Herman, sang guru honorer yang beralih profesi saat menjajahkan Permen Jahe di Jalan Raya Simpang Ratu, Cibadak, Kabupaten Sukabumi. [Foto: Lap]

Imbas Pandemi, Guru Honorer di Sukabumi Banting Setir Jadi Pedagang Asongan

KABUPATEN SUKABUMI
Spread the love

Lingkarpena.id, Kabupaten Sukabumi – Seorang berprofesi guru honorer di Kabupaten Sukabumi banting setir menjalani profesi barunya menjadi pedagang asongan di Jalan Raya Simpang Ratu, Cibadak, Kabupaten Sukabumi belum lama ini. Sebelumnya sang pedagang asongan tersebut, menjalani profesi sebagai guru honorer olah raga ekstrakurikuler di salah satu Sekolah Dasar Negeri di wilayah Cibadak Kabupaten Sukabumi.

Dia adalah Herman, asal warga Kampung Kamandoran RT 01/10 Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Dirinya terpaksa banting setir untuk menghidupi keempat orang anak-anaknya. Herman sudah lama hidup menyendiri dan fokus membesarkan keempat anaknya tersebut dengan menjalani sebagai guru honorer. Namun, kini dia banting setir menggeluti pekerjaan barunya dengan menjajahkan Permen Jahe di sepanjang Jalan Raya Simpang Ratu Cibadak.

Baca juga:
Doa Terus Mengalir untuk Guru Honorer yang Mengajar di Atas Perahu di Cibitung

Untuk mencari nafkah dan menghidupi keempat anaknya, Herman setiap hari harus berjalan kaki sejauh 1 kilo meter. Dari lokasi tempat tinggalnya ke titik dimana ia menjajahkan dagangannya cukup lumayan. Namun semangat Herman untuk terus berjuang guna mempertahankan hidup dengan keempat anak-anak nya.

“Profesi jadi pedagang asongan saya jalani ini semenjak adanya pemberlakuan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan pemerintah. Ya sangat berdampak bagi saya sebagai guru honorer olah raga tentunya,” kata Herman, kepada, lingkarpena.id, saat dijumpai di lokasi kerjanya di Jalan Raya Simpang Ratu, Cibadak, Jumat (13/8/2021) sore.

Dikatakan Herman, semenjak adanya pandemi Covid-19 dirinya tidak bisa lagi menjalankan profesinya sebagai guru olah raga ekstrakurikuler. Keputusan dan arahan kepala Sekolah meniadakan kegiatan yang biasa dia lakukan karena alasan pandemi Covid-19. Akhirnya ia harus menjadi pedagang asongan guna menopang kebutuhan hidup dan membiayai ketiga anaknya yang sudah bersekolah.

Baca juga:
Putus Sekolah Akibat Pandemi, Kini Kedua Anak Sopir Angkot itu Keliling Berjualan Gorengan

“Ya apa mau dikata hidup harus saya jalani, walau hanya berpenghasilan rendah dari jualan ini. Jangankan buat biaya sekolah anak-anak saya, untuk bisa makan sehari-hari saja saya sudah sangat bersyukur,” terang Herman.

Ditambahkan Herman, sejak diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah saat ini, dampak makin terasa. Pernah dia alami pada suatu hari bersama para pedagang lainnya di wilayah tempat mereka berjualan hingga tidak mendapatkan penghasilan. Pulang kerumah dengan kembali membawa dagangan tanpa membahas hasil sama sekali.

“Bantuan? Saya selama pandemi Covid-19 tidak pernah mendapatkan atau menerima bantuan. Iya, tau orang sering berkata dapat bantuan pemerintah. Alhamdulillah, saya hingga saat ini belum pernah terima itu bantuan. Ya bantuan dari Pusat, Provinsi, maupun dari Kabupaten Sukabumi sama sekali tidak pernah dapat bantuan sosial,” tuturnya.

 

Reporter: Lap
Redaktur: Akoy Khoerudin

Tinggalkan Balasan