LINGKARPENA.ID | Paska bencana hydrometereologi yang menerjang Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Ciemas termasuk titik lokasi terparah. Tidak hanya rumah, fasilitas umum, perkantoran dan pertokoan turut terdampak. Tetapi tidak sedikit pula pusat layanan kesehatan yang terpaksa harus tutup karena dampak banjir besar itu.
Kondisi tak biasa ini ternyata tidak menyurutkan tekad para tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Ciemas untuk tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan. Jika lazimnya pelayanan kesehatan dilakukan di polindes, puskesmas, atau rumah sakit, kini pelayanan kesehatan dilakukan di tempat-tempat pengungsian.
Para nakes harus berjuang, menyambangi warga yang terdampak banjir di tempat-tempat pengungsian atau rumah warga yang terendam banjir. Seperti yang dilakukan oleh tim Nakes Puskesmas Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

Dibawah komando Kepala Puskesmas Ciemas, Hj. Linda, tim Nakes harus berjuang dengan segala cara untuk mendatangi setiap lokasi pengungsian di daerah banjir. Maklum saja, banjir yang melanda Kecamatan Ciemas menyebabkan akses darat terputus. Perahu atau sampan menjadi satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan.
“Kami memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak dengan membuat posko kesehatan di Puskesmas induk dan dua posko mobile untuk menjangkau wilayah terdampak dari dua kedusunan dan 11 RT di Deesa Ciemas,” ujar Hj. Linda
Diungkapkannya, dalam tanggap darurat bencana Puskesmas Ciemas menjadi tempat pengungsian untuk warga terdampak sejak bencana menerjang wilayah Kecamatan Ciemas. Untuk memberikan pelayanan seluruh tenaga kesehatan (Nakes) Puskesmas Ciemas Dijadwal untuk piket 24 jam.
“Seluruh nakes yang ada di puskesmas Ciemas di jadwalkan untuk piket 24 jam setiap hari, untuk melaksanakan jaga posko dan mobile pelayanan,” tandas Hj. Linda.

Sejak awal bencana, Rabu, 4 Desember 2024 hingga Senin, 26 Desember 2024, sebagian warga terdampak, bila curah hujan tinggi, kata Hj. Linda, dilakukan dievakuasi ke Puskesmas Ciemas, untuk mengantisipasi hal buruk terjadi.
Saat disinggung soal keluhan warga terdampak, kata Hj. Linda, umumnya warga mengeluhkan gatal gatal, Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) Mylagia dan keluhan lainnya.
“Hasil pemeriksaan umumnya warga mengeluhkan gatal gatal, ISPA, dan Mylagia. Alhamdulilah dapat teratasi, dan Insya Allah semoga kami bisa terus melayani .asyarakat dengan baik dan profesional,” tutupnya






