LINGKARPENA.ID | Tiga puluh tahun telah berlalu sejak Peristiwa 27 Juli 1996 mengguncang perjalanan demokrasi Indonesia. Namun bagi H. Ucok Haris Maulana, luka dan kenangan dari peristiwa yang dikenal sebagai Sabtu Kelabu itu masih membekas kuat. Peristiwa tersebut bukan hanya menjadi bagian dari sejarah nasional, tetapi juga menjadi titik balik yang mengubah arah kehidupannya.
Menjelang peringatan 27 Juli, mantan aktivis pergerakan yang kemudian dipercaya menjabat sebagai Wakil Bupati Sukabumi periode 2000–2005 itu kembali mengenang perjalanan panjang yang pernah dilaluinya.
Di kediamannya di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/7/2026), Ucok bercerita tentang masa-masa ketika idealisme harus dibayar dengan kebebasan.
Ia mengaku tahun ini kembali menerima undangan untuk menghadiri peringatan Peristiwa 27 Juli setelah beberapa tahun sebelumnya tidak pernah diundang. Bagi Ucok, undangan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi pengingat akan rekan-rekan seperjuangan yang pernah bersama-sama menghadapi tekanan pada masa itu.
Menurutnya, perjuangan yang mereka lakukan tidak pernah bertujuan mencari penghargaan ataupun jabatan. Yang mereka perjuangkan saat itu adalah keyakinan terhadap demokrasi dan hak untuk menyampaikan aspirasi.
Ucok kemudian mengenang saat aparat mengamankan dirinya bersama 123 orang lainnya setelah pecahnya kerusuhan pada 27 Juli 1996. Ia mengatakan mereka dituduh membawa bom molotov, senjata tajam, dan berbagai barang berbahaya lainnya.
Namun, menurut Ucok, tuduhan tersebut tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menuturkan bahwa kelompok pendukung Megawati Soekarnoputri justru menjadi pihak yang lebih dahulu mendapat serangan pada pagi hari sekitar pukul 06.15 WIB.
Akibat peristiwa itu, sebanyak 124 orang harus menjalani hukuman penjara selama empat bulan tiga hari. Meski kebebasan mereka dirampas, semangat kebersamaan tidak pernah hilang.
Setelah menyelesaikan masa hukuman, mereka membentuk Forum Komunikasi Kerukunan 124-27 Juli 1996. Organisasi tersebut menjadi wadah silaturahmi sekaligus simbol bahwa ikatan persaudaraan yang lahir dari perjuangan tidak akan terputus oleh waktu.
Ucok menilai, perjalanan hidupnya membuktikan bahwa perjuangan di luar lingkaran kekuasaan tetap memiliki arti. Kepercayaan masyarakat yang kemudian mengantarkannya menjadi Wakil Bupati Sukabumi merupakan amanah yang menurutnya lahir dari proses panjang, bukan sesuatu yang diraih secara instan.
Saat menjabat, ia mengaku berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pembangunan. Mulai dari mendorong pembangunan infrastruktur jalan, mengawal rencana pembentukan serta perpindahan ibu kota Kabupaten Sukabumi, hingga berbagai kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Dalam kesempatan itu, Ucok juga menyinggung pentingnya menjaga aset negara. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap sejumlah lahan yang semula dipersiapkan untuk kepentingan negara namun kini telah berubah fungsi menjadi kawasan permukiman.
Menurutnya, perubahan fungsi tersebut perlu menjadi perhatian agar pemanfaatan lahan tetap mengutamakan kepentingan publik sesuai dengan tujuan awal peruntukannya.
Menjelang peringatan Sabtu Kelabu, Ucok berharap generasi muda tidak hanya mengenal Peristiwa 27 Juli 1996 sebagai bagian dari catatan sejarah. Lebih dari itu, ia ingin nilai-nilai keberanian, solidaritas, dan semangat mempertahankan demokrasi tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Sejarah tidak boleh dihapus dari ingatan. Dari sejarah itulah kita belajar bagaimana menghargai demokrasi, menjaga persatuan, dan mengisi kemerdekaan dengan cara-cara yang bermartabat,” pungkasnya.






