LINGKARPENA.ID | Menyambut usia ke-267 tahun pada Desember 2025, Kecamatan Surade di wilayah Pajampangan terus berbenah dalam rangka memperingati momentum bersejarah bagi masyarakat setempat. Peringatan ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang kota kecamatan tersebut serta penghormatan kepada para tokoh perintis yang telah meletakkan dasar berdirinya Surade.
Berikut merupakan uraian sejarah singkat mengenai tokoh-tokoh sentral yang berperan dalam pembentukan Surade.
1. Embah Emas (Raden Mas Surawijangga)
Raden Mas Surawijangga atau Embah Emas merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah pembentukan Surade. Beliau adalah bangsawan keturunan Galuh Ciamis, putra dari Adipati Jagabaya (Dalem Sawidak).
Pada masa Perang Diponegoro, wilayah Galuh dan Panjalu berada di bawah pemerintahan Mataram yang dikuasai Belanda. Embah Emas menolak perintah Belanda untuk menahan pergerakan pasukan Diponegoro di sekitar Sungai Citanduy. Sikap tersebut membuat beliau beserta empat saudaranya—tiga laki-laki dan satu perempuan—dituntut melakukan pelarian, diikuti oleh sekitar 40 kepala keluarga.
Rombongan tersebut menyusuri pesisir selatan Jawa hingga masuk ke pedalaman melalui Sungai Cikaso. Mereka tiba di sebuah peupeuntasan (penyeberangan) yang kemudian menjadi lokasi babat alas pertama bagi Embah Emas dalam membuka wilayah baru.
2. Embah Karangbolong (Raden Mas Martanagara)
Saudara tertua Embah Emas ini memiliki nama asli Raden Mas Martanagara. Dalam masa pelarian, beliau menetap di Kampung Karadenan (saat ini dikenal sebagai Cibitung). Setelah wafat, beliau dimakamkan di kawasan Karangbolong, wilayah hutan lindung jati yang turut menjadi bagian penting dari sejarah Pajampangan.
3. Embah Cigangsa / Eyang Santri Dalem (Raden Surianatamanggala)
Raden Surianatamanggala, adik Embah Emas, dikenal sebagai Embah Cigangsa atau Eyang Santri Dalem. Beliau menetap di daerah Cigangsa (kini wilayah Surade) hingga akhir hayatnya.
Eyang Santri Dalem merupakan tokoh yang dikenal memiliki ilmu agama yang mendalam serta kesaktian kanuragan. Salah satu kisah penting terkait sejarah Surade adalah kecintaan beliau kepada adiknya, Nyimas Suradewi. Dalam perjalanan pelarian, Nyimas Suradewi meninggal dunia. Untuk mengenang sang adik, Eyang Santri Dalem memberi nama wilayah kekuasaannya dengan nama Surade, yang kemudian menjadi cikal bakal nama Surade hingga saat ini.
4. Embah Bungsu (Raden Bratakusumah)
Raden Bratakusumah atau Embah Bungsu adalah saudara ketiga Embah Emas. Meskipun merupakan adik termuda, beliau sangat dihormati oleh saudara-saudaranya karena keilmuannya dalam bidang agama.
Embah Bungsu membuka permukiman baru di wilayah hulu Sungai Cicurug Pamerangan, yang kini dikenal sebagai Kampung Purwasedar 2, Kecamatan Jampangkulon.
5. Embah Beureum (Brojonoto)
Embah Beureum, yang nama aslinya Brojonoto, tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Embah Emas. Namun kisahnya berkaitan erat dengan perjalanan sejarah para pelarian Pajampangan. Beliau merupakan pemimpin pasukan yang ditugaskan Pemerintah Hindia Belanda untuk mengejar Embah Emas dan keluarganya.
Dalam pengejaran tersebut, Embah Beureum terlibat pertarungan dengan Embah Karangbolong dan akhirnya gugur. Beliau kemudian dimakamkan di sekitar Pantai Karangbolong.
Surade merupakan wilayah yang berdiri dari proses panjang perjuangan dan perpindahan para leluhur Pajampangan. Peringatan usia ke-267 tahun ini menjadi momentum penting untuk mengenang jasa para tokoh pendiri sekaligus memperkuat identitas sejarah Surade sebagai kota kecamatan yang memiliki nilai budaya dan tradisi yang kuat di Kabupaten Sukabumi.






