LINGKARPENA.ID | Sukses dengan acara rutin tahunan bertajuk Ngabhuana 2, digelar pada 12 – 14 Juli 2024 lalu, Paguyuban Jampang Tandang Makalangan ( JTM ), inisiasi kegiatan bernuansa nasionalisme bertajuk; “Mieling Peristiwa Palagan Pasir Karang”.
Giat tersebut akan digelar pada 15 Agustus 2024, bertempat di area Tugu Pasir Karang, Kampung Pasiripis Karang, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.
Dalam helat bernuansa patriotisme itu serangkaian acara akan gelar, antara lain doa bersama, pemaparan sejarah Palagan Pasir Karang, dan pembacaan puisi perjuangan.
“Tujuan acara ini untuk mempertebal rasa nasionalisme dikalangan generasi muda khususnya. Jangan sampai tugu yang dijadikan simbol sementara sejarah yang terkandung di dalamnya kita tidak mengetahuinya, ” tutur Hendry Firmansyah, Sekjen DPP Jampang Tandang Makalangan kepada lingkar pena.id Senin ( 12/8/2024 ).
Lanjut, kata Hendry, giat tersebut diadakan dalam rangka HUT Republik Indonesia ke 79. Sejumlah Ormas dan komunitas serta masyarakat umum akan terlibat dalam gelaran acara tersebut, sebagai wujud penghormatan atas jasa para pahlawan.
Diakui Hendry, kegiatan ini adalah gagasan bersama dari Paguyuban Jampang Tandang Makalangan (JTM), Balad Pemuda Kreatif (Baladaka), serta Pemuda Panca Marga (PPM). ” Dalam pelaksanaannya nanti Forkopimcam akan di daulat untuk membaca puisi perjuangan, ” jelas Hendry.
“Alhamdulilah persiapan untuk acara Mieling Peristiwa Palagan Pasir Karang ini sudah 90 persen, dan diharapkan semua pihak bisa mengikutinya,” tandas Hendry.
Diketahui, tugu Palagan Pasir Karang adalah saksi sejarah masyarakat Pajampangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tugu tersebut dibangun pada tahun 1978.
Sejarawan Pajampangan, Ki Kamaludin menuturkan, Pada Tugu Pasir Karang bagian atasnya terdapat bambu runcing dan senjata api yang diikat bendera merah putih.
“Bambu runcing dan senjata yang bersilang mengarah ke udara ini melambangkan perjuangan tentara bersama laskar bambu runcing dan rakyat semesta di wilayah Surade-Jampangkulon,” ucapnya.
Kampung Pasirkarang pada tahun 1948, kata Ki Kamaludin , menjadi Medan perang antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bersama rakyat melawan tentara NICA yakni pasukan Gurkha. Pada pertempuran tersebut TKR bersama rakyat bersenjatakan bambu runcing, golok, bom batok, dan ketapel. Sedangkan musuh menggunakan tank, panser.
Pertempuran pecah berawal dari adanya hadangan yang dilakukan TKR bersama rakyat terhadap konvoi pasukan Belanda yang akan menuju Ujunggenteng. Penghadangan itu dilakukan TKR di daerah Karetjajar Desa Pasiripis Surade. Akibatnya terjadilah pertempuran yang diawali lemparan granat dan rentetan tembakan sejak pukul 07.00 dan berakhir 15.00.






