Derita di Ujung Jalan: Kisah Dede Trisno dan Ibu Tua yang Kini Tinggal Seorang Diri di Tegalbuleud

Inilah kondisi Dede yangcterletak di Kampung Sidodadi RT 001/006, Kedusunan Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud.[foto: ist]

LINGKARPENA.ID | Rumah panggung sederhana berukuran sekitar 5 x 6 meter itu kini terasa semakin sunyi. Di sanalah Parti (66) harus menjalani hari-harinya seorang diri setelah putra semata wayangnya, Dede Trisno (27), meninggal dunia dalam perjalanan menuju puskesmas pada Senin (6/7/2026) malam.

 

Peristiwa yang videonya viral di media sosial itu menyisakan duka mendalam. Bukan hanya karena Dede mengembuskan napas terakhir sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis, tetapi juga karena perjalanan pulang jenazahnya harus dilakukan dengan cara ditandu menggunakan kain sarung oleh warga. Kondisi jalan menuju Kampung Sidodadi RT 001/006, Kedusunan Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, tidak memungkinkan dilalui ambulans.

 

Di balik peristiwa yang mengundang keprihatinan publik tersebut, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang ibu dan anak yang hidup dalam keterbatasan.

 

Sejak sang suami, Nedin, meninggal dunia beberapa tahun lalu, Parti menjadi tulang punggung keluarga. Dengan usia yang sudah senja, ia mengandalkan pekerjaan serabutan di sawah dan ladang milik warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca juga:  DPD Parade Nusantara Kabupaten Sukabumi Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Bencana di Pajampangan

 

Sementara itu, Dede telah lama mengidap penyakit paru-paru bawaan yang semakin memburuk seiring waktu. Kondisi kesehatannya membuat pemuda lajang itu tidak mampu bekerja secara normal dan lebih banyak menjalani hari-harinya di rumah bersama sang ibu.

 

Ketua RT setempat, Abo, mengatakan keluarga tersebut memang hidup dalam kondisi memprihatinkan.

 

“Dede sejak kecil memang memiliki penyakit paru-paru bawaan. Setelah ayahnya meninggal, kondisi ekonomi keluarga semakin berat. Ibunya hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. Kalau ada yang menyuruh bekerja di sawah atau ladang, baru mendapat upah untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Abo.

 

Ironisnya, hingga kini Parti belum tercatat sebagai penerima bantuan sosial seperti Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), meski usulan telah diajukan sejak masa pemerintahan kepala desa sebelumnya.

 

“Kami sebenarnya sudah mengusulkan agar Ibu Parti masuk sebagai penerima bantuan sosial. Selain itu, rumahnya juga pernah kami ajukan untuk program rumah tidak layak huni (Rutilahu), tetapi sampai sekarang belum terealisasi. Mudah-mudahan setelah kejadian ini ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan. Kalau bantuan beras dan minyak baru dua kali dapat, ” ujar Abo.

Baca juga:  Didampingi Sekda, Ini Giat Danrem 061 Suryakencana di Kabandungan Sukabumi

 

Saat Dede meninggal dunia, warga sekitar bergotong royong membantu keluarga yang sedang berduka.

 

“Hari pertama setelah Dede meninggal, warga langsung membantu. Ada yang membawa kebutuhan konsumsi, ada juga yang memberikan bantuan materi untuk meringankan beban keluarga,” tambahnya.

 

Sementara itu, Tumang Wijaya, tetangga almarhum yang ikut mengantar Dede ke fasilitas kesehatan, menceritakan detik-detik terakhir perjalanan tersebut.

 

“Awalnya Dede kami bawa menggunakan sepeda motor menuju puskesmas. Namun di tengah perjalanan kondisinya semakin kritis hingga akhirnya meninggal dunia sebelum sampai ke tujuan. Saat dibawa pulang, ambulans tidak bisa masuk karena kondisi jalannya tidak memungkinkan, sehingga kami menandu jenazah menggunakan kain sarung,” tutur Tumang.

Baca juga:  Kisah Pilu Pasutri Lansia Sukabumi Tinggal di Gubug Reyot, Miliki Jiwa Nasionalisme Tinggi

 

Kini, rumah kecil yang dulu dihuni ibu dan anak itu hanya menyisakan Parti seorang diri. Tidak ada lagi sosok Dede yang menemaninya di ruang sempit rumah panggung tersebut. Di tengah usia yang semakin renta, ia masih harus menghadapi kerasnya kehidupan tanpa pendamping dan tanpa kepastian penghasilan.

 

Kisah Dede Trisno bukan hanya tentang seorang pemuda yang kehilangan nyawa dalam perjalanan mencari pengobatan. Lebih dari itu, kisah ini menjadi potret tentang perjuangan keluarga kecil di pelosok Sukabumi yang bergulat dengan kemiskinan, keterbatasan akses layanan kesehatan, dan kondisi infrastruktur yang masih membutuhkan perhatian serius.

 

Kini, harapan warga hanya satu: agar kisah pilu yang menimpa keluarga Parti menjadi perhatian berbagai pihak, sehingga tidak ada lagi warga yang harus mengalami nasib serupa hanya karena sulitnya akses menuju pelayanan kesehatan.

Pos terkait