Sejumlah Seniman Berbagai Daerah di Indonesia Lakukan Riset Budaya di Pajampangan Sukabumi

Inilah para seniman dari berbagai daerah saat berfoto bersama pegiat budaya dan lingkungan Pajampangan serta unsur instansi yang hadir.| istimewa

LINGKARPENA.ID | Sejumlah seniman dari berbagai daerah di Indonesia melakukan riset budaya di Kecamatan Cimanggu Kabupaten Sukabumi belum lama ini. Pembukaan riset budaya (Performative Culinary Art) diawali dengan penanaman ratusan pohon dan tebar bibit ikan.

Dalam kegiatan riset budaya yang mengambil lokus kegiatan di Kecamatan Cimanggu tersebut sedikitnya dihadiri 12 seniman dari berbagai Kota. Pelaku riset budaya ini akan berjalan selama 1 bulan yang dimulai pada 25 Januari 2023 kemarin. Acara di buka langsung oleh Kadisbudpora Kabupaten Sukabumi.

Pelaksana riset budaya menghadirkan dari Yayasan Tilik Salira, Solo Jawa Tengah yang bekerjasama dengan Yayasan Sri Manggala Nusantara Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menurut Humas Yayasan Sri Manggala Nusantara Kang Hamdan mengatakan, riset budaya akan dilaksanakan pada 4 empat titik yang ada dibeberapa Kecamatan di wilayah Pajampangan Kabupaten Sukabumi itu.

Baca juga:  15 Tahun Pemdes Panumbangan Gelar Lebaran Yatim

“Ada 4 lokasi yang akan dilakukan riset. Diantaranya Kawasan Gunung Patat Kecamatan Kalibunder, Kawasan Goa Baduy Kecamatan Cimanggu, Sungai Cibereum, Kecamatan Cimanggu dan Kawasan Pantai Minajaya Desa Pasiripis Kecamatan Surade,” terang Kang Hamdan, kepada Lingkarpena.id Jumat (27/1/23).

Hadir dalam pembukaan riset budaya pada Rabu (25/1) kemarin Kepala Balai PSDA Cisadea-Cibareno, Direktur RSUD Jampangkulon, Kasepuhan dan Budayawan Apih Oleh, Asper Lengkong, Satgas Konservasi SDA Kabupaten Sukabumi dan perwakilan Komunitas Pegiat Lingkungan Hidup HIMAPILIHAN Pajampangan serta unsur muspika dan tamu undangan lainnya.

“Kegiatan ini akan berlangsung selama satu 1 bulan penuh. Riset dilaksanakan mulai tanggal 25 Januari hingga 24 Pebruari 2023 mendatang,” terang Humas Yayasan Sri Manggala Nusantara ini.

Baca juga:  Dikeroyok Hingga Tewas, Keluarga Minta Keadilan Kepada Polisi

Kang Hamdan juga menjelaskan, kegiatan ini merupakan ikhtiar yang dilakukan dari konservasi warisan budaya di kabupaten sukabumi khususnya di daerah pajampangan yang sudah terintegrasi dengan konsep Satgas Konservasi SDA Kabupaten Sukabumi.

Sellain itu kata dia, nantinya hasil penelitian atau riset akan dituangkan berupa naskah karya tulis, film documenter dan pawai ‘Nganteuran”.Sehingga output riset berupa karya seni budaya yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, historys dan mengangkat kembali nilai-nilai luhur kearifan lokal yang pudar serta hampir hilang di masyarakat.

“Jadi pada intinya untuk pengarsipan situs-situs budaya dan naskah litersi budaya di kabupaten sukabumi khususnya di tatar Pajampangan mudah-MUDAHAN bisa terbantu dengan adanya kegiatan ini,” tandasnya.

Baca juga:  Kebakaran di Caringin Sukabumi, Satu Korban Alami Luka

Lanjut Kang Hamdan, usaha penyelamatan dan pemeliharaan lingkungan hidup dan hutan jelas tidak bisa dipisahkn dengan usaha-usaha pemeliharaan nilai budaya yang menjadi ruh kesadaran masyarakat. Oleh karena itu ai mengajak semua warga masyarakat Pajampangan khususnya warga Kabupaten Sukabumi untuk bersama-sama menjaga dan memperbaiki lingkungan hidup dan hutan yang sudah mulai kritis di kabupaten Sukabumi ini.

“Alhamdulillah kami di wilayah selatan sudah memulai usaha-usaha pemeliharaan lingkungan hidup dan hutan juga nilai budaya secara pentahelix. Ya semua pihak yang peduli dan terpanggil sesuai dengan pesan serta komitmen kami dalam ‘Piagam Hijau” yang beberapa waktu lalu sudah kami sampaikan kepada Pemda Kabupaten Sukabumi,” pungkas Kang Hamdan.

Pos terkait