Dari Sastra ke Gerakan Literasi, Lukman A Sya Raih Apresiasi 25 Tahun Berkarya dari Badan Bahasa

Lukman Ajis Salendra Salah satu penyair Indonesia (poto/ist)

LINGKARPENA.ID| Penyair dan pegiat literasi asal Sukabumi, Lukman Ajis Salendra atau yang dikenal luas dengan nama pena Lukman A Sya, ditetapkan sebagai calon penerima bantuan apresiasi sastrawan/pegiat sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 163/BANPEM.BPPB/G/05/2026.

Apresiasi tersebut diberikan atas dedikasi dan konsistensinya berkarya di bidang sastra, kebudayaan, dan literasi selama lebih dari 25 tahun.

Lukman A Sya merupakan lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Selain dikenal sebagai penyair dan penulis kebudayaan, ia juga menyandang sertifikasi Wartawan Utama dari Dewan Pers serta sertifikasi Guru Profesional bidang Bahasa Indonesia.

Dalam perjalanan kesusastraannya, Lukman tercatat pernah menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara ke-3 di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2009, mengikuti Jakarta International Literary Festival 2011, menjadi penulis terpilih Antologi Pamali Festival Literasi Tangsel 2019, hingga mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIII tahun 2025 yang mempertemukan penyair dari berbagai negara.

Baca juga:  MNC Lido City Mendorong Ekonomi Kreatif dan Laju Investasi di Wilayah Kabupaten Sukabumi

Puisi, esai, dan tulisan kebudayaannya dimuat di berbagai media massa cetak nasional maupun media daring. Selain itu, karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah buku antologi dan kumpulan puisi, di antaranya Antologi Puisi Indonesia 1997 (1997), Ketika Matahari (1998), Hijau Kelon (2002), Ini Sirkus Senyum (2002), Antologi Puisi Religius Sajadah Kata (2002), Berjalan ke Utara (2010), Ibukota Keberaksaraan (2011), Sauk Seloko (2013), Jejak Sajak di Mahakam (2013), Habituasi Wajah Semesta (2013), NUN (2015), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Cimanuk Ketika Burung-burung Kini Telah Pergi (2016), Segara Sakti Rantau Bertuah (2019), Pesisiran (2019), Kenduri Waktu (2019), Rantau (2020), Semesta Jiwa (2020), Angin Ombak dan Gemuruh Rindu (2020), KHATULISTIWA (2021), Ombak Camar dan Kerinduan (2021), Raja Kelana (2022), Kulminasi (2023), Jauhari (2024), Layang-Layang Tak Memilih Tangan (2025), Kariyau Hutan Wabul Sawi Festival (2025), dan Teh Imajinasi Puisi (2025).

Baca juga:  Redem Ikan, Olahan Favorit Warga Pajampangan Tempo Doeloe

Tak hanya itu, nama Lukman A Sya juga tercatat dalam sejumlah referensi penting sastra Indonesia, di antaranya Buku Pintar Sastra Indonesia terbitan Kompas (2001), Leksikon Susastra Indonesia terbitan Pustaka Jaya (2002), Ensiklopedi Sastra Indonesia terbitan Angkasa Bandung (2004), serta buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2018). Kehadiran namanya dalam sejumlah ensiklopedi dan dokumentasi sastra tersebut memperlihatkan kontribusinya dalam perkembangan sastra Indonesia modern.

Baca juga:  77 Pasangan Diberikan Buku Nikah Gratis dari Bupati Sukabumi

Selain aktif di dunia sastra, Lukman juga dikenal sebagai pegiat literasi masyarakat. Ia aktif menggelar pelatihan menulis, pendampingan komunitas, hingga penguatan budaya baca berbasis masyarakat.

Saat ini, Lukman juga mendapat amanah sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) 2026 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk lokus Kabupaten Sukabumi. Program tersebut merupakan bagian dari penguatan gerakan literasi nasional berbasis komunitas.

Atas apresiasi yang diterimanya, Lukman menyampaikan rasa syukur.

“Alhamdulillah saya bersyukur mendapatkan penghargaan apresiasi ini dari Badan Bahasa. Nuhun,” ujarnya.

Penetapan tersebut menjadi bukti bahwa kerja panjang di jalur sastra dan literasi, meski sering berjalan sunyi, tetap mendapat tempat dan penghargaan di tingkat nasional.

Pos terkait