Mengurai Benang Kusut di Wisata Pantai Minajaya

LINGKARPENA.ID | Polemik yang terjadi di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Minajaya Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi terkait dengan diberlakukannya Perda No 15 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, sebenarnya bukan hanya terjadi pasca lebaran kemarin saja. Namun pada bulan Februari 2024 lalu pun kasus serupa sempat meletup.

Kala itu, Minggu (4/2/2024),  sejumlah pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Warung Lesehan (PPWL) di Pantai Minajaya, sempat melayangkan protes soal diberlakukannya Perda Nomor 15 Tahun 2023.

Menurut mereka, dampak dari itu para pengunjung ke wisata Pantai Minajaya jadi sepi dan para pedagang kena dampak.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi ketika itu, Sigit Widarmadi, yang dihubungi awak media lewat saluran telepon mengatakan, saat ini objek wisata yang berada di Kabupaten Sukabumi ada enam titik yang mengalami sepi pengunjung.

“Penyebab sepi antara lain faktor cuaca dan memang ekonomi sekarang sedang tidak baik,” tuturnya ketika itu.

Lebih lanjut kata Sigit, dari sekian objek wisata yang ada baru ini yang mengajukan keberatan. Dirinya berterima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan masukan, dan itu akan dijadikan bahan evaluasi kedepannya.

Baca juga:  Hari Kedua Lebaran, Ini Jumlah Pengunjung di Dua Lokasi Wisata Wilkum Polres Sukabumi Kota

Diketahui, pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, besaran tarif tiket masuk ke objek wisata tidak lagi dikenakan pada jenis angkutan kendaraan yang masuk melainkan dikenakan per individu, dewasa sebesar Rp 12 ribu per orang dan anak anak Rp 7 ribu per orang.

Dari nominal itu disisihkan Rp 2000 untuk membayar premi asuransi yang akan mengcover pembiayaan bila terjadi kecelakaan laut atau laka laut.

“Seandainya pihak pengelola Minajaya bercermin pada kejadian tanggal 4 Februari 2024, niscaya polemik yang terjadi pasca lebaran itu tidak akan muncul,” jelasnya.

Ada benang kusut yang harus diurai di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Minajaya. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) buat steakholder.

Wisata Pantai Minajaya Surade Kabupaten Sukabumi| ist

Hasil penelusuran lingkarpena.id dilapangan, setidaknya ada empat hal yang perlu segera dibenahi untuk menjadikan Minajaya benar benar sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang penuhi unsur Attraction, Accssibility, Amenity dan Tourism Organization.

Attraction, yakni adanya daya tarik. Apa daya tarik pantai Minajaya? Hamparan pasir berkarang? Atau sebagai spot sunset? Jika itu dijadikan ukuran, toh pantai pantai lainnya yang ada di Pajampangan pun serupa, bahkan ada yang lebih plus dari Minajaya.

Baca juga:  Warga Harapkan Jalan Masuk Terminal Surade Diperbaiki

Untuk menjawab itu, pengelola Minajaya dan pihak terkait mau duduk bersama dan jeli melihat sisi minus Minajaya, contoh salah satunya adalah hal kebersihan. Sampah jangan dijadikan alasan wisatawan untuk tidak kembali lagi berkunjung.

“Jadikan kebersihan sebagai sesuatu yang jadi daya tarik sehingga Minajaya selalu dirindukan pengunjung,” tandasnya.

Accessibility, kemudahan untuk mencapai tujuan wisata, salah satunya adalah  infastruktur jalan. Faktor ini lumayan mendukung. Akses jalan menuju Pantai Minajaya lumayan baik. Tetapi jalan yang ada diseputar kawasannya perlu ditata ulang, pasalnya jalan yang menuju ke Muara terlalu kecil, sehingga apabila papasan tidak memghambat laju kendaraan.

Amenity, artinya tersedianya fasilitas di Pantai Minajaya yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan. Hal ini justru yang menjadi bobrok dan yang perlu segera diobati. Bayangkan, dibangunnya beberapa fasilitas penunjang wisata di Minajaya dengan anggaran pembangunan yang fantastis, hingga saat ini selalu menuai beragam komentar. Kualitas bangunannya yang terkesan asal asalan.

Baca juga:  Kerugian Capai 2 Milyar dari 71 Perahu Hilang

Andai saja fasilitas penunjang wisata itu sudah di fungsikan niscaya masyarakat
tidak akan protes pada soal besaran tarif yang mengacu pada Perda Nomor 15 Tahun 2024 itu karena harga tarif yang berlaku sesuai dengan fasilitas yang ada dan mumpuni.

Tourism Organization. Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang akan berkembang tentunya harus miliki organisasi wisata yang mengelolanya. Di Objek Wisata Minajaya itu belum ada, yang ada hanya pengelola, dalam hal ini Koordinator Lapangan sebagai kepanjangan tangan Dinas Pariwisata.

Karena Pantai Minajaya yang letaknya berada di dua desa, yaitu Desa Pasiripis dan Buniwangi, Kecamatan Surade, sudah tentu kedua desa tersebut harus berperan aktif, misalkan dengan melibatkan Bumdes atau Pokdarwis dan Karang Taruna Desa dalam pengelolaan dan pengembangan Minajaya.

Andai saja ke empat faktor tadi ada dan dijalankan sesuai fungsinya bukan hal tak mungkin Minajaya menjadi pantai yang selalu dirindukan pengunjungnya.

Pos terkait