Mengenal Seni Domyak, Kesenian Khas Melegenda dari Purwakarta

Seni Domyak, Kesenian Melegenda Khas dari Purwakarta

LINGKAR PENA – Mungkin tak banyak orang yang tahu jika Kabupaten Purwakarta mempunyai tradisi kesenian khas yang melegenda. Adalah Domyak, konon produk kesenian ini hanya dilakukan masyarakat setempat sebagai bagian dari ritual meminta hujan kepada sang pencipta saat musim kemarau.

Domyak ini merupakan sebuah tradisi kebudayaan unik masyarakat di Desa Pasir Angin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Nama kesenian ini awalnya bernama Buncis. Namun, di tahun 80-an namanya berubah menjadi Domyak. Berdasarkan cerita warga sekitar, penamaan Domyak bermula dari kesenian Buncis pimpinan Mama Nuria dan Abah Janata.

“Akronim Domyak sendiri memiliki arti ‘Ari Dur Ari Rampayak’. Dur adalah bunyi bedug dari salah satu waditra musik pengiring kesenian. Sedangkan Rampayak artinya menari. Jadi, ketika ada suara dur dari bedug itu (pemain) langsung menari. Jadi, mulai saat ini nama Domyak yang dipakai untuk kesenian Buncis ini,” jelas penggiat Domyak, Yosi Agustiawan.

Baca juga:  Kolaborasi Pemkab Purwakarta Bersama TNI Padukan Gempungan Dengan Program TMMD ke 113

Domyak ini, kata Yosi, kesenian yang biasanya berkaitan dengan ritual meminta hujan (Mapag Banyu). Salah satu ritual khususnya yakni ngibakan ucing atau memandikan kucing. Sebelum dimandikan, hewan tersebut diarak dulu keliling kampung.

“Kucing dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut dongdang ucing dan tandu oleh dua orang. Arak-arakan diiringi dengan tetabuhan seperti Angklung, Dogdog, Bedug, Kendang, Goong, dan sebagainya. Mereka kemudian menuju ke suatu mata air dan kemudian melakukan ritual ngibakan ucing tadi,” kata dia.

Baca juga:  Diskominfo Purwakarta Capai Target 100 Persen Retribusi Pengendalian Menara

Biasanya, ritual dimulai dengan mupuhun yang dipimpin oleh seorang pemimpin upacara yang disebut Pangasuh (pengasuh). Mupuhun adalah semacam uluk salam, atau dalam peribahasa Sunda yang diartikan mipit kudu amit, menta kudu bebeja, ngala kudu menta (meminta izin terlebih dahulu). Ungkapan tersebut, juga berarti bahwa jika sesuatu yang akan dilakukan itu haruslah diawali dengan meminta izin dan memohon berkah keselamatan dari yang maha kuasa.

Setelah mupuhun dilaksanakan, pangasuh menyuruh seseorang untuk melantunkan kidung beberapa umpan, dan setelah selesai kidung maka kucing yang ada di dalam sebuah kurungan itu diguyur (disiram) air atau yang disebut dengan ngibakan ucing

Baca juga:  Seluruh Jalur Mudik Sudah Dipasangi Lampu Penerangan

“Ngibakan ucing di sini mempunyai makna, kucing tidak pernah mandi dan hal ini adalah sebuah ajaran bahwa manusialah yang sebaiknya mandi untuk membersihkan diri,” seloroh dia.

Sebagai upaya melestarikan tradisi khas masyarakat ini, Pemkab Purwakarta pun mulai memperkenalkan Domyak ke para siswa.

Selain itu, Domyak ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk mengenal kesenian khas Purwakarta.

Kemudian, sebagai bentuk dukungan, Pemkab Purwkarta akan mengikutsertakan kesenia Domyak di acara-acara resmi pemerintah.

Pos terkait