LINGKARPENA.ID – dr Cecep Sutisna, salah satu Tokoh Masyarakat di Kampung Pabuaran, Desa Ciheulangtonggoh, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, prihatin maraknya Bank Emok yang berkembang ditengah lingkungan warga.
Menurutnya, maraknya pinjaman Bank Emok di daerah tersebut, penyebab utama merupakan faktor ekonomi masyarakat yang semakin sulit. Banyaknya warga yang terjerat dengan Bank Emok juga bukan solusi terbaik.
Hal itu terjadi karena gampangnya proses pinjaman dan pengucuran dana yang ditawarkan oleh Bank Emok, baik untuk yang legal maupun Ilegal.
“Saya turut perihatin melihat warga, beberapa dari mereka banyak yang terlilit hutang ke Bank Emok. Bahkan ada warga saya yang sampai ribut antara suami istri hingga menggugat untuk bercerai. Bahkan ada juga yang rumahnya di sita oleh Bank Emok karna tak mampu membayar cicilan,” ungkap dr Cecep Sutisna, di Cibadak, Sabtu, (12/03/2022).
Lebih jauh ia mengatakan, memang diakui selama ini pemerintah belum ada solusi terkait masalah bank emok ini. Menurutnya para tokoh masyarakat diwilayah itu sudah mulai resah dampak dari peredaran Bank Emok yang tumbuh pesat. Namun mereka belum mendapatkan jalan keluarnya.
Kendati demikian, kata dia, sebagai upaya kami bersama tokoh lainya mencoba untuk membatasi peredaran Bank Emok di wilayah lingkungan Kampung Pabuaran tersebut. pihaknya sepakat untuk memasang himbauan berupa spanduk yang bertuliskan ‘Bank Emok dan sejenisnya di larang masuk dan beroperasi diwilayah itu.
Menurutnya, mungkin dengan upaya ini dapat efektif untuk membatasi ruang gerak Bank Emok, apalagi dengan bunga yang cukup tinggi.
“Kami akan upayakan semampu kami untuk membatasi ruang gerak Bank Emok diwilayah ini,” tegasnya.
Sementara itu, Ema (Nama samaran) salah satu warga yang memanfaatkan pinjaman dana dari Bank Emok mengatakan, sulitnya untuk mendapatkan pinjaman keuangan di saat membutuhkan biaya yang menjadi salah satu faktor warga untuk mendapatkan pinjaman secara mudah.
“Bank Emok itu prosesnya mudah dan tidak berbelit belit, hanya dengan bermodalkan KTP uang bisa segera cair. Ya walaupun bunganya cukup tinggi,” ungkapnya.
Menurutnya, sistem Bank Emok memang mengunakan cara “Tanggung Renteng” secara bersama-sama dan hal itu tidak jadi masalah baginya yang sedang membutuhkan dana segar untuk memenuhi kebutuhannya.
“Ya, kalau ada solusi lain dari pemerintah untuk membantu kami dengan memberikan pinjaman dengan bunga rendah dan proses yang tidak berbelit belit, mungkin itu akan menjadi solusi. Ya agar kami bisa terlepas dari jeratan Bank Emok, di saat kami membutuhkan uang,” ujarnya.
Lanjutnya, besar harapan mereka pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat bisa mencarikan solusi terbaik ditengah permasalah sulitnya ekonomi ini.
“Mudah-mudahan saja ada jalan terbaik, karna kami tak ada pilihan di saat sulit untuk mendapatkan pinjaman,” harapnya.






