Kepala Puskesmas Cikidang Dampingi Wabup Kunjungi Siti Maryam Penderita TBC Tulang Belakang

FOTO: Kepala Puskesmas dan tim nakes mendampingi wakil Bupati Sukabumi, saat mengunjungi kediaman Siti Maryam balita penderita TBC Tulang di Desa Mekar Nangka Cikidang, Rabu (24/9) malam.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Kepala Puskesmas Cikidang bersama tim Tenaga Kesehatan (Nakes) mendampingi Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas dan unsur Forkopimcam Cikidang, mengunjungi kediaman Siti Mariyam Balita 5 Tahun, penderita TBC Tulang warga Kampung Lembur Jame, Desa Mekar Nangka Kecamatan Cikidang, pada Rabu, 24 September 2025.

Diketahui Siti Maryam merupakan anak malang yang sudah ditinglkan oleh kedua orangtuanya (Yatim Piatu). Saat ini Balita penderita Tuberkulosis tulang belakang TBC tulang belakang ini tinggal bersama Kakek dan Neneknya serta saudara orangtuanya di Kampung Lembur Jambe, Desa Mekar Nangka Cikidang.

“Hari ini kami bersama tim nakes Puskesmas Cikidang, mendampingi Pak Wakil Bupati, untuk kembali mengunjungi kediaman Siti Maryam, dengan diagnosa Spondilitis TB (Infeksi tulang belakang) sekaligus persiapan untuk rujukan ke RSHS,” jelas Kapus Cikidang, Hj. Edeh Sumiatai, S.Tr.Keb, M.Si., kepada lingkarpena.id Kamis (25/9).

Baca juga:  Wabup Andreas: Sinergi Eksekutif dan DPRD Kunci Tata Kelola Keuangan yang Berkualitas

Selain itu, pihak nakes Puskesmas Cikidang turut melakukan Skrining tb seperti pemeriksaan dahak pada orang bergejala pihak keluarga dan warga sekitar penderita.

Lanjut Kapus Cikidang, TBC tulang adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar ke tulang melalui aliran darah, paling sering dari infeksi TBC paru. Bentuk yang paling umum adalah TBC tulang belakang, juga dikenal sebagai penyakit Pott.

Penyebab utama TBC tulang adalah infeksi bakteri TBC. Bakteri kemudian menyebar ke tulang dari lokasi infeksi lain di tubuh, seperti paru-paru. Faktor risiko seseorang terkena TBC tulang meliputi:
Sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya karena HIV/AIDS atau diabetes), Kontak erat dengan penderita TBC aktif dan Kondisi autoimun.

Baca juga:  Wabup Sukabumi: Santri Harus Jadi Penggerak Perubahan dan Penjaga Nilai Kebangsaan

“Diagnosis TBC tulang ini memerlukan pemeriksaan yang komprehensif ya, karena gejalanya tidak selalu jelas. Nanti lebih jelasnya setelah diperikasa di RSHS. Ya, nantinya kan, ada beberapa metode diagnosis meliputi:
Pemeriksaan fisik: Untuk memeriksa nyeri, pembengkakan, atau kelainan bentuk tulang. Studi pencitraan: Rontgen, CT scan, atau MRI untuk melihat kerusakan pada tulang dan sendi. Terus, tes laboratorium: Kultur cairan dari sendi atau tulang yang terinfeksi dan tes darah untuk mendeteksi bakteri TBC,” jelasnya.

Baca juga:  Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi Melaksanakan Shalat Idul Fitri di Masjid Agung Palabuhanratu

“Pengobatan TBC tulang lumayan membutuhkan waktu yang cukup lama dan kombinasi terapi. Misal Obat antituberkulosis (OAT): Penggunaan antibiotik, seperti rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol. Itu selama 9 bulan bahkan hingga 1 tahun,” tutur Kapus Cikidang.

Lanjutnya, operasi dibutuhkan pada kasus yang parah, terutama jika ada komplikasi saraf, kerusakan tulang, atau kelainan bentuk tulang belakang. Operasi bertujuan untuk membersihkan nanah dan menstabilkan tulang.

Kasus ini sudah menjadi perhatian wakil Bupati Sukabumi, seperti biaya pengobatan Siti kedepan akan menggunakan BPJS, seentara untuk tempat tinggal Siti Maryam dan keluarga sudah dikoordinasikan ke Dinas Perkim Kabupaten Sukabumi untuk mendapatkan bantuan program Rutilahu.

Pos terkait