Tradisi Ngubek Warnai Sukacita Peresmian Jembatan Gantung Leuwi Reuming Kalibunder

LINGKARPENA.ID | Sukacita warga Kampung Citamiang 2, Desa Sukaluyu, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, memuncak saat peresmian Jembatan Gantung Leuwi Reuming oleh Bupati Sukabumi H. Asep Japar, Senin (26/1/2026). Tak hanya seremoni resmi, peresmian jembatan vital tersebut juga dirayakan dengan tradisi khas warga, yakni Ngubek lauk.

 

Jembatan Gantung Leuwi Reuming merupakan akses penting yang menghubungkan Desa Sukaluyu, Kecamatan Kalibunder, dengan Desa Sirna Mekar, Kecamatan Tegalbuleud. Jembatan sepanjang 70 meter ini dibangun kembali menggunakan APBD Kabupaten Sukabumi dengan anggaran sekitar Rp900 juta dan waktu pengerjaan selama 120 hari, setelah sebelumnya rusak akibat bencana alam pada akhir 2024.

Baca juga:  Rakor Operasi Lilin di Polres Sukabumi, Wabup: Nataru Agenda Penting Masyarakat

 

Camat Kalibunder, Sri Resmiati, mengatakan jembatan tersebut memiliki peran strategis dalam menunjang berbagai aktivitas masyarakat.

“Jembatan ini sangat penting untuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial, hingga pelayanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

 

Manfaat jembatan juga dirasakan langsung oleh warga. Tokoh masyarakat setempat, Latif Saleh, mengungkapkan bahwa sebelum jembatan kembali dibangun, warga harus menempuh jarak memutar yang cukup jauh.

“Dulu warga harus memutar sekitar 20 kilometer. Ongkos jadi mahal dan harga pangan ikut naik. Sekarang hanya lima menit, harga-harga juga lebih terjangkau,” katanya.

Baca juga:  Jembatan Gantung Viral Ahirnya Dibangun Yayasan Jampe

 

Ia berharap keberadaan jembatan tersebut membawa keberkahan dan kemajuan bagi masyarakat Kalibunder dan Tegalbuleud.

“Alhamdulillah, mudah-mudahan ini menjadi keberkahan bagi kita semua,” pungkasnya.

 

Sebagai ungkapan rasa syukur, warga Desa Sukaluyu menggelar tradisi Ngubek, yakni menangkap ikan dengan tangan kosong secara beramai-ramai di sebuah kolam. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan silaturahmi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

 

Ketua RT 03/13 Kampung Citamiang, Dedin, mengatakan Ngubek biasa dilakukan dalam berbagai acara syukuran atau perayaan bernuansa gembira.

“Ini sudah menjadi tradisi kami. Ngubek biasanya diadakan pada acara-acara tertentu, seperti syukuran,” ujarnya kepada Lingkarpena.id.

Baca juga:  Kendaraan Dinas Gubernur dan Wagub Jabar Resmi Gunakan Mobil Listrik, Ini Kata Uu!

 

Ia menjelaskan, ikan yang dilepaskan di kolam biasanya berasal dari pihak yang memiliki hajatan.

“Soal ikan yang ditanam, itu dibiayai oleh siapa saja yang punya hajat. Alhamdulillah, ini selalu dinanti-nanti warga. Kalau nasib mujur dapat ikan, lumayan bisa mengurangi risiko dapur,” tuturnya.

 

Tradisi Ngubek tak sekadar hiburan, namun menjadi wujud kebersamaan, keguyuban, dan rasa syukur masyarakat Desa Sukaluyu atas pembangunan yang kembali membuka akses dan harapan baru bagi kehidupan mereka.

Pos terkait