LINGKARPENA.ID | Bahan Bakar Minyak BBM jenis Bensin di warung pengecer di wilayah Pajampangan Kecamatan Surade, pada Jumat 6 Desember 2024 sore tembus di angka 20 hingga 25 ribu per liter.
Kondisi ini jelas membuat panik warga yang memerlukan bahan bakar minyak jenis bensin. Namun begitu, harga yang mencapai dua kali lipat juga bukanlah cara yang baik.
Tentunya, kondisi ini menjadi masalah bagi warga yang saat ini membutuhkan bahan bakar. BBM dibutuhkan selain untuk kendaraan juga untuk kebutuhkan mesin Genset.
Karena dampak bencana yang terjadi mulai Selasa, Rabu, hingga Kamis 3-4-5/12 kemarin membuat jalur aliran listrik jalur selatan sempat terputus. Kondisi seperti ini warga yang memiliki mesin Genset membutuhkan bahan bakar minya (bensin).
Kelangkaan bahan bakar minyak wilayah Pajampangan disebabkan karena terlambatnya pasokan BBM bagi sejumlah SPBU yang ada di wilayah selatan. Karena kendaraan distributor Tangki BBM tidak bisa melakukan pengiriman terbentur infrastruktur menuju Pajampangan dari berbagai arah terputus karena bencana.
Hal ini menjadi ajang manfaat sejumlah oknum penjual bensin eceran untuk menaikan harga. Harga normal biasanya di angka 12.000.- menjadi 20-25 ribu. Jelas hal ini tidak mencerminkan kebaikan dalam berbisnis.
Kondisi naiknya harga bensin eceran secara mendadak di alami warga Pasir Ipis Surade, A Solehudin. Dirinya berkeliling Surade mencari bensin untuk kebuutuhan kendaraan dan Genset.
“Gelo….. harga bensin tika 20 rebu sa leter. Bencana alam jadi ajang manfaat ngajual bensin. Tadi Aa meli bensin di Citaritih hargana tika 20 rebu,” cetusnya.
“Gila, harga bensin di pedagang eceran sampai harga 20 ribu per liter. Bencana alam dijadikan ajang manfaat oleh oknum penjual bensin eceran. Iya tadi Aa beli diwilayah Citaritih Surade,” jelasnya.
Selain A Solehudin, Asep warga Sukamaja Surade juga menuturkan, kelangkaan BBM atau bahan bakar minyak menjadi ajang bisnis dadakan oleh sebagian penjual bensin eceran. Mereka tak tanggung tanggung menjual mulai dari kisaran 20-25 ribu/liter.
“Aslina Pak, harga bensin sampe harga 25 ribu. Ini memang karena warga masyarakat sangat membutuhkan bensin tersebut,” sambung Asep.
Bahkan, kata Asep sejumlah kendaraan milik anak sekolah banyak yang didorong karena kehabisanbahan bakar.
“Ada di wilayah Ujung Genteng, cuma harganya ya itu 20 ribu hingga 25 ribu. Kami ke sana harus pake kendaraan. Sementara motor tidak ada bensinnya,” tandasnya.
Dalam kondisi seperti ini Pemerintah sedang disibukan dengan penanganan darurat bencana yang terjadi diberbagai wilayah. Namun begitu kebutuhan BBM warga Pajampangan juga harus dicarikan solusi.
Lingkar Pena coba menghubungi Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sukabumi, H Eten Rustandi, belum bisa tersambung masih diluar jangkauan.
Hingga berita ini tayang belum bisa mendapatkan tanggapan dari Ketua Huswana Migas soal permasalahan kelangkaan BBM di wilayah Pajampangan.






