersebut merupakan ketetapan Allah.

Bukan tanpa sebab yang tidak dipahami sepenuhnya, kenyataan tersebut menjelma rangkaian fenomena berkait. Seperti terhadap contoh perilaku syirik yang melakukan pembunuhan dan dijadikan terasa indah bagi mereka untuk melakukannya meski terhadap anak mereka sendiri.

Secara sejarah bisa saja dipengaruhi oleh pandangan akan peristiwa penyembelihan Nabi Mulia Ibrahim terhadap Ismail, namun kemudian tatkala menjadi ketetapan, maka rangkaian tersebut menjadi musyrik kapan pun dan bagaimana pun bentuknya akan melakukan apa yang menjadi ketetapan yang mengikutinya tersebut baik secara terang-terangan sampai kepada cara yang paling halus sekali pun.

Baca juga:  Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi: Belajar dari Pandemi Covid 19 saatnya Nakes Honorer diangkat ASN

Masih terhadap contoh tersebut, selama suatu kelompok atau sosialitas dalam kesyirikan, sebagai suatu kezaliman yang besar, akan berakibat kepada berbagai tindakan-tindakan dalam hidup termaauk memperlakukan sesama.

Dalam kondisi paling halus misalnya, anggota yang akan meninggal dunia akan mengalami pembunuhan baik secara istilahnya psikis yang fitrahnya tidak diikuti untuk mengesakan Allah bahkan tindakan fisik baik disengaja sebagaimana peristiwa di atas atau tidak disadari menyimpang dari yang disyariatkan.

Ada banyak contoh lain yang dapat diangkat dari kitab suci al-Qur’an sebagai fakta kebenaran baik dalam bentuk janji dan ancaman sebagai balasan dari setiap perbuatan baik di dunia terutama dinakhirat kelak.

Baca juga:  Google Asia Pacific Mengingatkan Pemerintah Indonesia Soal Peraturan Presiden Joko Widodo Terkait Masa Depan Media

Namun apa pun itu, segala kebaikan di sisi Allah adanya sebagaimana segala perkara akan kembali kepadaNya jua.
Inti artikel ini adalah mengungkap sebagian kecil dari keseluruhan isi al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad yang mulia serta menjadi rahmat, petunjuk dan obat sebagai kebaikan dari Allah bagi orang yang beriman yang sungguh dan patut disyukuri, “Allahu a’lam!”

“Demikianlah berhala-berhala mereka (setan) menjadikan terasa indah bagi banyak orang musyrik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri. Seandainya Allah berkehendak, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan”, “Shadaqallah!”

Nazwar (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

Pos terkait