“Engkreg” Motor Modifikasi Andalan Warga Pajampangan Menembus Jalan Berlumpur

FOTO" "Engkreg" motor yang dimodifikasi sebagai alat transfortasi usaha yang dapat menembus jalan lumpur di wilayah Pajampangan sebagai andalan warga.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Di tengah keterbatasan infrastruktur jalan di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, kreativitas warga melahirkan inovasi transportasi unik bernama “Engkreg”, sepeda motor hasil modifikasi yang menjadi solusi bagi medan berat dan jalan berlumpur di kawasan pedesaan Pajampangan.

Nama “Engkreg” kini akrab di telinga warga pedesaan, terutama di wilayah Kecamatan Tegalbuleud, Ciracap, dan sekitarnya. Sepeda motor hasil modifikasi ini terinspirasi dari kebutuhan masyarakat yang hidup di daerah dengan kondisi jalan belum beraspal, bahkan sebagian masih berupa jalan tanah yang licin dan berlumpur saat musim hujan tiba.

Di Kadusunan Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, misalnya, jalan penghubung antarperkampungan masih sulit dilalui kendaraan biasa. Dalam kondisi seperti itu, Engkreg hadir sebagai penyelamat. Bentuknya sederhana, tapi fungsinya luar biasa. Roda dan rantai motor dimodifikasi agar mampu menembus jalur ekstrem yang tak bisa dilalui kendaraan pada umumnya.

Baca juga:  Harapan SMSI Tahun 2026: Podcast Menjadi Institusi Pers

“Alhamdulillah, kehadiran Engkreg sangat membantu. Setiap minggu saya belanja bahan kelontongan selalu pakai Engkreg. Jalan di sini sulit ditembus kendaraan biasa, apalagi saat musim hujan,” ujar Wahyu, seorang pedagang asal Desa Sumberjaya, Senin (13/10/2025).

Awalnya, Engkreg hanya digunakan untuk mengangkut hasil hutan seperti kayu atau bambu. Namun, seiring waktu, motor ini berkembang menjadi alat transportasi multifungsi. Selain mengangkut hasil pertanian, Engkreg bahkan sering dimanfaatkan untuk membawa warga yang sakit menuju fasilitas kesehatan terdekat.

Salah satu warga yang sudah lama mengandalkan Engkreg adalah Ahmad (41), warga Desa Pasirpanjang, Kecamatan Ciracap. Ia mengaku telah menggunakan Engkreg selama hampir lima tahun untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Baca juga:  Kapolsek Ciemas Polres Sukabumi dan Jajaran Lakukan Baksos Pasca Bencana Banjir

“Saya memodifikasi motor Honda Supra jadi Engkreg. Biayanya sekitar 2,5 juta rupiah. Biasanya beli motor bekas harga 2, 5 juta, lalu dimodifikasi lagi supaya kuat di tanjakan dan jalan berlumpur,” jelas Ahmad sambil menunjukkan motornya yang tampak kokoh dengan ban besar dan rangka tambahan.

Menurut Ahmad, proses modifikasi Engkreg terbilang sederhana. Komponen utama yang diubah adalah gir depan dan belakang yang diganti dengan ukuran lebih besar untuk menambah daya dorong. Rantai motor pun disesuaikan, sementara di bagian depan ditambahkan tempat penyimpanan barang dari pelg motor bekas yang dipotong dua lalu dilas.

“Kalau untuk angkut batu atau hasil kebun, kami pasang bagasi tambahan dari potongan drum BBM yang dibelah dua. Kuat dan tahan lama,” tambahnya.

Baca juga:  Bocah Empat Tahun Rasakan Momentum Kemerdekaan

Kendati dibuat secara sederhana, daya angkut Engkreg terbilang luar biasa. Motor ini mampu membawa beban hingga 500 kilogram, tergantung kekuatan rangka dan jenis mesin yang digunakan. Tak heran, banyak warga mengandalkan Engkreg untuk aktivitas sehari-hari, terutama di daerah dengan akses jalan yang belum tersentuh aspal.

Bagi masyarakat Pajampangan, Engkreg bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol kemandirian dan kreativitas lokal. Dengan modal terbatas dan kemampuan mekanik sederhana, warga berhasil menciptakan solusi nyata atas persoalan aksesibilitas di wilayah pedesaan.

Kendaraan hasil inovasi ini menjadi saksi ketangguhan masyarakat selatan Sukabumi dalam beradaptasi dengan keterbatasan infrastruktur. Di tengah gemuruh mesin dan deru lumpur, Engkreg terus melaju, menghubungkan warga, hasil bumi, dan harapan di pelosok Pajampangan.

Pos terkait