LINGKARPENA.ID | Gemericik air yang biasanya membawa kesejukan di Pemandian Alam Leuwi Kopo, Kampung Gandawati, Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung, mendadak berubah menjadi duka. Minggu (17/05), suasana yang kerap dipenuhi tawa anak-anak itu terselimuti kesedihan setelah seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun dilaporkan tenggelam dan meninggal dunia.
Korban diketahui bernama M. Andika Pratama, warga Kampung Cimanggu RT 04/07, Desa Kademangan, Kecamatan Surade. Kejadian memilukan ini kembali mengingatkan warga akan potensi bahaya yang tersembunyi di balik keindahan pemandian alami tersebut.
Menurut keterangan Kepala Desa Cidahu, Wahyu Hidayat, lokasi pemandian Leuwi Kopo merupakan aliran sungai yang menjadi batas alami antara Desa Kademangan, Kecamatan Surade, dengan Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung.
“Pemandian Leuwi Kopo itu sebenarnya aliran sungai. Warga biasa datang ke sana saat musim kemarau. Tapi kalau musim hujan, arusnya deras dan sangat membahayakan,” ujar Wahyu.
Ia menuturkan, sejak lama kawasan tersebut memang dikenal sebagai tempat favorit warga untuk berenang dan berlibur sederhana bersama keluarga. Bahkan, sebelum menjabat sebagai kepala desa, Wahyu mengaku pernah ikut mengelola kawasan tersebut bersama para pemuda setempat.
“Dulu sebelum saya menjadi kepala desa, saya dan pemuda lainnya ikut mengelola pemandian itu. Alhamdulillah waktu itu aman-aman saja,” kenangnya.
Namun, kondisi itu berubah sejak bencana banjir menerjang kawasan tersebut sekitar tahun 2021. Fasilitas penunjang seperti jembatan, jamban, hingga sarana lainnya rusak dan hanyut terbawa arus, membuat pengelolaan pemandian terhenti.
“Setelah banjir itu, fasilitas yang ada habis tersapu. Akhirnya tidak dikelola lagi sampai sekarang,” jelasnya.
Kini, tanpa pengelolaan dan pengawasan yang memadai, Pemandian Leuwi Kopo tetap menjadi magnet bagi warga, terutama saat musim kemarau. Namun di balik daya tariknya, tersimpan risiko yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan, terutama bagi anak-anak.
Peristiwa ini pun menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan pemerintah setempat untuk kembali memperhatikan aspek keselamatan di destinasi wisata alam yang belum terkelola secara optimal.
Di tengah suara alam yang menenangkan, tragedi ini meninggalkan pesan yang tak boleh diabaikan: keindahan alam selalu berjalan berdampingan dengan potensi bahaya.






