LINGKARPENA.ID | Deretan bangunan sekolah di Kabupaten Sukabumi masih menyimpan cerita yang tak selalu ramah bagi proses belajar. Dinding retak, atap bocor, hingga ruang kelas yang tak lagi layak pakai menjadi pemandangan yang dihadapi sebagian siswa setiap hari. Di balik semangat belajar yang tak surut, kondisi infrastruktur pendidikan menjadi pekerjaan rumah besar yang kini tengah dipetakan secara serius oleh pemerintah daerah.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, kondisi ruang kelas pada jenjang sekolah dasar negeri (SDN) menunjukkan angka kerusakan yang cukup signifikan. Sebanyak 2.517 ruang kelas mengalami rusak ringan, 2.969 rusak sedang, dan 952 lainnya masuk kategori rusak berat. Sementara ruang kelas yang masih dalam kondisi baik tercatat sebanyak 1.977 ruangan.
Kondisi serupa juga terlihat pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Tercatat 913 ruang kelas mengalami rusak ringan, 933 rusak sedang, dan 162 rusak berat. Adapun ruang kelas yang masih dalam kondisi baik berjumlah 1.228 ruangan.
Meski demikian, upaya penanganan terus dilakukan. Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pendidikan telah melakukan pemetaan prioritas terhadap sekolah-sekolah yang membutuhkan penanganan segera.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun skala prioritas berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan mendesak di lapangan.
“Hari ini sebetulnya kita sudah melakukan proses perengkingan dari sekolah-sekolah yang harus dibantu, kemudian direnovasi atau bahkan dibangun kembali. Semua sudah kita petakan,” ujarnya kepada lingkar pena. id di sela acara pelantikan Kwaran di Ciracap, Jumat ( 24/4/2026 )
Ia menambahkan, sumber pembiayaan perbaikan akan berasal dari dua jalur, yakni Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta bantuan pemerintah pusat melalui program revitalisasi pendidikan.
“Programnya bisa dari dua sumber, yaitu APBD atau bantuan presiden melalui program revitalisasi. Jadi semuanya insya Allah sudah tercatat dan menjadi prioritas,” lanjutnya.
Namun demikian, Deden mengakui bahwa realisasi perbaikan sangat bergantung pada kemampuan keuangan daerah. Oleh karena itu, pelaksanaan pembangunan akan dilakukan secara bertahap, dengan mendahulukan kondisi yang paling membutuhkan penanganan.
“Tinggal nanti bagaimana kemampuan keuangan dalam proses pembangunan kembali, baik itu yang rusak berat maupun rehabilitasi untuk yang lainnya,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, harapan tetap tumbuh di ruang-ruang kelas yang menunggu perbaikan. Bagi para siswa, sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat mereka merajut masa depan. Dan bagi pemerintah, memastikan setiap ruang kelas layak digunakan adalah investasi penting bagi generasi yang akan datang.






