Wartawan Tidak Boleh Mengarang Berita: Belajar Jurnalistik  Santri Mabda Islam Ditempa Menulis Fakta Bukan Angan

LINGKARPENA.ID | Ruang sederhana di Pondok Pesantren Mabda Islam Kampung Pasir Gede Desa/Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi, menjadi langkah pertama Persatuan Wartawan Indonesia  (PWI) Kabupaten Sukabumi. Menumbuhkan semangat para santri yang tak hanya ingin mengaji, tetapi juga belajar merangkai fakta menjadi berita. Minggu (08/02/26).

Acara juga diselingi penanaman pohon bersama yang dihadiri dan didukung oleh, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah 3 Povinsi Jabar, Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Sukabumi, UMKM Lumbung Rahayu Pupuk Hayati Cair Mikro Nano dan Dinas Pekerjaan Umum ( DPU) Bidang Irigasi (PSDA).

Kegiatan pelatihan dasar jurnalistik ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HPN dan HUT PWI Ke- 80 Tahun 2026 di Kabupaten Sukabumi. Safari jurnalistik sengaja menyasar kalangan pelajar dan santri untuk menanamkan literasi media sejak dini.

Baca juga:  Pepadi Kabupaten Sukabumi Optimis Sabet Juara di Binojakrama 2025

Pada kesempatan itu, puluhan santriwan dan santriwati duduk rapi. Sambil memegang buku catatan di depan pemateri PWI yaitu, Plt. Sekretaris PWI Kabupaten Sukabumi, Achmad Zajuli, berdiri sebagai mentor dalam kegiatan Safari Jurnalistik tersebut.

Zajuli menerangkan pada sesi awal, wartawan tidak boleh mengarang. Kalimat singkat itu langsung memancing perhatian peserta.

Menurutnya, jurnalisme berdiri di atas fondasi kejujuran dan tanggung jawab publik. Informasi harus disampaikan objektif, apa adanya, dan jelas.

“Berita harus memenuhi unsur SPOK, serta 5W + 1H. Tanpa itu, tulisan bukan berita, hanya cerita,” ujarnya.

Selin itu, ia menuntut para santri terlebih dahulu harus menanamkan etika sejak dini.

Baca juga:  Opening Speaker Seminar Pendidikan, Marwan: Guru Tumpuan Harapan Bangsa

Di era banjir informasi, kemampuan memilah fakta dan cerita dinilai menjadi keterampilan penting bagi generasi muda. Apalagi, santri kini tak hanya hidup di ruang pesantren, tetapi juga di ruang digital yang bergerak cepat.

Jurnalis memiliki tanggung jawab sosial yang besar, wartawan harus menyampaikan fakta, bukan opini pribadi. Objektivitas adalah napas jurnalisme,” ungkapnya

Tak berhenti pada teori, peserta juga diajak langsung mempraktikkan penulisan berita. Setelah memahami unsur 5W+1H — what, who, when, where, why, dan how — para santri diberi tugas membuat berita sederhana dari peristiwa di sekitar mereka.

Suasana kelas berubah menjadi ruang redaksi mini. Diskusi kecil terdengar di sudut ruangan, beberapa peserta sibuk menyusun kalimat, sementara lainnya saling mengoreksi tulisan.

Baca juga:  Lantik 723 PNS, Marwan: Layanan Publik dan Pembangunan Harus Dapat Dirasakan Masyarakat

Metode praktik ini bertujuan agar peserta memahami bahwa menulis berita bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyusun fakta secara sistematis dan mudah dipahami.

Pelatihan literasi media untuk generasi pesantren ini menjadi bukti bahwa harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Literasi media kini menjadi bekal penting bagi santri agar mampu menyaring informasi sekaligus menyampaikan kebenaran kepada masyarakat.

Safari jurnalistik ini diharapkan menjadi langkah awal, lahirnya generasi muda yang melek media. Kritis terhadap informasi dan memahami nilai-nilai dasar jurnalistik.

Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan sederhana dari pelatihan ini terasa relevan. Menulis berita bukan soal gaya, tetapi soal tanggung jawab pada kebenaran diakhir kegiatan,” pungkasnya.

Pos terkait