LINGKARPENA.ID | Di sebuah sudut sunyi di selatan Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Kampung Batu Colat, Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, hidup seorang lelaki tua bernama Saheni, 75 tahun. Ia menjalani hari-harinya dalam kesunyian dan keterbatasan, di sebuah rumah kecil yang hampir roboh dimakan usia.
Semenjak bercerai dari istrinya sekitar sepuluh tahun lalu, Saheni memilih bertahan hidup seorang diri. Tak ada lagi keluarga yang mendampinginya. Ia kini menempati rumah bekas milik orang lain, berdinding tembok yang telah retak, dan atapnya bocor di sana-sini. Saat hujan turun, air menetes dari langit-langit, membasahi ruangan sempit tempatnya beristirahat setiap malam.
Bagi Saheni, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal — melainkan satu-satunya ruang untuk berlindung dari teriknya siang dan dinginnya malam. Namun, kondisi bangunannya yang rapuh dan gelap tanpa penerangan listrik layak membuatnya jauh dari kata layak huni. Bahkan, akses air bersih pun nyaris tak ada.
Sudah hampir tujuh tahun terakhir, ia menjalani kehidupan tanpa penghasilan tetap dan tanpa sanak saudara yang memperhatikan. Setiap hari ia hanya berharap ada tetangga yang tergerak hati untuk datang menjenguk atau mengantarkan makanan. Beberapa warga sekitar memang sesekali menyempatkan diri membantu, namun itu tak selalu terjadi setiap hari.
“Kadang ada yang datang bawain nasi, kadang juga enggak. Ya seadanya aja,” tutur salah seorang warga yang kerap menengok kondisi Saheni.
Saheni kini hidup dalam kondisi fisik yang menua dan pikun, membuatnya semakin sulit untuk beraktivitas normal. Kerap kali ia hanya duduk di depan rumahnya yang kusam, menatap jalan tanah di depan rumah yang sepi dari lalu lintas manusia. Wajahnya menua dalam diam, seolah menunggu sesuatu yang tak pasti — mungkin sekadar perhatian dari pihak yang berwenang.
Sayangnya, hingga kini belum ada langkah nyata dari instansi terkait untuk menyalurkan bantuan sosial, memperbaiki rumahnya, atau memastikannya masuk ke dalam daftar penerima program rumah tidak layak huni (rutilahu). Padahal, kondisi Saheni jelas memenuhi kriteria sebagai warga miskin yang membutuhkan uluran tangan pemerintah.
Kisah hidup Saheni menjadi potret nyata ketimpangan sosial yang masih mengakar di pelosok negeri. Di tengah gencarnya berbagai program kesejahteraan, masih ada warga lanjut usia seperti dirinya yang terlewat dari pendataan, hidup di antara puing-puing bangunan tua dan kesepian yang panjang.
Kehidupan Saheni adalah cermin dari realitas yang sering luput dari pandangan publik: bahwa di balik megahnya pembangunan kota, masih ada warga di pedesaan yang berjuang sekadar untuk bertahan hidup dengan cara yang paling sederhana.
Kini, harapan tersisa bagi Saheni hanyalah kepedulian masyarakat dan perhatian pemerintah. Warga berharap Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi dan pihak terkait dapat segera turun tangan, meninjau kondisi lansia tersebut, dan memberikan bantuan yang layak agar Saheni dapat menutup usia dengan hidup yang lebih manusiawi dan bermartabat.
“Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Beliau sudah tua, enggak bisa kerja, dan hidupnya serba kekurangan,” ujar seorang tokoh masyarakat Desa Cikangkung.
Di tengah derasnya arus pembangunan, kisah Saheni menjadi pengingat bahwa keadilan sosial bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama agar tak ada lagi warga yang harus menua dalam kesepian dan kemiskinan di negeri yang kaya ini.






