LINGKARPENA.ID | Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi merilis, akibat bencana Hydrometerologi yang terjadi sejak 3 – 5 Desember 2024 tercatat 205 desa dan 39 kecamatan terdampak.
Dari 39 kecamatan terdampak, ada empat kecamatan aman atau terdampak tidak signifikan, yakni Kecamatan Parungkuda, Caringin, Parakansalak, dan Kecamatan Sukalarang.
Data update infografis yang dirilis BPBD edisi 17 Desember 2024, dikeluarkan pada pukul 17.00 WIB, tercatat dari keempat masing masing kecamatan tidak menunjukan kondisi parah (pada kerusakan rumah dan warga terdampak).
Pada data tersebut di empat kecamatan itu tidak ada warga terdampak yang diungsikan. Sementara untuk kerusakan rumah tercatat di Kecamatan Parungkuda hanya ada 1 rumah dengan kondisi rusak ringan.
Sementara di Kecamatan Caringin rumah rusak berat 1, rusak sedang 1 dan rusak ringan 2 unit. Kecamatan Parakansalak hanya ada 1 rumah yang rusak berat. Malahan yang terjadi di Kecamatan Sukalarang tidak ada satu pun rumah rusak.
Lantas kenapa Kecamatan Surade tidak masuk dalam 39 kecamatan terdampak? Ini perlu dilakukan crosscek. Sebab, pantauan lingkar pena.id dilapangan, saat bencana terjadi ada beberapa titik lokasi yang terendam banjir.
Sebaran titik lokasi banjir di Kecamatan Surade yang terjadi pada Rabu, 4 Desember 2024, antara lain di Kampung Cipeundeuy, Kampung Badak Nawing dan Kampung Ciodeng. Sementara di Kampung Ciodeng, Desa Buniwangi 1 unit rumah terbawa arus sungai dan mengalami rusak sedang. Beberapa rumah yang berada di sekitar jembatan Cipamarangan Desa Cipeundeuy juga turut terendam banjir.
Melihat kondisi tersebut, kenapa Surade dan tidak masuk daftar 39 kecamatan terdampak? Apakah untuk masuk list tersebut harus ada infastruktur yang rusak? Atau harus ada warga yang diungsikan? Jika dibandingkan dengan Kecamatan Sukalarang jelas Kecamatan Surade dan jauh lebih layak untuk masuk daftar kecamatan terdampak. Atau memang pelaporan dari P2BK yang dinilai lambat?
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Surade, Solih Sunarya saat dikonfirmasi mengungkapkan, bahwa pihaknya selalu update melaporkan setiap kejadian di wilayahnya.
“Saya selalu update melakukan pelaporan ke BPBD. Terkait dengan adanya rumah terdampak di Desa Buniwangi memang saya tidak mendapat laporan dari pemerintah Desa Buniwangi,” ujar Solih kepada Lingkar Pena Jumat (20/12).
Dijelaskan Solih, ada dua jembatan yang terdampak bencana, yakni di Desa Wanasari dan Desa Cipeundeuy. Solih mengaku kejadian itu pun sudah dilaporkan ke BPBD.
Senada dengan Solih, Camat Surade U Suryana kepada lingkar pen. Id menuturkan, bahwa pihaknya selalu update melakukan pelaporan ke BPBD, dan pelaporan sumbernya dari para kepala desa.
“Kami selalu melakukan pelaporan ke BPBD. Laporan yang disampaikan itu berdasarkan laporan dari para kepala desa. Ada dua jembatan terdampak di wilayah Surade, yang di Desa Wanasari dan di Desa Cipeundeuy, itu sudah kita laporkan lebih awal,” terang Suryana.
Lanjut kata Suryana, untuk rumah terdampak yang ada di Desa Pasiripis kejadiannya tidak bersamaan dengan bencana yang menerjang wilayah Kabupaten Sukabumi secara masal, tetapi terjadi pada tanggal 12 Desember 2024.
Hingga berita ini tayang, Kepala Pelaksana Kalak BPBD Kabupaten Sukabumi, Deden, belum berhasil dihubungi.






