LINGKARPENA.ID | Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Hj. Dewi Asmara, S.H., M.H., menghadiri rangkaian Syukuran Nelayan Desa Ciwaru ke-69 yang digelar di kawasan Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jumat (17/7/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Dewi Asmara bersama Wakil Bupati Sukabumi, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, serta ratusan nelayan mengikuti prosesi budaya hingga pelepasan benih ikan hias dan tukik (anak penyu) di perairan Pulau Kunti sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem laut.
Menurut Dewi Asmara, tradisi Syukuran Nelayan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir atas limpahan rezeki dari laut sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam.
“Kita semua hadir menyaksikan Syukuran Nelayan ke-69 di Desa Ciwaru. Ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada para nelayan untuk mencari nafkah di laut. Laut bukan hanya hamparan air, tetapi merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mengapresiasi pelaksanaan pelepasan benih ikan dan tukik yang menjadi bagian dari rangkaian acara. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya laut.
“Hari ini kita tidak hanya menabur benih ikan, tetapi juga melepas tukik. Ini menunjukkan bahwa syukuran nelayan juga menjadi momentum untuk merawat alam dan menjaga laut agar tetap lestari untuk generasi mendatang,” katanya.
Dewi menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Generasi muda boleh menyerap teknologi yang semakin maju, tetapi jangan meninggalkan budaya lokal. Tanpa budaya, identitas kita akan hilang. Tradisi seperti ini harus terus dijaga karena menjadi perekat kebersamaan masyarakat,” ungkapnya.
Ia mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat yang mengikuti arak-arakan puluhan kapal hias menuju lokasi pelarungan benih di tengah laut.
“Meski hiasan perahu dibuat sederhana dengan bahan seadanya, semangat kebersamaan masyarakat sangat luar biasa. Sekitar 40 kapal hias ikut berlayar bersama. Itulah yang menghadirkan rasa gotong royong, kegembiraan, dan kekompakan warga nelayan,” tuturnya.
Selain menjadi tradisi budaya, Dewi menilai Syukuran Nelayan Ciwaru memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurutnya, sektor pariwisata saat ini tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang dimiliki suatu daerah.
“Budaya juga merupakan bagian dari pariwisata. Syukuran nelayan, Seren Taun, hingga berbagai kesenian tradisional merupakan kekayaan budaya Sukabumi yang bisa menjadi daya tarik wisata. Gunung, rimba, laut, dan pantai yang dimiliki Sukabumi adalah kekuatan yang harus terus dipromosikan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti potensi wisata bahari di kawasan Pulau Kunti yang dinilai memiliki panorama bawah laut yang menjanjikan untuk aktivitas menyelam (diving).
“Pulau Kunti memiliki pasir putih dan potensi bawah laut yang sangat bagus. Wisata diving bisa dikembangkan sehingga menarik penyelam dari berbagai negara. Jika dipromosikan secara masif melalui media sosial dan didukung pembangunan sarana prasarana, kawasan ini bisa menjadi destinasi wisata unggulan seperti Labuan Bajo maupun Bali,” katanya.
Tak hanya itu, Dewi juga mendorong pengembangan sport tourism di kawasan Geopark Ciletuh melalui berbagai kegiatan seperti lomba perahu layar maupun olahraga wisata bahari lainnya.
Menurutnya, promosi pariwisata harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, media, dan masyarakat.
“Pariwisata harus menjadi usaha yang berkelanjutan. Jangan hanya semangat di awal, tetapi harus terus dipromosikan. Saya berharap pemerintah daerah, Dinas Pariwisata, media, dan masyarakat bersama-sama memperkenalkan potensi Geopark Ciletuh agar semakin dikenal luas,” pungkasnya.






