LINGKARPENA.ID | Objek wisata Curug Cigangsa, biasa disebut Curug Luhur, di Kampung Batusuhunan, Kelurahan/Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, kondisinya memperihatinkan.
Padahal, lima tahun lalu, objek wisata tersebut menjadi salah satu objek wisata primadona bagi wisatawan lokal. Sungguh ironis. Masalahnya, pertama letak Curug Cigangsa ini ada pada cakupan CPUGG ( Ciletuh Palabuanratu Unesco Global Geopark ), yang jika dikelola profesional pamornya tak kalah dari Curug lain yang ada di Kecamatan Ciemas.
Kedua, Curug Cigangsa punya kedekatan emosional dengan warga Surade. Curug tersebut menjadi saksi bisu sejarah dan legenda berdirinya Surade. Dalam sejarah lokal, curug ini memiliki peran penting sebagai penanda pertama ditemukannya Curug Cigangsa oleh Sunan Nalagangsa atau yang dikenal sebagai Eyang Santri Dalam, tokoh sentral penemu kota Surade.
Kini nasib objek wisata Curug Cigangsa memperihatinkan, tak terurus. Pantauan lingkar pena.id dilapangan, beberapa sarana yang ada dikawasan tersebut rusak berat. Gazebo yang dulunya berfungsi sebagai tempat peristirahatan kini hancur rata dengan tanah. MCK yang tidak berfungsi, papan nama Curug Cigangsa juga roboh. Tak hanya itu, pos istirahat tak terawat dan menjadi sasaran vandalisme.
“Sekarang pengunjung jarang yang datang. Dalam satu Minggu bisa dihitung jari, tak seperti lima tahun lalu. Ini mungkin karena Curug Cigangsa kekeringan air,” kata Cecep, warga sekitar yang keluhkan kondisi Curug Cigangsa saat ini.
Lanjut, menurut Cecep, meskipun di Curug tersebut tidak ada air tapi ada potensi lain yang bila dikelola cerdik akan jadi daya tarik pengunjung. Keberadaan Batu Masigit atau undakan batu lainnya bisa dijadikan spot foto, dan itu salah satu potensi di Curug Cigangsa.

Menyikapi terbengkalainya objek wisata Curug Cigangsa perlu perhatian dari seluruh seluruh stakeholder. Untuk menata kembali perlu terbangun sinergitas semua pihak. Tapi jika ada pihak lokal yang benarni “tampil” itu akan jauh lebih baik.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jujun Junaeni saat dikonfirmasi lingkar pena.id mengatakan, tidak semua obyek wisata di bawah penguasaan Pemda baik tanah maupun obyeknya.
Sambung dia, tentunya peran serta masyarakat yang membuka dan mengelola lahan atau objek wisata sangat diperlukan.
“Selama anggaran ada tentu pemerintah akan memfasilitasi keberadaan obyek wisata di luar kewenangan Pemda. Akan tetapi ketika anggaran tidak ada maka keswadayaan menjadi alternatif terbaik,” pungkas Jujun Junaeni kepada lingkar pena, Sabtu (24/8/2024) malam.






