<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#gunungmasigit &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<atom:link href="https://lingkarpena.id/tag/gunungmasigit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<description>Portal Berita Terpercaya Sumber Literasi Anak Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Nov 2022 00:11:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-ICON-32x32.png</url>
	<title>#gunungmasigit &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sekelumit Kisah Suara Adzan Terdengar di Gunung Masigit, Bukan Mitos!</title>
		<link>https://lingkarpena.id/sekelumit-kisah-suara-adzan-terdengar-di-gunung-masigit-bukan-mitos/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/sekelumit-kisah-suara-adzan-terdengar-di-gunung-masigit-bukan-mitos/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2022 12:27:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KABUPATEN SUKABUMI]]></category>
		<category><![CDATA[RELIGI]]></category>
		<category><![CDATA[#goakutamaneuh]]></category>
		<category><![CDATA[#gunungmasigit]]></category>
		<category><![CDATA[#kabupatensukabumi]]></category>
		<category><![CDATA[#suaraadzan]]></category>
		<category><![CDATA[Gunungguruh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=15896</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/sekelumit-kisah-suara-adzan-terdengar-di-gunung-masigit-bukan-mitos/" title="Sekelumit Kisah Suara Adzan Terdengar di Gunung Masigit, Bukan Mitos!" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LINGKARPENA.ID</strong> &#8211; Gunung Masigit, merupakan sebuah bukit kecil yang Indah dan terletak di Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Di Gunung Masigit ini tersimpan sekelumit cerita misteri bagi orang-orang tertentu yang tahu latar belakang tempat tersebut. Bahkan ada yang menyatakan itu mitos.</p>
<p>Banyak sebahagian orang menceritakan di Gunung Masigit mengandung misteri, hal itu karena kerap terdengar suara Azan. Selain itu, di lokasi Gunung Masigit juga terdapat sebuah Goa. Di yakini oleh masyarakat setempat, tempat itu merupakan sebuah petilasan Prabu Siliwangi. Dan Gunung Masigit, atau yang biasa akrab disebut Goa Kuta Maneuh, Gunungguruh.</p>
<p>Menurut penuturan banyak warga sekitar, suara Adzan itu sering terdengar setiap menjelang Maghrib. Suara Adzan, persis terdengar jelas suaranya dari dalam Goa Kuta Maneuh atau Gunung Masigit. Lokasi tersebut letaknya di gandeng oleh dua Kampung, yaitu antara Kampung Ciburial, Rt 01 dan Kampung Gunungguruh, Rt 24 Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh.</p>
<p>Bagi warga sekitar di dua Kampung tersebut sudah tidak asing lagi jika mendengar suara Adzan itu. Bukit kecil Gunung Masigit, nampak jelas terlihat dari belakang Makam Syekh Ahmad yang terletak di Desa Cikujang.</p>
<p>Heni Mulyani, Kepala Desa Cikujang menuturkan, kesaksiannya soal adanya lantunan suara Adzan dari lokasi Gunung Masigit, semua warga sekitar juga mengaku membenarkan dan kerap mendengar suara Azan itu. Lantunan Adzan dengan suara merdu itu terdengar jelas dari dalam Goa yang ada di Gunung Masigit.</p>
<p>&#8220;Tutur, &#8216;Saur Sepuh&#8217; Gunung Masigit ini salah satu Kerajaan Jin Islam. Ini bukan mitos. Makanya tempat ini kerap di datanggi orang-orang untuk berziarah,&#8221; kata Heni Mulyani, saat berbincang-bincang kecil di rumahnya, di Cikujang, Gunungguruh, Sabtu, (19/2/2022) pagi.</p>
<p>Menurutnya, &#8220;Bahkan beberapa bulan lalu, di tempat itu juga di temukan diduga sebuah Situs Purbakala. Itu memang sangat menakjubkan. Kecamatan Gunhngguruh ini daerah bersejarah tinggi,&#8221; tuturnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/sekelumit-kisah-suara-adzan-terdengar-di-gunung-masigit-bukan-mitos/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wisata Religi: Lembah Gunung Masigit Gunungguruh, Tersimpan Jejak Para Wali</title>
		<link>https://lingkarpena.id/wisata-religi-lembah-gunung-masigit-gunungguruh-tersimpan-jejak-para-wali/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/wisata-religi-lembah-gunung-masigit-gunungguruh-tersimpan-jejak-para-wali/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2022 09:23:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[RELIGI]]></category>
		<category><![CDATA[#amahajiahmad]]></category>
		<category><![CDATA[#embahsyehdaikadumaung]]></category>
		<category><![CDATA[#gunungmasigit]]></category>
		<category><![CDATA[#religi]]></category>
		<category><![CDATA[#syehmaulanamansyur]]></category>
		<category><![CDATA[#syehtanjung]]></category>
		<category><![CDATA[Gunungguruh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=15837</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/wisata-religi-lembah-gunung-masigit-gunungguruh-tersimpan-jejak-para-wali/" title="Wisata Religi: Lembah Gunung Masigit Gunungguruh, Tersimpan Jejak Para Wali" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>LINGKARPENA.ID</strong> &#8211; Cerita Syeh Ama Haji Ahmad Bin Embah Syeh Dai Kadu Maung. Beliau merupakan keturunan dari Syeh Maulana Mansyur Cikadueun Banten. Syeh Ahmad ini lebih di kenal akrab masyarakat setempat dengan biasa di sebut Embah Tanjung.</p>
<p dir="ltr">Tempat Embah Tanjung tersebut terletak di Kampung Gunungguruh, Rt 24/12 Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi. Sementara ini peminat wisata religi sering medatangginya. Para peziarah tersebut datang dari berbagai tempat dan wilayah baik Kabupaten Sukabumi, Banten, bahkan hampir dari seluruh Indonesia.</p>
<p dir="ltr">Pada zamannya, sewaktu peperangan Ayahandanya dengan Pamannya dulu, Syeh Tanjung di umpetin oleh orang tuanya. Hal itu agar tidak menjadi sasaran. Syeh Tanjung diumpetin di salah satu pohon namanya Kayu Tanjung selama 40 hari 40 malam. Sehingga di saat kecil hingga tidak ditemukan keberadaanya sewaktu pada jamannya itu.</p>
<p dir="ltr">Setelah beliau beranjak dewasa, Syeh Tanjung mengembara untuk memperluas ajaran islam di pulau jawa. Selain itu beliau juga sering berkunjungi pada kesultanan Cirebon untuk menemui keturunan keluarganya.</p>
<p dir="ltr">Syeh Tanjung juga pernah tinggal di Cicanayan, Limusnunggal hingga menetap di Gunungguruh. Itu dilakukannya untuk mengemban tugas mensyiarkan agama islam pada keturunan Siliwangi. Sebab pada waktu itu masih ada ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam di lingkungan masyarakat hingga perjuanganya selesai. &#8220;Jangan menganggu pada para peziarah,&#8221; kata juru kunci di lokasi, Bah H Uki, saat berbincang-bincang dengan tim <a href="http://lingkarpena.id">lingkarpena.id</a> Jumat (18/2/2022).</p>
<p dir="ltr">Sementara, Kepala Desa Cikujang Heni Mulyani yang merupakan salah satu keturunanya menambahkan, di Gunungguruh pernah terjadi pertarungan adu ilmu antara keturunan pajajaran dengan wali dalam upaya mengembalikan akidah. Pada saat itu ada dua kekuatan besar satu terletak di kutamaneuh dan satu terletak di lembah Gunung Masigit yang disebut kampung Gunungguruh. Sehingga dari situ keluar sumpah, dari tujuh keturunan tidak akan memakai lagi ilmu pajajaran dalam kehidupan keturunannya sehari-hari.</p>
<p dir="ltr">Syeh Ama Haji Ahmad memiliki tiga anak Syeh Rafe&#8217;i, Syeh Abdul Mutholib dan Syeh Marzuk. Dari ketiga anaknya ini mempunyai karomah atau kelebihan masing-masing di ataranya bidang Pengasihan, Pemerintahan dan Kejawaraan.</p>
<p dir="ltr">Maka dari itu ditetapkan setiap tahunya, setiap tanggal 14 Maulid sebagi acara haolan, juga acara ngabumbang, yang sampai hari ini tetap terpelihara dan terus terjaga baik oleh keturunannya,&#8221; pungkas Heni.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/wisata-religi-lembah-gunung-masigit-gunungguruh-tersimpan-jejak-para-wali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
