LINGKARPENA.ID | Pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) SMAN 1 Cibitung yang berlokasi di Kampung Kubang–Pasirgede, Desa Cibitung, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Harapan yang semula tumbuh untuk hadirnya sekolah negeri baru di wilayah tersebut, perlahan berubah menjadi kekhawatiran.
Pasalnya, proyek pembangunan yang semestinya segera rampung itu mendadak terhenti, meski bangunan belum sepenuhnya selesai.
Pantauan lingkarpena. id di lokasi pembangunan pada Jumat ( 13/2/2026), suasana proyek terlihat lengang. Tidak tampak pekerja maupun aktivitas konstruksi. Area pembangunan seolah ditinggalkan begitu saja, menyisakan bangunan yang berdiri setengah jadi.
Di bagian depan proyek, papan informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat masih terpasang, seolah menjadi penanda bahwa proyek tersebut pernah berjalan.
Dalam papan tersebut tertulis kegiatan: Pengelolaan Pendidikan Sekolah Menengah Atas, dengan pekerjaan Pembangunan Unit Sekolah Baru SMAN 1 Cibitung Kecamatan Cibitung Kabupaten Sukabumi.
Tercatat pula Addendum Surat Perjanjian bernomor 7295/KU.11.08/PSMA tertanggal 11 Desember 2025, dengan nilai kontrak mencapai Rp6.586.161.600 dari tahun anggaran 2025. Proyek tersebut memiliki waktu kerja 50 hari kalender, dikerjakan oleh penyedia jasa CV Putra Putri Mandiri.
Namun kini, pembangunan itu berhenti sebelum garis akhir. Dan informasi beredar bahwa aktivitas pembangunan sudah terhenti sejak dua minggu terakhir. Bahkan, kabar lain menyebut kontrak proyek tersebut telah diputus.
Menurut Kepala Desa Cibitung, Iji Pahrudin, ia menerima informasi dari pihak penyedia jasa menyebut kendala utama berasal dari persoalan keuangan.
Selain itu, terdapat persoalan lain di lapangan, yakni pembayaran material yang belum terselesaikan kepada pengusaha lokal.
“Informasinya kendala keuangan. Belum ada pencairan dana lanjutan dari provinsi sesuai tahapan progres. Di lapangan juga ada pembayaran material ke pengusaha lokal yang belum beres,” ungkapnya kepada wartawan.
Jika melihat kondisi fisik bangunan, pekerjaan memang belum selesai sepenuhnya. Beberapa bagian masih membutuhkan penyelesaian, seperti pemasangan keramik, pengecatan, instalasi listrik, hingga pengerjaan satu lokal bangunan yang masih pada tahap cut and fill.
Bangunan yang belum rampung itu kini berdiri seperti kerangka harapan yang tertunda. Bagi sebagian warga, bangunan tersebut bukan sekadar proyek, tetapi simbol masa depan pendidikan anak-anak mereka.
Terhentinya pembangunan SMAN 1 Cibitung membuat banyak warga resah. Terutama para orang tua yang menargetkan anaknya masuk SMA pada tahun 2027. Salah satunya Deden (42), warga Desa Cibitung, yang mengaku sangat berharap sekolah baru tersebut segera beroperasi.
Anaknya kini duduk di kelas 2 SMP dan akan melanjutkan ke jenjang SMA pada tahun 2027.
“Saya sudah berharap besar SMAN 1 Cibitung ini bisa dipakai. Anak saya tahun 2027 lulus SMP. Kalau sekolah ini tidak jadi, kami bingung harus cari SMA ke mana,” ujar Deden saat ditemui di sekitar lokasi pembangunan.
Ia mengatakan selama ini masyarakat Cibitung masih bergantung pada sekolah SMA di kecamatan lain yang jaraknya cukup jauh. Selain menambah biaya transportasi, jarak tersebut juga membuat orang tua khawatir soal keselamatan anak-anak mereka.
“Kalau harus sekolah jauh, ongkos makin besar. Belum lagi risiko di jalan. Kami di sini butuh SMA negeri sendiri, supaya anak-anak tidak harus keluar daerah,” katanya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, yang juga berencana menyekolahkan anaknya pada tahun 2027.
Menurutnya, pembangunan sekolah ini sudah lama dinantikan masyarakat. Ia menyebut proyek tersebut sempat membawa kebahagiaan karena dianggap menjadi jawaban atas kebutuhan pendidikan di wilayah selatan Sukabumi.
“Waktu pertama dibangun kami senang, akhirnya ada SMA negeri di sini. Tapi sekarang malah berhenti, padahal tinggal sedikit lagi. Kasihan anak-anak kami,” ujarnya.
Warga berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera turun tangan dan memastikan pembangunan dapat dilanjutkan.
“Kalau bisa jangan sampai mangkrak. Anak saya tahun 2027 mau masuk SMA. Jangan sampai harapan warga cuma jadi bangunan kosong,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat terkait alasan penghentian proyek maupun kelanjutan pembangunan sekolah tersebut.
Warga berharap pembangunan SMAN 1 Cibitung dapat segera dilanjutkan agar bangunan yang sudah berdiri tidak menjadi proyek terbengkalai. Lebih dari itu, mereka berharap sekolah tersebut benar-benar bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, sesuai tujuan awal pembangunan.
Di tengah sunyinya proyek itu, masyarakat Cibitung masih menunggu. Menunggu kabar baik. Menunggu keputusan. Dan menunggu masa depan pendidikan anak-anak mereka tidak ikut terhenti bersama proyek yang mangkrak.






