Syukuran Bumi Pasir Panjang Jadi Momentum Rawat Tradisi dan Perkuat Ketahanan Pertanian

LINGKARPENA.ID | Pemerintah Desa Pasir Panjang, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, menggelar Syukuran Bumi 2026 di areal persawahan Kampung Cisumur, Desa Pasir Panjang. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (17–19/9/2026), tersebut menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

 

Mengusung tema “Raksa Bumi Rahayat Manjing Walagri”, kegiatan tersebut tidak hanya mempertahankan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi antara petani, pemerintah, penyuluh pertanian, kelompok tani, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen lainnya.

 

Kepala Desa Pasir Panjang, Mamat Slamet, mengatakan Syukuran Bumi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas nikmat dan hasil pertanian yang diperoleh. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat sinergi seluruh pihak yang selama ini turut mendukung sektor pertanian di desanya.

 

“Alhamdulillah, berkat dorongan para tokoh masyarakat dan kelompok tani, hasil pertanian kami semakin meningkat. Kami berharap sinergi antara petani, penyuluh dan masyarakat terus terjalin erat sehingga Desa Pasir Panjang bisa semakin maju,” ujar Mamat.

 

Menurutnya, mayoritas masyarakat Desa Pasir Panjang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Karena itu, berbagai persoalan yang berkaitan dengan pertanian perlu menjadi perhatian bersama, termasuk keterbatasan pasokan air yang masih menjadi salah satu kendala bagi petani.

Baca juga:  Menong, Miniatur Patung Hias Khas Purwakarta yang Unik dan Cantik

 

Mamat menegaskan, Syukuran Bumi tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk mempertemukan petani dengan penyuluh dan kelompok tani guna membahas berbagai upaya meningkatkan produktivitas pertanian.

 

“Syukuran bumi ini bukan hanya seremonial, tetapi juga menjadi wadah memperkuat kebersamaan dan membahas tantangan pertanian. Dengan mayoritas warga berprofesi sebagai petani, kami berharap tradisi ini terus dilestarikan,” katanya.

 

Sementara itu, Camat Ciracap Rukman Taufik mengapresiasi pelaksanaan Syukuran Bumi yang dinilainya memiliki nilai sosial dan spiritual yang kuat bagi masyarakat.

 

Ia menyebut, Syukuran Bumi bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi menjadi bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang diberikan, sekaligus menjadi ruang untuk menjaga silaturahmi, gotong royong dan kebersamaan warga.

 

“Syukuran bumi ini memiliki makna yang luar biasa. Bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat. Melalui kegiatan ini kita bisa bersilaturahmi, menjaga kebersamaan dan gotong royong,” ungkap Rukman.

 

Menurutnya, keberadaan para petani memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat. Karena itu, keterlibatan tokoh masyarakat dan para pelaku pertanian dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting yang patut diapresiasi.

 

“Bagaimana alam ini bisa bermakna bagi kita dalam menjalani kehidupan, itulah makna yang perlu kita perankan. Salah satunya melalui para tokoh dan petani yang hari ini terlibat langsung,” tambahnya.

Baca juga:  Perayaan Hari Nelayan Ke13 Minajaya, Ini Ungkapan Asda II dan Kepala Dinas Perikanan Kelautan

 

Apresiasi juga disampaikan Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Deni Ruslan. Ia menilai antusiasme masyarakat dalam mengikuti Syukuran Bumi di Desa Pasir Panjang menunjukkan masih kuatnya kepedulian warga terhadap sektor pertanian dan budaya lokal.

 

Deni mengungkapkan, kegiatan dengan jumlah peserta yang besar tersebut bahkan terlaksana melalui semangat swadaya masyarakat.

 

“Melihat antusiasme masyarakat, mengumpulkan orang sebanyak ini sangat luar biasa. Saya sangat terharu bagaimana nilai-nilai pertanian di Desa Pasir Panjang dijunjung, kemudian berkolaborasi dengan budaya, seni dan adat,” kata Deni.

 

Di tengah pelaksanaan Syukuran Bumi, persoalan kekeringan juga menjadi perhatian. Deni menyebut kemarau panjang yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir telah berdampak terhadap lahan pertanian di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi.

 

Menurutnya, lebih dari seribu hektare lahan telah didata mengalami kekeringan. Kondisi tersebut diharapkan segera berakhir agar petani dapat kembali memasuki musim tanam.

 

“Kita mengalami kemarau panjang. Di beberapa tempat sudah terjadi kekeringan dan kami mendata lebih dari seribu hektare mengalami kekeringan. Mudah-mudahan kemarau ini segera selesai sehingga Oktober nanti sudah bisa dimulai musim tanam pertama,” jelasnya.

 

Deni juga mengingatkan kelompok tani yang membutuhkan dukungan berupa benih, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), maupun pembangunan infrastruktur pertanian agar mengusulkannya melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan penyuluh pertanian di masing-masing kecamatan.

Baca juga:  Syukuran Bumi 2025, Ajang Pererat Silaturahmi Warga Petani Desa Pasirpanjang Sukabumi

 

Ia menambahkan, Kecamatan Ciracap merupakan salah satu wilayah yang memiliki kontribusi besar terhadap produksi pertanian Kabupaten Sukabumi. Dengan luas sawah sekitar 505 hektare, Ciracap disebut memberikan kontribusi sekitar lima persen terhadap produksi gabah di Kabupaten Sukabumi.

 

“Ciracap merupakan salah satu kontributor produksi terbesar di Sukabumi. Dengan luasan sawah sekitar 505 hektare, kontribusinya sangat besar terhadap produksi gabah Kabupaten Sukabumi,” ujarnya.

 

Deni menyebut capaian sektor pertanian Kabupaten Sukabumi juga mendapat perhatian di tingkat nasional. Pada 2025, Kabupaten Sukabumi memperoleh penghargaan atas peningkatan produksi beras.

 

Rangkaian Syukuran Bumi Desa Pasir Panjang turut dihadiri jajaran Forkopimcam Ciracap, Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi PPP H. Andri Hindayana, Kabid Sarpras Dinas Pertanian Deni Ruslan, para kepala UPTD, Ketua Umum JTM H. Hendra Permana beserta jajaran, Karang Taruna tingkat kecamatan dan desa, kelompok tani, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta undangan lainnya.

 

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Desa Pasir Panjang tidak hanya merawat tradisi leluhur, tetapi juga meneguhkan kembali pentingnya kebersamaan dalam menjaga bumi, memperkuat sektor pertanian, dan menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi petani.

Pos terkait