LINGKARPENA.ID | Siapa yang tidak kenal dengan Ranginang Tarasi? Camilan tradisional asal Pajampangan, Sukabumi Selatan ini memiliki cita rasa unik dan aroma khas dari campuran terasi yang membuatnya berbeda dari rengginang pada umumnya.
Terbuat dari bahan sederhana seperti beras ketan, terasi, dan bumbu penyedap, Ranginang Tarasi (Rengginang Terasi) menjadi salah satu kuliner khas yang masih bertahan di tengah gempuran makanan modern.
Kudapan gurih ini mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional wilayah Pajampangan, maupun di gerai oleh-oleh dan warung sekitar terminal.
Menurut Elah, pemilik warung oleh-oleh di Kecamatan Surade, Ranginang Tarasi merupakan makanan wajib dalam berbagai acara adat dan keagamaan.
“Kalau di Pajampangan, setiap hajatan atau selamatan pasti ada Ranginang Tarasi. Begitu juga saat Lebaran, masyarakat selalu menyiapkannya di rumah,” ujar Elah.
Elah menuturkan, harga Ranginang Tarasi bervariasi tergantung ukuran. Untuk ukuran kecil dijual seharga Rp750 per buah, sedangkan ukuran besar Rp1.000 per buah. Harga tersebut masih untuk versi mentah yang belum digoreng.
“Kalau menjelang Lebaran, penjualan bisa meningkat sampai tiga kali lipat dibanding hari biasa,” tambahnya.
Bagi yang ingin mencoba membuat sendiri, proses pembuatan Ranginang Tarasi cukup mudah. Beras ketan terlebih dahulu direndam selama 30 menit, kemudian dikukus hingga setengah matang.
Setelah itu, ketan direbus dengan campuran air, garam, bawang putih, dan terasi bakar hingga air menyusut. Selanjutnya, ketan dikukus kembali sampai matang, lalu dicetak sesuai selera, bisa bulat, kotak, atau segitiga.
Ranginang yang sudah dicetak kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Setelah kering, barulah digoreng hingga berwarna kuning kecokelatan dan siap disajikan.
Dengan rasa gurih dan aroma khas terasi yang menggoda, Ranginang Tarasi tak hanya menjadi camilan favorit warga Pajampangan, tapi juga oleh-oleh khas yang mulai dilirik wisatawan yang berkunjung ke Sukabumi Selatan.






