Masykur Alawi: Ungkap Hasil Labkesda Dugaan Keracunan MBG di SMKN 1 Gunungguruh

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Maskyur Alawi.[foto: ist]

LINGKARPENA.ID | Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Gunungguruh, Desa Cibolang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel air dan usap peralatan makan.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam penyelidikan kasus yang terjadi pada Jumat, 2 Oktober 2026. Meski demikian, sampel makanan yang dikonsumsi para siswa tidak dapat diperiksa karena laporan kejadian baru diterima Dinas Kesehatan pada 7 Oktober 2026.

 

“Karena melaporkannya itu ada jeda waktu lima hari, sehingga ada sampel yang tidak bisa kita periksa karena sudah tidak ada, yaitu sampel makanan,” ungkap Masykur saat menyampaikan hasil investigasi.

 

Menurutnya, keterlambatan pelaporan menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi kecepatan penanganan korban sekaligus proses penelusuran sumber penyebab kejadian.

 

Masykur menegaskan, dalam setiap kejadian luar biasa (KLB), termasuk dugaan keracunan makanan, prioritas utama Dinas Kesehatan adalah menyelamatkan korban. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya pelaporan segera ketika ditemukan kejadian serupa.

 

“Fokus kami adalah penyelamatan nyawa. Jadi, bayangkan ketika tanggal 2 terjadi dugaan keracunan makanan, tetapi baru terlaporkan kepada kami tanggal 7,” ujar Maskyur, Jumat ( 16/10/2026 ).

Baca juga:  Remaja Putri di Sukabumi Akhiri Hidupnya dengan Keji

 

Ia juga menegaskan bahwa sekolah maupun masyarakat tidak seharusnya merasa dilarang melaporkan kejadian yang berpotensi membahayakan kesehatan penerima manfaat MBG.

 

Sebanyak 212 Orang Mengalami Gejala

 

Berdasarkan hasil akhir pendataan dan penyelidikan epidemiologi yang dilakukan tim Dinas Kesehatan bersama puskesmas, tercatat sebanyak 212 orang mengalami gejala yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Dari jumlah itu, lima orang sempat dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

 

Masykur memastikan seluruh korban telah mendapatkan penanganan dengan baik dan saat ini dinyatakan sehat.

 

Namun, karena sampel makanan sudah tidak tersedia saat penyelidikan dilakukan, pemeriksaan laboratorium hanya dapat dilakukan terhadap sampel lain yang masih memungkinkan untuk diuji, yakni sampel air dan usap peralatan.

 

Temuan bakteri E. coli pada kedua jenis sampel tersebut mengarah pada dugaan adanya persoalan higiene dan sanitasi dalam proses penyediaan maupun penyajian makanan. Meski demikian, sumber pasti kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi siswa belum dapat dipastikan melalui pemeriksaan langsung terhadap sampel makanan.

 

Masykur menyebut menu dimsum yang dikonsumsi pada hari kejadian turut menjadi perhatian dalam penelusuran. Akan tetapi, kepastian hubungan antara menu tersebut dan kejadian dugaan keracunan perlu mempertimbangkan seluruh hasil investigasi yang tersedia.

Baca juga:  Curug Cikaso Cibitung Kembali Menelan Korban Jiwa

 

Ditemukan Sejumlah Kekurangan di SPPG

 

Selain pemeriksaan laboratorium, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi juga melakukan penyelidikan kesehatan lingkungan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikujang yang terkait dengan penyediaan MBG untuk sekolah tersebut.

 

Hasil investigasi menemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki. Di antaranya, jumlah penjamah makanan yang telah memiliki sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) masih kurang dari 50 persen, sedangkan standar minimal yang disampaikan dalam pemeriksaan adalah 50 persen.

 

Tim juga menemukan fasilitas pemanas air ( water heater ) untuk mencuci peralatan makan tidak berfungsi. Selain itu, belum tersedia alat sterilisasi peralatan makan dan belum dilakukan pengukuran suhu ruangan yang dilengkapi lembar pemeriksaan atau checklist

 

Temuan-temuan tersebut menjadi catatan penting untuk meningkatkan penerapan standar keamanan pangan dan sanitasi dalam penyediaan makanan bagi para penerima manfaat program MBG.

 

Berdasarkan hasil investigasi, makanan dari program MBG diterima pihak sekolah sekitar pukul 10.00 WIB pada 2 Oktober 2026, kemudian dikonsumsi siswa dan guru sekitar pukul 12.30 WIB.

Baca juga:  39 Siswa SDN Bojongkoneng Cibadak Keracunan Susu Kadaluwarsa SPPG, Kadiskes Berikan Pernyataan

 

Dinkes Siapkan Rekomendasi Perbaikan

 

Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi menyiapkan rekomendasi kepada sejumlah pihak, yakni puskesmas, sekolah, dan SPPG, guna mencegah kejadian serupa terulang.

 

Untuk puskesmas, rekomendasi yang disampaikan antara lain melanjutkan edukasi kepada masyarakat, guru, siswa, wali murid, serta karyawan SPPG mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta penerapan higiene dan sanitasi.

 

Sementara itu, sekolah dan SPPG diharapkan memperkuat pengawasan terhadap keamanan makanan, kebersihan peralatan, kualitas air yang digunakan, serta kepatuhan terhadap prosedur pengolahan dan penyajian makanan.

 

Masykur menekankan, hasil pemeriksaan laboratorium dan temuan investigasi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama agar penyelenggaraan program MBG tetap mengutamakan keamanan pangan dan kesehatan penerima manfaat.

 

“Setidaknya ada tiga rekomendasi dari kami, pertama untuk puskesmas sebagai unit pelaksana teknis kami, yang kedua untuk sekolah, dan yang ketiga untuk SPPG,” ujarnya.

 

Ia berharap penguatan pengawasan, perbaikan fasilitas sanitasi, serta percepatan pelaporan dapat dilakukan secara konsisten sehingga potensi kejadian serupa bisa dicegah sejak dini.

 

Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak terkait demi menjaga prinsip keberimbangan dalam

pemberitaan.

Pos terkait