LINGKARPENA.ID | Di balik dinding rapuh sebuah rumah sederhana di Kampung Pasirmuncang RT 005/002, Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, tersimpan kisah pilu seorang gadis muda bernama Sri Apriliani (22). Ceritanya mendadak viral di media sosial, menggugah empati publik atas kondisi tempat tinggal yang dinilai tak layak huni.
Namun di tengah simpati yang mengalir, pemerintah setempat meluruskan sejumlah informasi yang beredar, sekaligus memastikan bahwa langkah penanganan tengah dilakukan.
Camat Gegerbitung, Sri Yuliani, membenarkan bahwa Sri merupakan warganya. Namun ia menegaskan bahwa gadis tersebut tidak hidup sebatangkara seperti yang ramai diberitakan.
“Tidak benar Sri hidup sebatangkara, karena dia masih punya saudara lainnya. Ada uwaknya, juga kakaknya,” ujar Sri Yuliani kepada lingkarpena.id, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, Sri memang menempati rumah peninggalan orang tuanya seorang diri, tetapi hanya pada siang hari. Saat malam tiba, Sri tinggal bersama keluarga uwaknya.
“Jadi siang hari dia di rumah itu, tetapi malam hari tinggal di rumah uwaknya,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Buniwangi, Dadun Abdulqohar. Ia memastikan bahwa Sri masih memiliki jaringan keluarga yang selama ini turut memperhatikan kondisinya.
“Alhamdulillah Sri tidak hidup sebatangkara. Ia masih punya kakak, paman, uwak, dan neneknya. Kalau malam Sri bermalam di rumah uwaknya, pasangan suami istri Solihin dan Imas,” jelas Dadun.
Menurut Dadun, setelah kedua orang tua Sri meninggal dunia, ia sempat tinggal bersama kakaknya, Syamsun. Namun setelah kakaknya menikah dan menetap di rumah mertuanya, Sri kembali menempati rumah tersebut seorang diri pada siang hari.
“Dulu Sri tinggal bersama kakaknya. Tapi setelah kakaknya menikah dan tinggal di rumah mertua, akhirnya rumah itu ditempati Sri,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian pemerintah pun mulai menguat. Forkopimcam Gegerbitung telah berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk melakukan perbaikan rumah Sri, yang dinilai mengalami kerusakan di beberapa bagian.
“Kami sudah berkomunikasi dengan keluarga, termasuk saudaranya Syamsun, untuk merenovasi beberapa titik kerusakan. Rumahnya tidak rusak total, hanya bagian plafon dan pintu. Termasuk rencana pembuatan WC,” papar Camat Sri Yuliani.
Selain itu, Sri juga disebut telah lama menjadi prioritas penerima bantuan sosial dari pemerintah desa. Program bantuan lanjutan pun saat ini masih dalam proses pengajuan.
Tak hanya soal tempat tinggal, perhatian juga diberikan pada kondisi kesehatan Sri. Saat ini, ia tengah berada di Jakarta untuk menjalani pengobatan pada tangannya dengan biaya dari seorang dermawan.
“Alhamdulillah, barusan saya dapat kabar kalau Sri sudah ditangani medis,” pungkas Dadun.
Kisah Sri Apriliani menjadi potret nyata bahwa di balik viralnya sebuah cerita, seringkali terdapat sisi lain yang perlu diluruskan. Di saat yang sama, peristiwa ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kehadiran negara dan lingkungan sekitar dalam memastikan setiap warganya tetap mendapat perhatian dan perlindungan.
Di rumah sederhana itu, harapan perlahan mulai dibangun kembali—bukan hanya dari tembok yang akan diperbaiki, tetapi juga dari kepedulian yang kini datang menyapa.






