LINGKARPENA.ID | Di sebuah sudut tenang di Kecamatan Cisolok, jejak panjang pengobatan tradisional terus berdenyut, dijaga oleh generasi penerus yang tak ingin warisan leluhurnya hilang ditelan zaman. Nama Haji Monas—atau akrab disapa Cep Monas—kini mendadak ramai diperbincangkan, setelah menerima hadiah tak biasa: satu unit Mitsubishi Pajero Sport Dakar dari seorang pasien yang merasa hidupnya berubah.
Namun, bagi Haji Monas, sorotan itu bukanlah tujuan. Ia justru melihatnya sebagai pengingat bahwa jalan yang ia tempuh adalah amanah panjang yang dimulai jauh sebelum dirinya lahir.
“Ini bukan soal hadiah atau viral. Saya hanya meneruskan amanah keluarga. Apa yang saya jalankan hari ini adalah warisan yang sudah dijaga sejak zaman nenek saya,” ujarnya tenang.
Haji Monas adalah cucu dari sosok legendaris Mak Irot, yang dikenal sebagai pelopor pengobatan vitalitas tradisional di kawasan pesisir selatan Sukabumi. Dari tangan Mak Irot, ilmu itu mengalir ke generasi berikutnya—termasuk ayahnya, H. Royani—hingga akhirnya kini berada di pundaknya.
Di tengah arus modernisasi dan maraknya metode instan, ia memilih tetap bertahan pada pendekatan alami. Baginya, kearifan lokal bukan sekadar tradisi, melainkan sistem pengetahuan yang telah teruji waktu.
“Kami tidak memakai bahan kimia atau alat-alat modern. Semua berbasis alami, dari racikan hingga teknik terapi. Ini ilmu turun-temurun yang dijaga, bukan dicoba-coba,” kata dia.
Bagi sebagian pasien, datang ke tempat praktik Haji Monas bukan hanya soal mengatasi persoalan fisik, tetapi juga memulihkan rasa percaya diri. Ia menyebut terapi yang dijalankannya berfokus pada keseimbangan tubuh dan stamina, yang berujung pada keharmonisan dalam rumah tangga.
“Yang datang ke sini bukan hanya ingin sembuh, tapi ingin kembali percaya diri. Itu yang paling penting,” tuturnya.
Tak sedikit pula pasien yang datang dari luar daerah, bahkan luar negeri. Ia mengaku pernah menangani pasien dari berbagai negara di Asia hingga Timur Tengah.
“Alhamdulillah, ada yang dari Singapura, Malaysia, sampai Timur Tengah. Mereka datang karena ikhtiar, dan kami bantu semaksimal mungkin dengan cara yang kami yakini,” ungkapnya.
Di tengah derasnya pilihan pengobatan modern, keberadaan praktik seperti yang dijalankan Haji Monas menjadi cermin bahwa kepercayaan masyarakat terhadap metode tradisional masih kuat. Terlebih, ketika pendekatan yang ditawarkan bersifat personal dan privat.
Di rumah sederhana yang juga menjadi tempat praktiknya di Kampung Cigadog, Desa Caringin, aktivitas berjalan seperti biasa. Tak ada kemewahan mencolok, hanya rutinitas yang terus berulang—pasien datang, berkonsultasi, lalu pulang dengan harapan baru.
“Saya hanya berusaha menjaga apa yang sudah diwariskan. Selama masih dibutuhkan, insyaallah akan terus saya jalankan,” ucapnya.
Di balik viralitas dan hadiah mewah yang sempat mencuri perhatian, Haji Monas tetap berdiri di tempatnya—menjaga tradisi, merawat kepercayaan, dan melanjutkan kisah panjang yang dimulai hampir seabad lalu.






