Jelang Revalidasi UNESCO, Sukabumi Kebut Penguatan Geopark Ciletuh

LINGKARPENA.ID | Pemerintah Kabupaten Sukabumi bersiap menghadapi revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGGp) untuk kawasan Ciletuh-Palabuhanratu. Rapat koordinasi digelar di Geopark Information Center (GIC), Palabuhanratu, Selasa (24/6/2025), untuk memperkuat tata kelola amenitas dan aksesibilitas pariwisata.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, mengatakan status UGGp adalah kebanggaan masyarakat Sukabumi. Kawasan ini ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 2015, lalu diakui UNESCO sebagai UGGp pada 2018, dan sukses mendapatkan green card dalam revalidasi pertama pada 2022.

“Status ini harus diperbarui setiap empat tahun. Tahun ini, revalidasi akan dilaksanakan pada 30 Juni sampai 4 Juli 2025,” ujar Ade.

Baca juga:  Korban Kecelakaan Ditolong Kapolres Sukabumi, Begini Kronologisnya 

Ade menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga status internasional tersebut. “Forum ini harus jadi momentum memperkuat sinergi. Partisipasi semua pihak sangat penting, termasuk dalam pengelolaan amenitas dan aksesibilitas,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menyebut revalidasi bukan hanya soal mempertahankan status, tapi menjadi strategi memperkuat posisi Geopark Ciletuh sebagai destinasi unggulan.

“Ini momen penting untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya menjaga alam dan budaya, tapi juga memberikan manfaat langsung ke masyarakat lewat pariwisata berkelanjutan,” ujar Sendi.

Baca juga:  Polres Sukabumi Tangkap 5 Tersangka TPPO, Korbannya Anak Dibawah Umur

Sendi menambahkan, sejak diakui UNESCO pada 2018, kawasan ini mengalami kemajuan di berbagai bidang, mulai dari konservasi hingga edukasi wisata geologi. Namun tantangan ke depan makin besar.

“Revalidasi ini jadi ukuran nyata seberapa besar pengaruh geopark terhadap pembangunan daerah. Ini bukan cuma soal reputasi, tapi juga masa depan pariwisata Sukabumi,” tegasnya.

Turut hadir dalam forum tersebut, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah I Kemenparekraf, Bambang Cahyo Murdoko, yang menyoroti pentingnya penguatan fasilitas dasar pariwisata.

Baca juga:  FDMI STAI Al-Masturiyah Gelar Safari Dakwah

“Kalau mau pertahankan status UNESCO, kita harus terus berbenah. Amenitas dan aksesibilitas jadi fondasi layanan wisata,” ujar Bambang.

Menurutnya, tantangan ke depan tidak hanya sebatas memenuhi rekomendasi UNESCO, tapi juga membangun destinasi wisata yang tangguh, inklusif, dan berdampak pada ekonomi masyarakat lokal.

“Forum ini harus menghasilkan langkah konkret untuk memajukan Geopark Ciletuh. Ini bukan hanya soal branding, tapi dampaknya ke masyarakat,” tandasnya.

Reporter : Rijal
Redaktur : Redaksi

Pos terkait