LINGKARPENA.ID | Pondok Pesantren (Ponpes) Baitussalam, Cibolang Girang, RT 27/06 Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, menggelar Wisuda Tahfidz Al-Qur’an, untuk gelombang 2, pada Jumat, 13 Juni 2025.
Acara wisuda gelombang 2 yang diikuti oleh ratusan santri tersebut berlangsung di halaman Pondok Pesantren Baitussalam dengan hidmat.
Mereka yang mengikuti wisuda merupakan terdiri dari siswa/i PaudQu/TK Al-Qur’an, MI, MDT, MTs dan MA yang ada dibawah naungan Yayasan Baitussalam (Yanba).
Wisuda tahfidz al-quran gelombang 2, ini turut dihadiri oleh Kepala Satuan Pendidikan dari mulai TK sampai MA.
Turut hadir Kepala TK Al-Qur’an/PaudQu Baitussalam, Ustadzah Hj. Eneng Hamilah Sopriatul Badriah, S.H., S.Pd.I., Kepala MI/MDT Baitussalam, KH. Iim Abdul Karim, S.H., S.Pd.I., M.M.Pd., M.Si., Kepala MTs Baitussalam, KH. Maman Abdurrahman, S.Pd.I., M.M.Pd., M.Si., Kepala MA Baitussalam, Ustadz Acep Abdul Aziz, S.T., Ketua Yayasan, Dr. KH. Uwoh Abdullah, MA., Komite Mardasah serta tamu undangan lainnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan sekaligus Pimpinan Ponpes Baitussalam, Abuya KH. Onen Qurnaen, S.Pd.I., yang didampingi istri Hj. Tati Kartati, dalam sambutannya mengajak semua santri untuk terus meningkatkan capaian yang sudah didapat selama ini.
Selain itu beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para dewan guru yang selalu gigih dalam membimbing para santri sela ini. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para wali santri/siswa yang sudah mempercayakan Ponpes Baitussalam dalam menggembleng anak-anaknya dalam menuntut ilmu.
“Saya berpesan kepada para santri untuk terus belajar terutama murojaah Al-Quran setiap saat. Mengulang ulang hafalan atau pelajaran untuk menjaga hafalan tetap terjaga itu sangat penting ya,” pesan Abuya KH Onen Qurnaen, dihadapan para santri.
Lebih jauh Abuya juga menekankan, murojaah merupakan salah satu metode penting yang efektif dalam menghafal Al-Qur’an. Menurut beliau ada beberapa cara untuk melakukan murojaah.
“Mengulang hafalan dalam hati. Mengulang hafalan dengan mengucapkan secara lisan, atau mengulang membaca Al-Qur’an yang sudah dihafal secara langsung,” terangnya.
“Atau Murojaah berbeda dengan tasmi, yang artinya memperdengarkan hafalan sehingga wajib ada pendengar atau penyimak saat menghafal,” pungkasnya.**






