Rumah Ambruk di Citamiang, Satu Keluarga Mengungsi Bayi Dua Bulan Ikut Terdampak

Caption : warga setempat turut dalam evakuasi

LINGKARPENA.ID | Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Sukabumi pada Minggu petang (19/4/2026) menyisakan duka bagi keluarga Kamil, warga Babakan Bandung RT 01 RW 03, Kelurahan Nanggeleng, Kecamatan Citamiang. Sekitar pukul 18.30 WIB, rumah sederhana yang mereka tempati ambruk, diduga akibat cuaca ekstrem yang memperparah kondisi bangunan yang telah lapuk.

Di tengah suasana gerimis yang belum sepenuhnya reda, puing-puing bangunan terlihat berserakan. Kayu penyangga yang rapuh tak lagi mampu menahan beban, hingga akhirnya roboh seketika. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, satu keluarga yang terdiri dari 1 kepala keluarga dengan 7 jiwa termasuk seorang bayi berusia sekitar dua bulanharus kehilangan tempat tinggal.

Baca juga:  Kemenhub: Terbitkan Surat Edaran Penerapan Prokes Perjalanan Dalam Negeri, Ini Poin-Poinnya

Sementara, keluarga tersebut terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat demi keselamatan.

Tim gabungan dari BPBD Kota Sukabumi bersama aparat kelurahan, RT/RW, serta warga setempat langsung bergerak cepat melakukan evakuasi dan penanganan darurat. Petugas lapangan seperti Asep Nedi, Ade Ruswandi, Ade Suryana, Asep Khoerudin, Asep Nurman, M. Mu’adz, M. Ravi, M. Hisyam, hingga Mahendra Taufik Aruan turut bahu-membahu membersihkan material rumah yang ambruk.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yosef Sabaruddin, menyampaikan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat penting akan kerentanan bangunan lama di tengah cuaca ekstrem yang belakangan sering terjadi.

Baca juga:  Kapolres Sukabumi Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan Saat Perjalanan Lebaran

“Dari hasil assessment sementara, penyebab utama ambruknya rumah adalah kondisi bangunan yang sudah lapuk dan diperparah oleh intensitas hujan yang cukup tinggi. Kami memastikan tidak ada korban jiwa, namun seluruh penghuni terdampak dan saat ini sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman,” ujar Yosef kepada lingkarpena. id, Senin ( 20/4/2026 ).

Ia juga menambahkan bahwa rumah tersebut sebelumnya telah diajukan dalam program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), namun belum sempat direalisasikan.

“Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar penanganan lanjutan bisa segera dilakukan, termasuk mendorong percepatan bantuan Rutilahu. Untuk sementara, kebutuhan mendesak korban seperti selimut, kasur lipat, sembako, serta perlengkapan bayi dan keluarga menjadi prioritas,” tambahnya.

Baca juga:  Uji Coba Sirine Tsunami Digelar di SDN Loji, Simpenan: Bentuk Peningkatan Kesiapsiagaan Masyarakat Pesisir

Di tengah keterbatasan, solidaritas warga sekitar menjadi kekuatan tersendiri. Mereka bergotong royong membantu evakuasi dan memberikan dukungan bagi keluarga terdampak.

Peristiwa ini menjadi cermin bahwa di balik derasnya hujan, ada kerentanan yang kerap luput dari perhatian rumah-rumah tua yang diam-diam menunggu waktu untuk runtuh.

Kini, harapan keluarga Kamil bertumpu pada uluran tangan dan perhatian semua pihak, agar dapat kembali memiliki tempat berteduh yang layak dan aman.

 

Pos terkait