LINGKARPENA.ID | Pembangunan Jembatan Tegaldatar di Kecamatan Lengkong yang sempat menuai sorotan publik akibat keterlambatan, kini mulai menemukan kejelasan. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan yang melibatkan unsur kecamatan, pihak pelaksana proyek, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya di Aula Kecamatan Lengkong, Rabu (29/4/2026).
Pertemuan ini digelar sebagai langkah inisiatif pemerintah kecamatan untuk memastikan perkembangan proyek yang telah berjalan lebih dari tiga bulan, sekaligus merespons keresahan warga yang mempertanyakan kelanjutan pekerjaan di lapangan.
Camat Lengkong, Ade Rikman, menegaskan bahwa agenda tersebut bukanlah audiensi dari masyarakat, melainkan undangan resmi dari pihak kecamatan kepada pelaksana proyek untuk memperoleh penjelasan secara menyeluruh.
“Kami yang mengundang pihak pelaksana agar ada kejelasan terkait progres pembangunan, baik dari sisi perizinan maupun teknis di lapangan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, salah satu faktor utama yang menyebabkan tersendatnya pembangunan adalah belum tersedianya material penting berupa girder. Komponen tersebut saat ini masih dalam tahap produksi di Jakarta, sehingga pekerjaan konstruksi belum dapat dilanjutkan secara optimal.
“Material utama masih dalam proses fabrikasi. Informasinya ditargetkan selesai paling lambat 25 Mei, namun kami berharap bisa lebih cepat agar pengerjaan segera berjalan kembali,” katanya.
Selain kendala material, kondisi cuaca yang kurang bersahabat dalam beberapa waktu terakhir turut mempengaruhi ritme pekerjaan. Situasi tersebut membuat proses konstruksi tidak dapat dilakukan secara maksimal.
Ade juga menekankan pentingnya komunikasi yang intensif antara seluruh pihak terkait, termasuk dengan masyarakat, guna menghindari kesalahpahaman yang dapat memicu spekulasi.
“Kami berharap koordinasi terus diperkuat agar informasi yang berkembang di masyarakat tetap jelas dan tidak menimbulkan miskomunikasi,” tambahnya.
Dalam forum tersebut, turut dibahas nasib material dari jembatan lama yang sebelumnya sempat terjatuh ke aliran sungai. Isu ini sempat menjadi perhatian warga, terutama terkait pemanfaatannya ke depan.
Pemerintah kecamatan memastikan bahwa sebagian besar material lama tidak akan digunakan kembali dalam proyek pembangunan jembatan baru. Sebaliknya, material tersebut akan diserahkan kepada masyarakat setempat dengan legalitas yang jelas.
“Besi dari jembatan lama tidak akan dipakai lagi. Sebagian besar akan diberikan kepada warga dan akan diperkuat dengan surat resmi,” jelas Ade.
Dengan adanya kejelasan ini, diharapkan pembangunan Jembatan Tegaldatar dapat segera kembali berjalan dan memberikan kepastian bagi masyarakat yang selama ini menunggu penyelesaian infrastruktur tersebut.






