<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Warga Cihurang &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<atom:link href="https://lingkarpena.id/tag/warga-cihurang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<description>Portal Berita Terpercaya Sumber Literasi Anak Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Apr 2026 12:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-ICON-32x32.png</url>
	<title>Warga Cihurang &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Warga Cihurang: Menunggu Pindah dari Tanah yang Bergerak</title>
		<link>https://lingkarpena.id/warga-cihurang-menunggu-pindah-dari-tanah-yang-bergerak/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/warga-cihurang-menunggu-pindah-dari-tanah-yang-bergerak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 12:50:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KABAR DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[Korban Tanah Bergerak]]></category>
		<category><![CDATA[Limusnunggal Bantargadung]]></category>
		<category><![CDATA[Menunggu Pindah]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Cihurang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=65054</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/warga-cihurang-menunggu-pindah-dari-tanah-yang-bergerak/" title="Warga Cihurang: Menunggu Pindah dari Tanah yang Bergerak" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Langit mendung selalu membawa kecemasan bagi warga Kampung Cihurang, RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Setiap tetes hujan yang jatuh seolah menjadi alarm, mengingatkan bahwa tanah di bawah kaki mereka tak lagi benar-benar aman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Retakan demi retakan yang dulu tampak sepele sejak 2022, kini berubah menjadi ancaman nyata. Pada 2024, pergerakan tanah kian meluas, merusak puluhan rumah dan memaksa sebagian warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Namun hingga kini, kepastian untuk pindah ke tempat yang lebih aman masih menggantung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Dulu retakannya kecil, kami kira tidak akan separah ini. Tapi sekarang kondisinya makin parah, rumah banyak yang rusak. Sampai hari ini belum ada kepastian relokasi,” ujar Jamal (37), warga setempat, Senin (27/4/2026).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedikitnya 35 rumah terdampak dalam bencana ini. Dari jumlah itu, sekitar 25 unit mengalami kerusakan berat. Sebagian warga memilih bertahan di rumah yang rawan ambruk, sementara lainnya terpaksa mengungsi secara mandiri, menumpang di rumah saudara atau membangun hunian seadanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Harapan sempat muncul ketika kabar tentang lahan relokasi di kawasan PT Citimu beredar di tengah warga. Namun harapan itu belum juga menjelma menjadi kenyataan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Katanya lahan sudah ada. Kami tidak minta rumah bagus dulu, yang penting ada tempat aman untuk tinggal. Yang kami butuhkan sekarang kepastian,” kata Jamal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sudut kampung, masih ada beberapa keluarga yang bertahan di zona rawan. Bukan karena berani, melainkan karena tak punya pilihan lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ada sekitar lima rumah yang masih ditempati. Mereka ingin pindah, tapi tidak tahu harus ke mana,” tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagian warga lain mencoba bangkit dengan cara mereka sendiri. Sekitar delapan rumah dibangun secara swadaya dengan kondisi seadanya. Sisanya memilih hidup berpindah, bergantung pada uluran tangan keluarga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi Ujang (55), musim hujan adalah waktu paling menegangkan. Ia mengaku kerap merasakan tanah bergetar, bahkan pernah menyaksikan dinding rumah roboh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kalau hujan turun, kami tidak pernah tenang. Pernah tembok rumah ambruk, tanah juga terasa bergerak. Rasanya seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti,” ungkapnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurutnya, persoalan kini bukan sekadar relokasi, melainkan kemampuan untuk membangun kehidupan baru. Tanpa bantuan, lahan yang tersedia tak lebih dari sekadar harapan di atas kertas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lahannya mungkin sudah ada, tapi kami tidak punya biaya untuk bangun rumah. Jadi tetap saja kami menunggu bantuan pemerintah,” jelas Ujang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Situasi di Kampung Cihurang menjadi potret getir: ancaman masih nyata, warga terdampak terus bertambah, lahan relokasi sudah disiapkan, namun langkah konkret belum juga berjalan. Di tengah ketidakpastian itu, warga hanya bisa menggantungkan harapan pada perhatian pemerintah daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kami hanya ingin pemerintah datang dan melihat langsung kondisi kami. Jangan sampai menunggu ada korban baru,” tutur Jamal lirih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di kampung ini, waktu seakan berjalan lebih lambat. Warga hidup di antara retakan tanah dan harapan yang belum juga menemukan pijakan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/warga-cihurang-menunggu-pindah-dari-tanah-yang-bergerak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
