LINGKARPENA.ID | Objek wisata Curug Cigangsa terletak di Kampung Batusuhunan Kelurahan/Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, kini namanya nyaris terlupakan. Padahal objek wisata yang memiliki nilai historis bagi warga Surade ini, beberapa waktu lalu sempat viral dan banyak menarik pengunjung.
Kondisi Curug Cigangsa kini nasibnya memperihatinkan. Pamornya lenyap tergerus oleh nama-nama baru yang mulai menyita mata publik, sebut saja taman Pandan di Kecamatan Ciracap atau Desa Hanjeli di Kecamatan Waluran, atau Goa Megalodon yang mendunia.
Curug Cigangsa, Goa Megalodon dan Desa Hanjeli punya predikat sama yakni sebagai titik dari tujuh lintasan geowisata
Unesco Global Geopark Ciletuh ( CUGG ) yang kita kenal selama ini. Bahkan untuk Curug Cigangsa memiliki nilai lebih, khususnya bagi warga Surade. Memang ironis. Kenapa pamor Curug Cigangsa pudar ?
Diahir masa tugasnya sebagai kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi, SE., saat dimintai tanggapan terkait kondisi Objek wisata Curug Cigangsa mengatakan, untuk mengelola objek wisata menjadi Daerah Tujuan Wisata ( DTW ) harus terpenuhi empat unsur,
Ke empat unsur tersebut antara lain, Attration ( daya tarik wisata ), Accesability (Aksesibilitas ), Amenities ( Fasilitas ) dan Ancillary (kelembagaan menyediakan layanan tambahan).
“Untuk menjadikan daerah tujuan wisata perlu dipenuhi empat unsur penting tadi dalam pengelolaannya,” terang Sigit kepada Lingkar Pena.
Ke empat aspek utama yang menjadi pondasi dalam pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata itulah yang tidak dimiliki Curug Cigangsa. Padahal ini modal penting untuk membangun suatu Daerah Tujuan Wisata ( DTW ) supaya bisa dikenal dan menarik banyak pengunjung.
Objek wisata Curug Cigangsa tidak memiliki ke empat faktor itu karena memang belum dikelola secara profesional. Dulu pernah dikelola tapi tidak jalan. Akibatnya kini objek wisata itu memprihatinkan.
Kondisi sekarang, jalan menuju ke kawasan Curug Cigangsa banyak ditumbuhi rumput liar, juga beberapa fasilitas yang pernah ada sebagai penunjang seperti pos jaga, MCK dan bangunan tempat istirahat nampak rusak dan tak terawat.
Sungguh prihatin! Padahal jika dikelola secara profesional bukan tak mungkin akan berdampak positif bagi geliatnya perekonomian warga sekitar.






