Wifi Kabel Kian Merebak di Pajampangan

Inilah keberadaan wifi kabel di wilayah Pajampangan.| Foto: Jajang S

LINGKARPENA.ID | Internet merupakan salah satu sarana dimana dapat membantu kita dalam melakukan hal hal yang tidak mudah digapai, dan dapat menyelesaikan persoalan, tugas, serta hal hal yang sulit dikerjakan menjadi mudah karena dibantu jaringan internet.

Saat ini kita berada dititik dimana pengaruh internet sangat mudah dijangkau oleh kelompok masyarakat. Dengan adanya perluasan jaringan internet, baik itu jaringan melalui tower maupun jaringan wifi pribadi, atau jaringan wifi menggunakan kabel yang hanya disalurkan ke daerah pedesaan meskipun masih menggunakan vocer.

Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya akses internet (wifi) ke pedesaan berdampak pada iklim kehidupan warganya. Proses interaksi sosial akan menurun berdasarkan bukti yang nyata saat ini, ketika seseorang larut dalam internet kadang lupa waktu makan, tidur, dan aktifitas seperti biasanya.

Baca juga:  Wabah DBD di Pajampangan Sempat Meningkat, Ini Jumlahnya

Bukan hanya itu hal ini pula berpengaruh terhadap anak anak, remaja dan dewasa. Itu sepenggal dampak minus dari fenomena adanya jaringan internet di pedesaan. Tetapi, manfaat dan faktor plusnya jangan dikesampingkan. Informasi global semakin mudah di akses masyarakat dan pola pikir warga pedesaan yang nota bene “lugu dan polos” akan berubah menjadi kritis.

Penggunaan wifi Kabel dipedesaan nampaknya sudah beralih menjadi kebutuhan masyarakat di era digitalisasi sekarang ini, namun hal tersebut tidak diimbangi dengan pemasangan kabel yang tertata rapi. Sehingga terkesan semerawut, bahkan banyak yang memanfaatkan fasilitas negara (tiang listrik).

Kondisi seperti itu saat ini acap dijumpai dibeberapa perkampungan di wilayah Pajampangan ( Selatan Sukabumi ), dilema memang, disatu sisi kehadiran wifi (kabel) ini sangat dibutuhkan, sementara disisi lainnya ada ekses yang kentara dikehiduan warganya.

Baca juga:  Gratis Proses Izin Halal Usaha Kecil dan Mikro, Terpusat di PLUT Cikembar

Dahulu, di Pajampangan, banyak warganya ( perempuan ) yang mengadu nasib sebagai pekerja (TKW) dibeberapa negara Arab dan negara lainnya. Sarana komunikasi yang ada saat itu hanya satu satunya, yaitu telepon wartel.

Untuk bisa berkomunikasi dengan keluarganya yang menjadi TKW, warga harus merogoh kocek dalam dalam karena biaya pemakaian telepon dihitung berdasarkan durasi waktu.

“Saya sempat membayar biaya pemakaian telepon hingga 200 ribu rupiah dalam waktu satu jam. Coba sekarang dengan uang lima ribu saja saya bisa puas Berjam jam,” kata Endang (57) warga Cibuntu, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi menceritakan pengalamannya.

Baca juga:  Bupati Sukabumi Resmikan SPBU Tamanjaya Ciemas, Ini Tujuannya

Saat ini di Pajampangan, khususnya di Kecamatan Surade, Ciracap, Jampangkulon, jaringan kabel wifi bak jamur di musim hujan. Sedikitnha ada lima orang yang membuka usaha wifi kabel dengan panjang jaringan hingga ribuan meter. Cara penggunaan wifi sistem ini adalah dengan sistem vocer.

Itu mulai dari harga Rp 2000 – 5000 . Untuk harga Rp 2000 pembeli bisa berselancar di dunia maya selama lima jam, Rp 5000 bisa dipakai hingga 24 jam.

Bila berkunjung ke daerah pedesaan di Pajampangan, bentangan jaringan kabel wifi menjadi pemandangan baru. Ini tidak perlu disomasi, toh keberadaanya pun sangat dibutuhkan. Yang penting ada solusi dan dan mau duduk bersama antara pengusaha wifi kabel dengan pihak terkait.

Pos terkait