LINGKARPENA.ID | Di sebuah sudut Desa Hegarmanah, Kecamatan Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi, suara riuh anak-anak sekolah dasar masih terdengar seperti biasa. Namun di balik tawa itu, tersimpan cerita tentang ruang belajar yang jauh dari kata aman.
SDN Kaum, sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh dan bermimpi, kini justru menyimpan kekhawatiran. Minggu (19/4/2026). Nampak kondisi bangunan sekolah terlihat sangat memprihatinkan. Atap yang lapuk, plafon yang menganga, hingga lantai yang dipenuhi serpihan material menjadi pemandangan sehari-hari.
Di salah satu sudut ruangan, bahkan ditemukan kelelawar yang bersarang—sebuah tanda bahwa ruang itu telah lama kehilangan fungsinya sebagai tempat belajar yang layak.
Bento Sugandi, salah seorang guru di sekolah tersebut, hanya bisa menghela napas saat menceritakan kondisi yang sudah bertahun-tahun tak berubah.
“Karena kekurangan ruangan, kelas 1 dan 2, juga kelas 3 dan 4 terpaksa disatukan. Belum ada perbaikan sampai sekarang,” ujarnya dengan lirih.
Selama empat tahun mengabdi, Bento mengaku belum melihat adanya perbaikan berarti. Beberapa ruang kelas bahkan sengaja dikosongkan demi menghindari risiko kecelakaan.
“Waktu saya pertama datang ke sini, kondisinya sudah seperti ini. Sampai sekarang ya masih sama,” tambahnya.
Keterbatasan ruang memaksa sekolah mengambil langkah darurat. Satu ruangan diisi dua tingkat kelas sekaligus. Di tengah keterbatasan itu, proses belajar tetap berjalan, meski jauh dari ideal.
Para siswa pun mulai bertanya-tanya. Mengapa sekolah mereka rusak? Mengapa belum diperbaiki? Pertanyaan sederhana itu sering kali tak mudah dijawab.
Seorang guru lainnya menyebutkan, kerusakan bangunan telah terjadi sejak sekitar tahun 2022. Saat itu sempat ada perbaikan, namun tidak menyentuh keseluruhan bangunan. Kini, sedikitnya lima ruang kelas tak lagi bisa digunakan karena kondisinya yang semakin parah.
Ketika hujan turun deras, suasana belajar berubah menjadi waspada. Air merembes dari atap, suara kayu berderit terdengar, dan kekhawatiran pun datang.
Tak jarang, kegiatan belajar terpaksa dihentikan.
“Kalau hujan deras, anak-anak sering dipulangkan lebih awal. Kami khawatir ada bagian bangunan yang runtuh,” ungkapnya.
Tak hanya itu, lingkungan sekolah yang kerap terdampak banjir semakin memperburuk keadaan. Ruang belajar menjadi lembap, lantai licin, dan risiko keselamatan semakin tinggi.
Pihak sekolah mengaku sudah berkali-kali mengajukan permohonan perbaikan. Namun hingga kini, belum ada realisasi.
Harapan pun terus digantungkan—agar suatu hari nanti, anak-anak bisa belajar tanpa rasa takut.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menegaskan bahwa bangunan SDN Kaum memang sudah tidak layak digunakan.
“Kalau sudah mengkhawatirkan dan berpotensi menimbulkan dampak serius, sebaiknya tidak digunakan. Bahkan kalau perlu diruntuhkan agar tidak membahayakan,” tegasnya kepada wartawan.
Ia juga memastikan bahwa pihaknya akan segera menurunkan tim untuk melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
“Kami tugaskan tim untuk survei ke lapangan. Yang terpenting, kegiatan belajar mengajar tidak boleh terhenti. Kita akan lihat kondisi sebenarnya dan mencari solusi terbaik,” pungkasnya.
Di tengah keterbatasan dan ancaman, semangat belajar anak-anak SDN Kaum tetap menyala. Namun, semangat saja tidak cukup.
Mereka butuh ruang yang aman. Mereka butuh perhatian. Dan yang paling penting, mereka butuh kepastian bahwa masa depan mereka tidak runtuh bersama bangunan sekolah yang rapuh.






