“Nganteuran Sagara” Budaya Syarat Makna Nyaris Punah Ditelan Zaman

Ki Soleh, Ketua Padepokan Munding Wangi Surade, proses kegiatan budaya nganteran sagara.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Budaya “nganteran sagara” merupakan salah satu syarat makna yang saat ini nyaris punah ditelan zaman. Yang ingin diketengahkan dalam tulisan ini ialah ‘nganteuran’ sebagai suatu aktivitas kemanusiaan atas dasar saling tolong-menolong dan membahagiakan dalam konteks kehidupan antar sesama. Dimana, kebiasaan ini telah dipraktikan oleh para leluhur kita.

Menelusuri relasi pangan di wilayah Pantai selatan sukabumi, tidak bisa dilepas dari bagaimana pandangan masyarakatnya melihat alam. Kondisi laut yang setiap harinya berubah-ubah, memberi ruang siasat dalam bertahan hidup yang bisa dilacak dari perkakas melaut, jenis pangan laut dan darat—sekitar laut—yang diupayakan dengan memanfaatkan tanah untuk berkebun, hingga ritus-ritus yang tumbuh dan berkembang.

Upacara budaya nganteran sagara | ist

Ketika fokus akan riset resep pengolahan hasil laut yang dilakukan oleh teman teman Tilik Sarira creative process, ditemukan adanya konteks subtitusi antara dua ruang (laut dan darat) sebagai ikatan antara keduanya untuk saling terhubung sehingga menandakan adanya proses migrasi masyarakat gunung ke pesisir untuk transaksi pertukaran hasil bumi.

Baca juga:  Rencana Pembangunan Tambak Udang di Pesisir Minajaya Mendapat Sorotan Dua Anggota DPRD Sukabumi

Adapula ritus yang tumbuh dari pemaknaan masyarakat akan laut sebagai ruang yang perlu dihormati dan dihargai sebagai sesuatu yang hidup, di antaranya Mepes Laut dan Larung Saji.

Proses upacara adat nganteran sagara di Pantai Minajaya Surade
Pantai Minajaya Surade | ist

“Tradisi ngateran ini sengaja kami gugah agar budaya kita ini tidak ditelan zaman. Karena tolak ukur kekuatan bangsa ini bagaimana cara mempertahankan budayanya. Jika budayanya sudah berantakan tak terurus maka bangsa ini sudah melai tidak stabil,” kata Ketua Padepokan Munding Wangi Surade, Aa Soleh, dalam keterangannya.

Tradisi Larung Laut dan Larung Saji merupakan tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil alam berupa tangkapan ikan untuk nelayan selain itu juga hasil panen pertanian dan peternakan. Tak hanya sebagai wujud syukur saja, teradisi ini juga dimaksudkan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Baca juga:  Dispar Gandeng Pokdarwis Perlebar Jalan Wisata Pantai Minajaya

Harapannya agar mereka selalu diberi keselamatan saat melaut, dan tetap diberikan hasil laut yang melimpah dan berkah ungkap Ustad M. Solehudin selaku Pimpinan Yayasan Sri Manggala Nusantara.

Lokasi: Pantai Minajaya Surade.| ist

Beliaupun menerangkan bahwa dalam Prosesi Larung Laut pun tidak dilakukan sembarangan, prosesi ini diawali dengan pembacaan doa juga diungkapkan pula harapan supaya mendapatkan hasil yang baik tanpa adanya halangan, wabah, dan juga musibah.

Mepes Laut yang diambil dari kata “mepes” berarti meredam (yang dimaksud di sini meredam ombak tinggi) agar yang hendak berangkat diselamatkan dan yang hilang/tersesat dikembalikan dan laut sebagai unsur kehidupan adalah upaya memohon kepada Allah SWT.

Yang menarik dari Mepes Laut ini ialah logika mengembalikan sesuatu dengan bagian serupa, seperti gula kelapa ditabur kelapa ketika meluap dan yang berlaku pada ombak tinggi dipercaya untuk menaburkan garam. Juga Larung Saji yang diambil dari kata Larung yang berarti menghanyutkan dan saji yang berarti hidangan adalah ritual memberi sejumlah makanan (mentah/matang) untuk disajikan sebagai rasa syukur dan adab manusia terhadap laut yang sudah memberikan kehidupan.

Baca juga:  Yayasan Gunung Gede Bersahaja Kembali Launching MBG di Kecamatan Surade

Nganteuran Sagara (menghantarkan laut) adalah karya yang berdasar dari upaya menghadirkan dan mengeksplorasi ulang narasi subtitusi pangan yang saling menyokong dan juga sebagai bentuk ungkapan syukur serta permohonan keselamatan yang ada diarea laut selatan sukabumi.

“Proses melihat relasi pangan yang kompleks terbentuk dari kesadaran masyarakat akan kondisi alam yang dinamis dan kami mencoba menghadirkannya dalam rangkaian peristiwa budaya yang dijahit ke dalam bentuk film dokumenter untuk memperlihatkan element-element akan relasi pangan, pemanfaatan ruang dan siasat mengolah lahan, tubuh, alat dan ritus dalam konteks kehidupan masyarakat selatan sukabumi,” tambah S Sophiyah selaku koordinator director artistic tersebut.(*)

Pos terkait