<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Curug Cigangsa &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<atom:link href="https://lingkarpena.id/tag/curug-cigangsa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<description>Portal Berita Terpercaya Sumber Literasi Anak Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Aug 2024 15:21:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-ICON-32x32.png</url>
	<title>Curug Cigangsa &#8211; LINGKAR PENA</title>
	<link>https://lingkarpena.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Miris, Curug Cigangsa di CPUGG Bukti Sejarah yang Terabaikan</title>
		<link>https://lingkarpena.id/miris-curug-cigangsa-di-cpugg-bukti-sejarah-yang-terabaikan/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/miris-curug-cigangsa-di-cpugg-bukti-sejarah-yang-terabaikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Akoy Khoerudin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Aug 2024 15:21:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[WISATA]]></category>
		<category><![CDATA[Bukti Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Curug Cigangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Kawasan CPUGGp]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Surade]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Terabaikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=43368</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/miris-curug-cigangsa-di-cpugg-bukti-sejarah-yang-terabaikan/" title="Miris, Curug Cigangsa di CPUGG Bukti Sejarah yang Terabaikan" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Objek wisata Curug Cigangsa, biasa disebut Curug Luhur, di Kampung Batusuhunan, Kelurahan/Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, kondisinya memperihatinkan.</p>
<p>Padahal, lima tahun lalu, objek wisata tersebut menjadi salah satu objek wisata primadona bagi wisatawan lokal. Sungguh ironis. Masalahnya, pertama letak Curug Cigangsa ini ada pada cakupan CPUGG ( Ciletuh Palabuanratu Unesco Global Geopark ), yang jika dikelola profesional pamornya tak kalah dari Curug lain yang ada di Kecamatan Ciemas.</p>
<p>Kedua, Curug Cigangsa punya kedekatan emosional dengan warga Surade. Curug tersebut menjadi saksi bisu sejarah dan legenda berdirinya Surade. Dalam sejarah lokal, curug ini memiliki peran penting sebagai penanda pertama ditemukannya Curug Cigangsa oleh Sunan Nalagangsa atau yang dikenal sebagai Eyang Santri Dalam, tokoh sentral penemu kota Surade.</p>
<p>Kini nasib objek wisata Curug Cigangsa memperihatinkan, tak terurus. Pantauan lingkar pena.id dilapangan, beberapa sarana yang ada dikawasan tersebut rusak berat. Gazebo yang dulunya berfungsi sebagai tempat peristirahatan kini hancur rata dengan tanah. MCK yang tidak berfungsi, papan nama Curug Cigangsa juga roboh. Tak hanya itu, pos istirahat tak terawat dan menjadi sasaran vandalisme.</p>
<p>&#8220;Sekarang pengunjung jarang yang datang. Dalam satu Minggu bisa dihitung jari, tak seperti lima tahun lalu. Ini mungkin karena Curug Cigangsa kekeringan air,&#8221; kata Cecep, warga sekitar yang keluhkan kondisi Curug Cigangsa saat ini.</p>
<p>Lanjut, menurut Cecep, meskipun di Curug tersebut tidak ada air tapi ada potensi lain yang bila dikelola cerdik akan jadi daya tarik pengunjung. Keberadaan Batu Masigit atau undakan batu lainnya bisa dijadikan spot foto, dan itu salah satu potensi di Curug Cigangsa.</p>
<figure id="attachment_43370" aria-describedby="caption-attachment-43370" style="width: 830px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" wp-image-43370" src="https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-24-at-21.57.02-200x112.jpeg" alt="" width="830" height="465" srcset="https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-24-at-21.57.02-200x112.jpeg?v=1724512814 200w, https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-24-at-21.57.02-640x358.jpeg?v=1724512814 640w" sizes="(max-width: 830px) 100vw, 830px" /><figcaption id="caption-attachment-43370" class="wp-caption-text">FOTO: Bangunan Pos yang berada di pintu masuk kawasan Curug Cigangsa Kecamatan Surade tidak terawat.| ist</figcaption></figure>
<p>Menyikapi terbengkalainya objek wisata Curug Cigangsa perlu perhatian dari seluruh seluruh stakeholder. Untuk menata kembali perlu terbangun sinergitas semua pihak. Tapi jika ada pihak lokal yang benarni &#8220;tampil&#8221; itu akan jauh lebih baik.</p>
<p>Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jujun Junaeni saat dikonfirmasi lingkar pena.id mengatakan, tidak semua obyek wisata di bawah penguasaan Pemda baik tanah maupun obyeknya.</p>
<p>Sambung dia, tentunya peran serta masyarakat yang membuka dan mengelola lahan atau objek wisata sangat diperlukan.</p>
<p>&#8220;Selama anggaran ada tentu pemerintah akan memfasilitasi keberadaan obyek wisata di luar kewenangan Pemda. Akan tetapi ketika anggaran tidak ada maka keswadayaan menjadi alternatif terbaik,&#8221; pungkas Jujun Junaeni kepada lingkar pena, Sabtu (24/8/2024) malam.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/miris-curug-cigangsa-di-cpugg-bukti-sejarah-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dua Objek Wisata Pajampangan yang Mati Suri</title>
		<link>https://lingkarpena.id/dua-objek-wisata-pajampangan-yang-mati-suri/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/dua-objek-wisata-pajampangan-yang-mati-suri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Akoy Khoerudin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2024 17:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[WISATA]]></category>
		<category><![CDATA[Curug Cigangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Dua Objek Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten sukabumi]]></category>
		<category><![CDATA[Mati Suri]]></category>
		<category><![CDATA[Panorama Cikondang]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Pajampangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=39480</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/dua-objek-wisata-pajampangan-yang-mati-suri/" title="Dua Objek Wisata Pajampangan yang Mati Suri" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Dari sekian banyak destinasi wisata yang terhampar di Selatan Sukabumi, ada dua objek wisata yang saat ini kondisinya sepi pengunjung, bahkan satunya lagi nyaris &#8220;mati suri&#8221;.</p>
<p>Kedua objek wisata tersebut yakni Panorama Cikondang yang berada di Kecamatan Cimanggu dan Curug Cigangsa, terletak di Kampung Batu Suhun Kelurahan/Kecamatan Surade.</p>
<p>Curug Cigangsa, atau warga Pajampangan lebih mengenalnya dengan sebutan Curug Luhur, merupakan objek wisata sarat sejarah. Curug ini terletak di Kampung Batu Suhunan, Kelurahan Surade, Kabupaten Sukabumi, berjarak kurang lebih. 130 kilometer dari pusat Kota Sukabumi.</p>
<p>Untuk bisa sampai ke objek wisata Curug Cigangsa pengunjung bisa menempuhnya melalui ruas jalan Sukabumi via Palabuanratu dan Sukabumi via Jampangtengah &#8211; Lengkong.</p>
<p>Untuk saat ini pengunjung disarankan menggunakan ruas jalan Sukabumi Palabuanratu, kondisi jalan diruas tersebut cukup mulus bila dibandikan dengan ruas jalan Sukabumi via Lengkong.</p>
<p>Saat diperjalanan dari Sukabumi menuju objek wisata Curug Cigangsa pengunjung akan dimanjakan dengan segudang lukisan alam berupa hamparan kebun teh nan hijau dan lengangnya suasana hutan yang masih perawan.</p>
<p>Tapi sayang, entah karena kalah pamor atau kurang dikelola secara profesional, objek wisata Curug Cigangsa yang beberapa waktu lalu sempat viral dan menjadi primadona warga Pajampangan, kini nasibnya cukup memperihatinkan.</p>
<p>Hasil penelusuran Lingkar pena.id, kini di tempat tersebut tidak terdapat lagi papan nama Curug Cigangsa dan sepi pengunjung.</p>
<p>&#8220;<em>Tos lami teu ningali papan nama eta teh, duka kamana</em>. Sudah lama tidak melihat Papan nama itu, gak tahu kemana?&#8221; kata Adang (58) yang mengaku warga sekitar.</p>
<p>Selain papan nama yang tidak terlihat lagi, MCK dengan lima kamar mandipun kini kondisinya rusak. Bahkan, Torn penampung airpun sudak tidak nampak, yang ada hanya tinggal rangka besi penyangga torn yang sudah dimakan karat.</p>
<p>Tidak saja itu, saung tempat peristirahatan yang dulu kokoh berdiri kini sudah rata dengan tanah. Bahkan pos penjagaan pun tidak luput dari sasaran vandalisme. Dibagian bawah, dijalan menuju ke sungai ada beberapa anak tangga yang pada pecah pecah.</p>
<p>&#8220;Kalau memang itu dibangun menggunakan APBD Kabupaten Sukabumi, melalui Dispar, tentunya sudah ada kesepakatan dengan pengelolanya, &#8221; kata Kepala Dispar Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi kala itu.</p>
<p>Objek wisata Curug Cigangsa saat ini merindukan uluran tangan untuk perbaikan, dan kedepannya tempat wisata bersejarah itu wajib dikelola dengan sungguh sungguh baik dikelola oleh pihak ketiga ataupun pihak lainya.</p>
<p>Nasib serupa dialami pula oleh objek wisata Panorama Cikondang diKampung Cikondang RT06/02 Desa/ Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Sukabumi.</p>
<figure id="attachment_39482" aria-describedby="caption-attachment-39482" style="width: 1075px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-39482 " src="https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2024/04/WhatsApp-Image-2024-03-10-at-19.35.09-200x112.jpeg" alt="" width="1075" height="602" srcset="https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2024/04/WhatsApp-Image-2024-03-10-at-19.35.09-200x112.jpeg?v=1712512444 200w, https://lingkarpena.id/wp-content/uploads/2024/04/WhatsApp-Image-2024-03-10-at-19.35.09-640x358.jpeg?v=1712512444 640w" sizes="(max-width: 1075px) 100vw, 1075px" /><figcaption id="caption-attachment-39482" class="wp-caption-text">Gerbang masuk objek wisata Panorama Cikondang Kecamatan Cimanggu Sukabumi.| ist</figcaption></figure>
<p>Objek wisata yang satu ini dulu sempat menjadi tempat favorit pengunjung, tapi sayang kini nasibnya memperihatinkan.</p>
<p>Sekitar tahun 2019 objek wisata ini viral dan menjadi buruan para pengunjung lokal maupun dari luar Sukabumi.<br />
Tapi sekitar tahun 2022 &#8211; 2023 pamornya mulai redup dan semakin jarang orang berkunjung kesana.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/dua-objek-wisata-pajampangan-yang-mati-suri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Destinasi Wisata Curug Cigangsa Surade Perlu Pengelolaan Serius</title>
		<link>https://lingkarpena.id/destinasi-wisata-curug-cigangsa-surade-perlu-pengelolaan-serius/</link>
					<comments>https://lingkarpena.id/destinasi-wisata-curug-cigangsa-surade-perlu-pengelolaan-serius/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Mar 2024 06:29:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[WISATA]]></category>
		<category><![CDATA[Curug Cigangsa]]></category>
		<category><![CDATA[destinasi wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Surade Sukabumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lingkarpena.id/?p=38654</guid>

					<description><![CDATA[ <a class="read-more" href="https://lingkarpena.id/destinasi-wisata-curug-cigangsa-surade-perlu-pengelolaan-serius/" title="Destinasi Wisata Curug Cigangsa Surade Perlu Pengelolaan Serius" itemprop="url">Baca berita</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">LINGKARPENA.ID</span> |</strong> Objek wisata Curug Cigangsa terletak di Kampung Batusuhunan Kelurahan/Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, kini namanya nyaris terlupakan. Padahal objek wisata yang memiliki nilai historis bagi warga Surade ini, beberapa waktu lalu sempat viral dan banyak menarik pengunjung.</p>
<p>Kondisi Curug Cigangsa kini nasibnya memperihatinkan. Pamornya lenyap tergerus oleh nama-nama baru yang mulai menyita mata publik, sebut saja taman Pandan di Kecamatan Ciracap atau Desa Hanjeli di Kecamatan Waluran, atau Goa Megalodon yang mendunia.</p>
<p>Curug Cigangsa, Goa Megalodon dan Desa Hanjeli punya predikat sama yakni sebagai titik dari tujuh lintasan geowisata<br />
Unesco Global Geopark Ciletuh ( CUGG ) yang kita kenal selama ini. Bahkan untuk Curug Cigangsa memiliki nilai lebih, khususnya bagi warga Surade. Memang ironis. Kenapa pamor Curug Cigangsa pudar ?</p>
<p>Diahir masa tugasnya sebagai kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi, SE., saat dimintai tanggapan terkait kondisi Objek wisata Curug Cigangsa mengatakan, untuk mengelola objek wisata menjadi Daerah Tujuan Wisata ( DTW ) harus terpenuhi empat unsur,</p>
<p>Ke empat unsur tersebut antara lain, Attration ( daya tarik wisata ), Accesability (Aksesibilitas ), Amenities ( Fasilitas ) dan Ancillary (kelembagaan menyediakan layanan tambahan).</p>
<p>&#8220;Untuk menjadikan daerah tujuan wisata perlu dipenuhi empat unsur penting tadi dalam pengelolaannya,&#8221; terang Sigit kepada Lingkar Pena.</p>
<p>Ke empat aspek utama yang menjadi pondasi dalam pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata itulah yang tidak dimiliki Curug Cigangsa. Padahal ini modal penting untuk membangun suatu Daerah Tujuan Wisata ( DTW ) supaya bisa dikenal dan menarik banyak pengunjung.</p>
<p>Objek wisata Curug Cigangsa tidak memiliki ke empat faktor itu karena memang belum dikelola secara profesional. Dulu pernah dikelola tapi tidak jalan. Akibatnya kini objek wisata itu memprihatinkan.</p>
<p>Kondisi sekarang, jalan menuju ke kawasan Curug Cigangsa banyak ditumbuhi rumput liar, juga beberapa fasilitas yang pernah ada sebagai penunjang seperti pos jaga, MCK dan bangunan tempat istirahat nampak rusak dan tak terawat.</p>
<p>Sungguh prihatin! Padahal jika dikelola secara profesional bukan tak mungkin akan berdampak positif bagi geliatnya perekonomian warga sekitar.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lingkarpena.id/destinasi-wisata-curug-cigangsa-surade-perlu-pengelolaan-serius/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
