Sejumlah Masalah di Desa Mekarasih dari Kartu PKH yang Ditahan Hingga Pembangunan Fiktif

Kantor Desa Mekarasih Simpenan, saat proses perbaikan.| Foto: istimewa

LINGKARPENA.ID | Tak seperti Kedusunan lainnya, Dusun Ciangrek ini terkesan di anak tirikan. Padahal kedusunan Ciangrek ini masuk dalam Pemerintahan Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, tapi luput dari perhatian pemerintah desa setempat. Betapak tidak, kedusunan ini bisa disebut terisolir, padahal lokasi tersebut tidak jauh dari Pusat Ibukota Kabupaten Sukabumi.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun awak media, terdapat segudang masalah yang dihadapi oleh masyarakat kedusunan Ciangrek tersebut. Seperti salah satu bantuan Program Keluarga Harapan atau PKH. Menurut informasi yang diterima terdapat beberapa kartu PKH ditahan oleh oknum kadus, bahkan diduga kuat terjadi pemotongan.

Selain pada Program PKH juga terdapat adanya informasi pembangunan jalan desa yang fiktif, pembangunan sarana olahraga lapangan sepakbola yang sudah setahun lalu mangkrak dan masalah lainnya soal kemanusian.

Baca juga:  Hadiri Pembukaan Coaching Penilaian Mandiri, Walkot: Semoga Kehadiran KASN Memotivasi Pemkot Percepat Sistem Merit

Berdasarkan keterangan dari salah satu warga Dusun Ciangkrek yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, sudah hampir 10 tahun warga Dusun Ciangrek dinilai jauh dari kata layak dan dihadapkan dengan segudang permasalahan. Problem tersebut diantaranya kartu PKH yang tidak pernah dipegang oleh penerima.

“Kan aneh, kenapa kartu PKH itu dipegang oleh oknum Kadus?. Bagi waega yang berani minta kartu PKH, sanksinya akan terblokir. Jadi warga menilai pemerintah menutup nutupi (tidak transparan),” ujar X kepada wartawan.

Juga terdapat masalah lain di desa Mekarasih seperti Posyandu di Dusun Ciangkrek yang tiba tiba menghilang secara misterius. Malahan sudah dua kali dilakukan pembangunan malah beralih fungsi.

Baca juga:  BUMDes Mekarasih Sukabumi Dirikan BUMDesmart

Selain itu terdapat pula pembangunan jalan desa yang bersumber dari dana desa (DD) yang dinilai sebagian warga tidak sesuai dengan RAB. Seperti volume jalan lingkungan yang hanya dibangun 200 meter.

“Malah ada juga yang kami duga fiktif,” papar x (red).

Bahkan yang paling mencolok lagi, kata X, pembangunan lapangan olahraga yang tidak terealisasikan alias mangkrak.

“Kami (warga) hanya disuruh ngeruk area lapangan, tapi tidak pembangunannya tidak dilakukan. Iya, padahal ada papan proyek yang terpampang disana malah hingga setahun, tapi tidak terlaksana pembangunan itu,” tambah X.

Tak hanya itu, Badan Usaha Milik Desa atau Bumdes juga dinilai bermasalah. Warga menduga bahwa uang modal Bumdes tersebut digunakan oleh kepada desa.

Baca juga:  Milad Ke43 Desa Girijaya, Bupati Marwan: Jadikan Semangat Penguatan Pembangunan

“Malah kami menduga Beras bantuan juga diperjual belikan oleh oknum,” ujarnya.

Lebih miris lagi, akses jalan desa menuju Dusun Ciangkrek sekitar 6,5 kilometer ke desa harus menggunakan ojeg dengan tarif Rp100. Itupun mengunakan motor khusus.

“Akibatnya masyarakat yang mengalami sakit harus menggunakan tandu buatan dari bahan sarung. Terlebih jika ada yang hamil sudah 6 orang yang meninggal akibat akses yang jelek dan terlambat penanganan,” tandas X.

Sementara itu, terkait sejumlah kabar di Kedusunan Ciangrek, Kepala Desa Mekarasih, Ujang, saat coba dikonfirmasi wartawan untuk meminta informasi secara langsung namun belum bisa tersambung.**

Pos terkait