LINGKARPENA.ID | Almarhum Hapid Khoiri bin Ahmad Sayudin, kami semua berduka. Kepala kami tertunduk, batin memanjatkan doa untukmu.
Pada Jumat, 11 Oktober 2024, degup jantung berdetak keras ketika sebuah kabar duka tiba. Jurnalis yang juga sahabat kami, Hapid Khoiri dipanggil Tuhan Yang Maha Esa.
Pria yang sejak muda menggeluti jurnalistik ini dikenal pekerja keras di antara kolega di media online. Penetrasinya kepada narasumber juga dikenal cukup cekatan.
Jurnalis yang mengenyam pendidikan di STAI salah satu Universitas di Bandung Jawa Barat ini beristrikan Ayu Yuliawati ini juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan hangat kepada kolega, narasumber hingga pimpinan di tempatnya bekerja. Banyak kalangan yang mengakui hal itu, terlebih Pemimpin Redaksi Sukabumizone, H. Rahmat Djuniardi.
Saat melakoni tugas-tugas jurnalistik, tak ada kata menyerah. Semangat menggali berita dari narasumber dilalui dengan kesungguhan. Tak peduli waktu bergulir hingga tengah malam, tak jarang memasuki dini hari.
“Selalu bersemangat, pintar mengulik isu, ramah dan santun dalam berkawan adalah cermin bening dari sosok Kang Hapid Khoiri. Selamat jalan Sahabat. Kami akan selalu mengingat kebaikanmu,” tutur Iwan Sugiarto, Ketua Pers Sukabumi Ngahiji ( PSN ) kepada lingkar pena id.
Tak sebatas bertanya, jurnalis yang gemar mancing dan humoris itu kerap melontarkan kritik dan masukan kepada narasumber. Dialog kritis bagian dari kontrol sosial seorang jurnalis.
“Masukan dan kritik atas kebijakan yang ada selalu keluar dari almarhum dan itu menjadi diskusi panjang yang pada akhirnya kami sepakat masukan dari almarhum memang yang terbaik untuk kami jadikan sebagai arah dalam membuat informasi kepada masyarakat,” ujar Iwan Sugianto.
Alm. Hapid Khoiri
Karakternya memberi andil dalam perjalanan media online tempatnya mengabdi, ia turut mewarnai sepak terjang Sukabumizone, sala satu media online ternama di lokal Sukabumi.
Saya tahu, ada kepahitan yang dirasakan dalam hati selama menjalankan tugas yang cukup berat. Tapi, dari kontribusi riil setiap hari, saya melihat bahwa Kang Hapid sudah bekerja dengan segenap hati, jiwa, dan raga.
Di sela kesibukannya selaku jurnalis, pria kelahiran 29 Maret 1970 ini pun aktif dalam berorganisasi. Ia pernah tercatat sebagai pengurus dibeberapa organisasi di level kecamatan tempat tinggalnya, maupun di level Kabupaten Sukabumi.
Lazimnya jurnalis, sikap kritis tetap tercermin dari celetukan atau joke yang membuat sang lawan bicara justru tersipu. Tidak marah atas tajamnya kritik.
“Kang Hapid yang saya kenal adalah seorang jurnalis yang kritis dan gigih. Sosok sahabat dengan empati tinggi, enerjik, dan bisa diandalkan. Namun terkadang, selorohnya yang jenaka memecah kebisuan kata. Selamat jalan, Kang Hapid Khoiri. Kami akan merayakan hidup dengan mengenang kebaikanmu,” ucap Iwan.
Kehangatan yang senantiasa terpancar dari wajah dan aura Kang Hapid diakui Akoy Khoerudin, redaktur lingkarpena.id. Tak hanya pandai bergaul, sosok pria pecinta motor klasik ini juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi dan humoris.
Hapid Khoiri semasa hidupnya kerap berwisata bersama keluarga
“Kang Hapid merupakan tandem sejati, dimana kami banyak terlibat dalam kegiatan kerja bersama, tidak hanya diskusi sebagai jurnalis, namun juga kegiatan-kegiatan sosial lainnya,” ucap H. Endang Sudrajat, salah satu rekan almarhum ketika di media Jayantara.
Belakangan, urai Endang, ia harus mengakui bahwa almarhum adalah pribadi yang sholeh dan taat beribadah. “Ini menjadi contoh yang sangat baik bagi kami dan teman-teman yang selama ini dekat dengan almarhum,” terang Kang Endang.
Dalam pandangan warga di sekitar tempat tinggalnya di kampung Cibarengkok Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Kang Hapid Khoiri, dikenal cukup hangat. Sosoknya dekat dengan tetangga, maklum bapak dari dua anak itu termasuk yang dituakan dan kerap dimintai wejangan warga sekitar.
Bagi penulis sendiri, sosok Kang Hapid dianggap pemberi motivasi. Ia selalu menyemangati penulis untuk terus berkarya, “Ulah ceehan, engke ge Aya hasilna, da moal ujug ujug genah,” pesan almarhum suatu ketika.
Kerumunan warga tampak tumpah ruah di halaman rumah jurnalis yang juga dikenal humoris tersebut. Warga saling bahu membahu, termasuk dalam menyediakan kelengkapan yang akan membawa Kang Hapid pulang ke petistirahatan terahirnya.
Rintik gerimis turun ke bumi ketika keranda membawa jenazah sahabat kami bergerak menuju peristirahatan terakhir di Pemakaman umum di Kampungnya.
Selamat jalan sahabat…






