Wisata Religi: Lembah Gunung Masigit Gunungguruh, Tersimpan Jejak Para Wali

LINGKARPENA.ID – Cerita Syeh Ama Haji Ahmad Bin Embah Syeh Dai Kadu Maung. Beliau merupakan keturunan dari Syeh Maulana Mansyur Cikadueun Banten. Syeh Ahmad ini lebih di kenal akrab masyarakat setempat dengan biasa di sebut Embah Tanjung.

Tempat Embah Tanjung tersebut terletak di Kampung Gunungguruh, Rt 24/12 Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi. Sementara ini peminat wisata religi sering medatangginya. Para peziarah tersebut datang dari berbagai tempat dan wilayah baik Kabupaten Sukabumi, Banten, bahkan hampir dari seluruh Indonesia.

Pada zamannya, sewaktu peperangan Ayahandanya dengan Pamannya dulu, Syeh Tanjung di umpetin oleh orang tuanya. Hal itu agar tidak menjadi sasaran. Syeh Tanjung diumpetin di salah satu pohon namanya Kayu Tanjung selama 40 hari 40 malam. Sehingga di saat kecil hingga tidak ditemukan keberadaanya sewaktu pada jamannya itu.

Baca juga:  Idul Adha 1443 H, Lapas Warungkiara Salurkan Hewan Qurban untuk Warga Sekitar

Setelah beliau beranjak dewasa, Syeh Tanjung mengembara untuk memperluas ajaran islam di pulau jawa. Selain itu beliau juga sering berkunjungi pada kesultanan Cirebon untuk menemui keturunan keluarganya.

Syeh Tanjung juga pernah tinggal di Cicanayan, Limusnunggal hingga menetap di Gunungguruh. Itu dilakukannya untuk mengemban tugas mensyiarkan agama islam pada keturunan Siliwangi. Sebab pada waktu itu masih ada ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam di lingkungan masyarakat hingga perjuanganya selesai. “Jangan menganggu pada para peziarah,” kata juru kunci di lokasi, Bah H Uki, saat berbincang-bincang dengan tim lingkarpena.id Jumat (18/2/2022).

Baca juga:  PT SBP Sumbang Pembangunan Masjid Besar Tegalbuleud

Sementara, Kepala Desa Cikujang Heni Mulyani yang merupakan salah satu keturunanya menambahkan, di Gunungguruh pernah terjadi pertarungan adu ilmu antara keturunan pajajaran dengan wali dalam upaya mengembalikan akidah. Pada saat itu ada dua kekuatan besar satu terletak di kutamaneuh dan satu terletak di lembah Gunung Masigit yang disebut kampung Gunungguruh. Sehingga dari situ keluar sumpah, dari tujuh keturunan tidak akan memakai lagi ilmu pajajaran dalam kehidupan keturunannya sehari-hari.

Baca juga:  Da'i Polres Sukabumi Kota Sabet Juara 1

Syeh Ama Haji Ahmad memiliki tiga anak Syeh Rafe’i, Syeh Abdul Mutholib dan Syeh Marzuk. Dari ketiga anaknya ini mempunyai karomah atau kelebihan masing-masing di ataranya bidang Pengasihan, Pemerintahan dan Kejawaraan.

Maka dari itu ditetapkan setiap tahunya, setiap tanggal 14 Maulid sebagi acara haolan, juga acara ngabumbang, yang sampai hari ini tetap terpelihara dan terus terjaga baik oleh keturunannya,” pungkas Heni.

Pos terkait