UPTD Puskemas Pabuaran dan Forkopimcam Tangani Anak Penderita ‘Cerebral Palsy’

FOTO: Ananda Alifa Hoerunisa (7 Tahun) warga asal Kampung Cidita, Desa Bantarsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, saat mendapatkan perawatan di RSUD Sekarwangi Cibadak.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Seorang anak bernama Ananda Alifa Hoerunisa (7 Tahun) warga asal Kampung Cidita, Desa Bantarsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, kini tengah berjuang melawan penyakit Cerebral Palsy (kelainan pada otak) yang dideritanya.

Kondisi yang dialami Ananda tersebut mendapat perhatian serius dari Forkopimcam dan petugas kesehatan Puskesmas Kecamatan Pabuaran.

Camat Pabuaran, Ikhsan Muchlis Sani, saat dihubungi awak media membenarkan bahwa di daerahnya ada anak yang menderita kelainan gangguan pada otak (Cetebral Palsy).

Diakuinya informasi itu berawal dari adanya laporan pihak Puskemas Pabuaran saat dilaksanakan program Dokter Masuk Kampung (DMK).

“Benar ada seorang anak yang menderita Kelainan Atau Gangguan Pada Otak (Cerebral Palsy), berasal dari Desa Bantarsari Kecamatan Pabuaran,” kata Ikhsan.

Diungkapkannya, penanganan pasien sudah dilaksanakan sebelumnya. Namun, masih menunggu kesediaan pihak keluarga untuk di rujuk ke Rumah Sakit yang lebih lengkap. Ahirnya atas kesediaan pihak keluarga pasien dapat di rujuk ke RSUD Sekarwangi untuk penanganan lebih intensif.

Baca juga:  Permudah Kecepatan Layanan, Sekda: Kita Pertahankan UHC BPJS Kesehatan

“Penanganan pasien sudah dilaksanakan sebelumnya, namun masih menunggu kesediaan pihak keluarga untuk di rujuk ke Rumah Sakit yang lebih lengkap,” ungkap Camat Pabuaran.

Sementara Kepala UPTD Puskemas Pabuaran dr. Sudira menjelaskan, memang sebelumnya pasien telah mendapatkan pemantauan pengobatan dan PMT (pemberian makanan tambahan) serta proses pro rujukan ke Rumah Sakit.

Lanjut kata dr. Sudira, dimana sebelumnya penanganan awal oleh Puskesmas Pabuaran melalui program Dokter Masuk Kampung (DMK) sudah dilakukan.

“Pasien juga telah mendapatkan pemantauan pengobatan dan PMT (pemberian makanan tambahan) serta proses pro rujukan ke Rumah Sakit,” Jelas dr. Sudira.

Baca juga:  Puskesmas Ciracap Kerahkan 10 Nakes Bantu Korban Bencana Alam

Untuk penanganan ini pihaknya bekerja sama dengan lintas sektor (pemerintah desa, bidan desa, perawat desa, kader kesehatan dan tenaga medis Puskesmas).

“Berdasarkan informasi sosial media akhirnya pasien terdeteksi berada di Desa Bantarsari yang sebelumnnya pasien berada di Desa Sirnasari,” terangnya.

Berbekal informasi di sosial media pihaknya segera berkoordinasi dengan Forkompimcam hingga ke tingkatan Desa, RT dan bidan desa, sehingga dapat mengambil langkah cepat sesuai prosedur untuk segera mendapatkan pelayanan medis kembali.

“Berbekal informasi di sosial media pihaknya segera berkoordinasi dengan Forkompimcam hingga ke tingkatan Desa, RT dan bidan desa dapat mengambil langkah cepat,” tuturnya.

Kemudian kelurga setuju untuk di bawa ke RS Sekarwangi dimana pada awalnya pihak keluarga menolak pasien untuk dirujuk. Setelah mengunggu rundingan ibundanya yang kebetulan bekerja di luar kota dan hasilnya melalui komunikasi bibi dan paman pasien ibunda pasien memberikan izin anaknya untuk di rujuk ke RS.

Baca juga:  Hadiri HUT IBI Ke72, Bupati Marwan: Tingkatkan Kualitas Pelayanan untuk Masyarakat

“Alhamdulillah akhirnya pihak kelurga setuju untuk di bawa ke RS Sekarwangi. Iya pada awalnya pihak keluarga menolak pasien untuk dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Dalam upaya rujukan dan penanganan lebih lanjut, telah dilakukan koordinasi lintas sektor. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan proses evakuasi, transportasi, serta dukungan administratif agar berjalan dengan baik dan aman.

Pada tanggal 22 Agustus 2025, pasien sudah mendapatkan penanganan medis di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Saat ini pasien sudah mendapatkan penanganan medis sesuai standar dan sudah masuk ruang perawatan dalam kondisi aman dan stabil.

Pos terkait