<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bertahan Hidup &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<atom:link href="https://lingkarpena.id/tag/bertahan-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<description>Portal Berita Terpercaya Sumber Literasi Anak Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 May 2026 15:54:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-ICON-32x32.png</url>
	<title>Bertahan Hidup &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Usia Senja, Pak Mohan: Hidup Numpang dan Berjualan di Pinggir Jalan Nagrak-Cibadak</title>
		<link>https://lingkarpena.id/di-usia-senja-pak-mohan-hidup-numpang-dan-berjualan-di-pinggir-jalan-nagrak-cibadak/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/di-usia-senja-pak-mohan-hidup-numpang-dan-berjualan-di-pinggir-jalan-nagrak-cibadak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 May 2026 15:52:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SOSIAL]]></category>
		<category><![CDATA[Bertahan Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup Numpang]]></category>
		<category><![CDATA[Jualan di Pinggir Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Mohan]]></category>
		<category><![CDATA[Potret Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Usia Senja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=66262</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/di-usia-senja-pak-mohan-hidup-numpang-dan-berjualan-di-pinggir-jalan-nagrak-cibadak/" title="Di Usia Senja, Pak Mohan: Hidup Numpang dan Berjualan di Pinggir Jalan Nagrak-Cibadak" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Panas matahari yang menyengat tak menghentikan langkah seorang lansia bernama Mohan untuk terus mencari nafkah. Di tepi Jalan Alternatif Nagrak-Cibadak, pria berusia 60 tahun itu tampak duduk menjaga dagangannya yang digelar sederhana di atas karung putih, Rabu (27/5/2026).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi pengguna jalan yang kerap melintas, sosok Pak Mohan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Di balik wajah ramah dan senyum sederhananya, tersimpan kisah perjuangan panjang menghadapi kerasnya kehidupan di usia yang tak lagi muda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sekarang cari uang makin susah. Tapi saya harus tetap jalan demi bisa makan hari ini,” ujar Pak Mohan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selama kurang lebih 25 tahun, Pak Mohan menggantungkan hidup dari berdagang. Berbagai barang pernah ia jual demi menyambung kebutuhan sehari-hari. Namun kondisi ekonomi yang terus berubah membuat penghasilannya semakin tidak menentu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di saat sebagian orang seusianya menikmati masa tua bersama keluarga, Pak Mohan justru masih harus berjuang dari pagi hingga malam di pinggir jalan. Dengan kondisi fisik yang mulai melemah, ia tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kalau saya berhenti dagang, saya nggak punya penghasilan,” katanya pelan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak hanya persoalan ekonomi, kehidupan pribadinya pun menyimpan luka mendalam. Tujuh tahun lalu, Pak Mohan harus berpisah dengan istrinya setelah membina rumah tangga selama 15 tahun. Sejak saat itu, ia hidup menumpang di tempat rekan sesama pedagang karena tak mampu menyewa rumah sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Alhamdulillah masih ada teman yang peduli dan mau memberi tempat tinggal,” tuturnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hingga kini, Pak Mohan mengaku belum pernah menerima bantuan sosial ataupun bantuan usaha dari pemerintah. Padahal, kondisi hidupnya jauh dari kata berkecukupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di usianya yang semakin senja, ia hanya memiliki harapan sederhana. Selain bantuan modal usaha agar bisa terus berdagang, ia juga berharap memiliki jaminan kesehatan dan tempat tinggal yang layak untuk menjalani sisa hidupnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saya cuma ingin hidup tenang di masa tua, punya rumah kecil untuk berteduh,” ungkapnya penuh harap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kisah Pak Mohan menjadi gambaran nyata perjuangan sebagian lansia yang masih harus bekerja keras demi bertahan hidup. Di tengah keterbatasan dan himpitan ekonomi, mereka terus melangkah meski tenaga tak lagi sekuat dahulu.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/di-usia-senja-pak-mohan-hidup-numpang-dan-berjualan-di-pinggir-jalan-nagrak-cibadak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warga Cilampahan Tandu Pasien Sejauh 6 Kilometer, Demi Bertahan Hidup di Tengah Jalan Rusak dan Gelap</title>
		<link>https://lingkarpena.id/warga-cilampahan-tandu-pasien-sejauh-6-kilometer-demi-bertahan-hidup-di-tengah-jalan-rusak-dan-gelap/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/warga-cilampahan-tandu-pasien-sejauh-6-kilometer-demi-bertahan-hidup-di-tengah-jalan-rusak-dan-gelap/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 May 2026 15:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KABAR DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[6 Kilometer]]></category>
		<category><![CDATA[Bertahan Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[jalan rusak]]></category>
		<category><![CDATA[Kondisi Gelap]]></category>
		<category><![CDATA[Tandu Warga Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Cilampahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=66259</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/warga-cilampahan-tandu-pasien-sejauh-6-kilometer-demi-bertahan-hidup-di-tengah-jalan-rusak-dan-gelap/" title="Warga Cilampahan Tandu Pasien Sejauh 6 Kilometer, Demi Bertahan Hidup di Tengah Jalan Rusak dan Gelap" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Malam belum benar-benar larut ketika sekelompok warga Kampung Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, berjalan beriringan menembus gelap. Cahaya lampu senter seadanya menjadi penerang di tengah jalan tanah yang rusak, Rabu (27/5).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di pundak mereka, seorang pasien terbaring di atas tandu sederhana. Langkah demi langkah dilakukan dengan hati-hati. Sesekali mereka berhenti untuk mengatur napas sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju titik tempat ambulans menunggu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemandangan memilukan itu terekam dalam sebuah video yang diunggah akun Facebook milik Tumang Wijaya Kusumah dan ramai diperbincangkan warganet. Video berdurasi singkat tersebut memperlihatkan bagaimana warga harus bergotong royong membawa pasien menuju rumah sakit karena kendaraan tidak bisa masuk ke kampung akibat kondisi jalan yang rusak parah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut keterangan dalam video, warga Kampung Cilampahan yang hendak mendapatkan penanganan medis, baik siang maupun malam, harus ditandu sejauh kurang lebih enam kilometer untuk mencapai jalan yang bisa dilalui kendaraan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ambulans maupun kendaraan lainnya biasanya hanya dapat menunggu di jalan utama. Sementara pasien harus melewati jalur rusak dengan bantuan warga secara manual.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Masih tentang proses membawa pasien yang akan menuju ke rumah sakit dari Kampung Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jabar Istimewa. Di Jawa Barat, lain di Kalimantan, lain di Papua, di Jawa Barat, sangat mengkhawatirkan,” ujar Tumang dalam unggahannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi warga setempat, kondisi tersebut bukan lagi kejadian luar biasa. Situasi itu disebut sudah menjadi kenyataan yang kerap mereka hadapi ketika ada warga sakit dan membutuhkan pertolongan medis darurat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gotong royong menjadi satu-satunya harapan. Di tengah keterbatasan akses, warga bahu membahu memastikan pasien bisa sampai ke ambulans dan memperoleh penanganan di rumah sakit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Video itu pun memunculkan keprihatinan publik. Warga berharap pemerintah daerah, baik pemerintah kabupaten maupun provinsi, segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi infrastruktur di wilayah tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka mendambakan akses jalan yang layak agar masyarakat tidak lagi mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/warga-cilampahan-tandu-pasien-sejauh-6-kilometer-demi-bertahan-hidup-di-tengah-jalan-rusak-dan-gelap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
