Dapur Gizi Tonjong Jadi Simpul Kebersamaan dan Penggerak Ekonomi Warga

LINGKARPENA.ID | Lalu lintas di ruas Cibadak–Palabuhanratu tetap ramai seperti biasa, namun suasana berbeda terasa di halaman Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Tonjong 1, Kabupaten Sukabumi. Di tempat itulah kebersamaan tumbuh, bukan hanya melalui pelayanan makanan bergizi, tetapi juga lewat kepedulian sosial yang konsisten dijalankan selama Ramadan.

 

Setiap Sabtu, dapur yang berada di bawah naungan yayasan milik Ucup Junansyah itu menggelar kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama. Tradisi yang mereka sebut sebagai ruang silaturahmi tersebut menjadi momen mempererat hubungan antarpekerja sekaligus sarana berbagi kepada lingkungan sekitar.

 

Pengelola dapur, Zulfat, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda musiman, melainkan bentuk komitmen sosial yang sengaja dibangun sejak awal operasional.

 

“Kami ingin keberadaan dapur ini memberi arti lebih luas. Bukan hanya memasak dan mendistribusikan makanan bergizi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” ujar Zulfat.

Baca juga:  Peduli Gempa Cianjur, HPCI Sukabumi Chapter Salurkan Donasi

 

Menurutnya, setiap kegiatan Sabtu selalu diawali dengan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar. Langkah itu, kata dia, mengikuti arahan teknis dari Badan Gizi Nasional sekaligus menjadi simbol kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

 

Zulfat menilai program Makan Bergizi yang dijalankan di dapur tersebut membawa dampak ekonomi yang terasa di tingkat bawah. Sejumlah warga yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan kini ikut terlibat dalam proses produksi, distribusi, hingga pengadaan bahan baku.

 

“Perputaran ekonomi lokal ikut bergerak. Ada pemasok bahan makanan, pelaku UMKM, hingga tenaga kerja baru yang terserap. Efeknya saling menguatkan,” tuturnya.

 

Baca juga:  Danrem 061 Suryakencana Resmi Tutup TMMD Ke-124 Kodim 0607 Kota Sukabumi

Sementara itu, pemilik yayasan, Ucup Junansyah, menegaskan berbagai kegiatan sosial yang digelar tidak menggunakan dana pemerintah. Ia menyebut seluruh pembiayaan kegiatan berbagi dilakukan secara mandiri sebagai wujud rasa syukur.

 

“Semua kegiatan sosial ini kami biayai dari dana pribadi. Prinsip kami sederhana, kalau diberi rezeki lebih, harus bisa dirasakan juga oleh warga,” kata Ucup.

 

Ia juga menekankan bahwa kebijakan perekrutan tenaga kerja memprioritaskan warga sekitar. Sekitar 90 persen karyawan dapur berasal dari Desa Tonjong dan wilayah terdekat.

 

“Kami ingin dapur ini bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga solusi untuk mengurangi pengangguran di lingkungan sendiri,” tambahnya.

 

Kehadiran dapur tersebut membawa perubahan bagi sebagian pekerja. Devi Nur Aliyah, yang telah bekerja selama enam bulan di bagian pemorsian, mengaku penghasilannya membantu menopang kebutuhan keluarga.

Baca juga:  Pembuatan Bak Penampungan Air Bersih TMMD Kodim 0607 Memasuki Tahap Finishing, Ini Jumlahnya

 

“Sejak bekerja di sini, kondisi ekonomi rumah tangga saya lebih stabil. Lingkungan kerjanya juga nyaman, jadi kami merasa seperti keluarga,” ujarnya.

 

Cerita serupa datang dari Renata Andani Putri, lulusan SMA yang baru sebulan bergabung. Ia mengaku sempat kesulitan mendapatkan pekerjaan sebelum akhirnya diterima di dapur tersebut.

 

“Mencari kerja setelah lulus sekolah ternyata tidak mudah. Saya bersyukur bisa diberi kesempatan di sini dan punya kegiatan yang produktif,” katanya.

 

Melalui program pelayanan gizi yang dibarengi kegiatan sosial rutin, pengelola berharap SPPG Tonjong 1 dapat terus berkembang sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya menghadirkan makanan bergizi, tetapi juga menumbuhkan solidaritas dan memperkuat fondasi ekonomi warga sekitar.

Pos terkait