LINGKARPENA.ID | Pagi baru saja merekah di pesisir selatan Sukabumi, Selasa (24/3/2026), ketika harapan dan duka kembali berkelindan di Pantai Alor Cilangkob, Tenda Biru, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Setelah dua hari pencarian yang melelahkan, tim SAR gabungan akhirnya menemukan korban terakhir kecelakaan laut yang sempat menyita perhatian warga dan wisatawan.
Sekitar pukul 07.00 WIB, jasad Acep (26), warga Kampung Panyanguan, Desa Kalibunder, ditemukan mengambang di perairan tak jauh dari lokasi awal kejadian. Laut yang sejak pagi tampak tenang justru menyimpan kisah pilu di baliknya.
Komandan Pos TNI AL Ujunggenteng, Lettu Laut (P) Andri Kurniawan, mengungkapkan bahwa korban ditemukan dalam radius sekitar 400 meter dari titik kejadian.
“Korban terlihat mengambang di permukaan laut. Lokasinya tidak terlalu jauh dari titik awal insiden, dan langsung kami evakuasi menggunakan perahu nelayan,” ujarnya.
Sejak subuh, tepatnya pukul 06.00 WIB, tim SAR gabungan telah kembali menyisir perairan. Mereka terdiri dari berbagai unsur, mulai dari TNI AL, Polairud, kepolisian sektor setempat, Basarnas, hingga relawan dan nelayan yang turut bahu-membahu dalam pencarian.
Upaya itu akhirnya membuahkan hasil dalam waktu relatif singkat. Namun, kabar yang datang tetap menyisakan kesedihan mendalam.
“Kurang lebih satu jam pencarian, korban berhasil ditemukan. Dengan ditemukannya korban terakhir, seluruh korban laka laut ini sudah lengkap tiga orang,” kata Andri.
Sebelumnya, dua korban lain, Abdul Tafsir (7) dan Ujang Abduloh (30), telah lebih dahulu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada hari kejadian. Tragedi ini pun meninggalkan luka bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Dengan selesainya proses evakuasi, operasi pencarian resmi dihentikan. Aktivitas di pesisir kembali berjalan, namun suasana duka masih terasa di antara debur ombak yang tak pernah berhenti.
Pihak TNI AL pun kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan bagi siapa pun yang beraktivitas di kawasan pantai selatan Sukabumi. Karakter ombak yang tinggi dan arus laut yang kerap berubah tanpa peringatan menjadi ancaman nyata.
“Pantai selatan memiliki dinamika gelombang yang tidak bisa diprediksi. Kami mengimbau masyarakat dan wisatawan agar selalu berhati-hati,” tutup Andri.
Di balik keindahan alam Ujunggenteng, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa laut, selain memberi kehidupan, juga menyimpan risiko yang tak bisa dianggap remeh.






