Seni Beluk Sunda Mulai Tersingkir, Upaya Pelestarian Didorong Kembali

Gambar Istimewa, paduan Beluk budaya Sunda.| ist/net

LINGKARPENA.ID | Beluk, seni vokal tradisional khas Sunda yang dahulu menggema di berbagai daerah Tatar Sunda, kini semakin jarang terdengar. Seni bernilai tinggi yang dulu berfungsi sebagai sarana komunikasi dan ritual adat ini perlahan tersisih oleh budaya populer dan minimnya minat generasi muda untuk melestarikannya.

Seni beluk dikenal memiliki karakter vokal khas, dengan teknik suara yang melengking dan bergema tanpa iringan alat musik. Dalam masyarakat Sunda tempo dulu, beluk kerap dilantunkan dalam berbagai upacara adat, kegiatan pertanian, hingga ritual spiritual. Namun kini, fungsinya bergeser menjadi sekadar hiburan dan terkadang dikolaborasikan dengan alat musik modern.

“Generasi muda saat ini cenderung lebih tertarik pada musik dan hiburan modern. Akibatnya, regenerasi pelaku seni beluk berjalan lambat bahkan nyaris berhenti,” ujar salah satu pemerhati budaya Sunda di Sukabumi, Rabu (15/10/2025).

Baca juga:  Disdikbud Kota Sukabumi Gelar Rapat Bahas Teknis Soal WBTB

Selain faktor minat, lemahnya dukungan pemerintah dan lembaga budaya terhadap kesenian tradisional juga menjadi tantangan tersendiri. Minimnya pelatihan, pendanaan, dan promosi membuat beluk semakin kehilangan ruang tampil di tengah masyarakat.

Padahal, beluk bukan sekadar hiburan, tetapi juga warisan budaya yang sarat nilai filosofi. Dalam setiap lantunannya terkandung pesan tentang ketenangan, kesabaran, dan keikhlasan, mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang lembut dan berbudaya tinggi.

Jejak Beluk di Pajampangan Mulai Memudar

Di wilayah Pajampangan, Kabupaten Sukabumi, beluk sempat mencapai masa kejayaan pada dekade 1970-an. Saat itu, beluk menjadi kesenian populer yang sering dihadirkan dalam berbagai acara keluarga, seperti hajatan, nadar, hingga khitanan anak.

Baca juga:  Bupati Sukabumi Meriahkan Pesta Kesenian Adat Karo, Pererat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Salah satu nama legendaris yang dikenal luas pada masa itu adalah Mang Kanta, seniman beluk asal Kecamatan Surade. Suaranya yang khas dan kemampuan vokalnya yang luar biasa membuat setiap penampilannya selalu ditunggu masyarakat.

Namun, sejak era 1980-an, pamor beluk di Pajampangan mulai meredup. Generasi penerus semakin langka, dan masyarakat lebih memilih hiburan modern seperti musik dangdut dan pop. Setelah Mang Kanta wafat, hampir tak ada lagi seniman beluk yang mampu tampil secara konsisten di wilayah tersebut.

Perlu Upaya Serius untuk Pelestarian

Melihat kondisi tersebut, berbagai pihak mendorong adanya langkah konkret dalam upaya pelestarian seni beluk. Pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, komunitas seni, hingga masyarakat diharapkan dapat berkolaborasi menghidupkan kembali kesenian tradisional yang mulai terlupakan ini.

Baca juga:  Candi Brobudur Resmi Miliki Sertifikat

Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui pendidikan budaya di sekolah, pelatihan bagi generasi muda, festival seni tradisi, hingga dokumentasi digital agar beluk dapat dikenal lebih luas di era modern. Selain itu, dukungan media dan promosi di platform digital juga dinilai penting untuk menarik minat masyarakat, khususnya anak muda.

“Seni beluk adalah bagian dari identitas budaya Sunda. Kalau kita biarkan hilang, maka kita kehilangan salah satu jati diri kita,” ujar pemerhati budaya tersebut.

Dengan semangat kolaborasi dan kesadaran kolektif, beluk diyakini masih memiliki peluang untuk hidup kembali di tengah arus modernisasi. Suara khasnya yang menggema dapat terus menjadi simbol keindahan, harmoni, dan kearifan lokal masyarakat Sunda.**

Pos terkait